SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 062


“Ini!” Jack memberikan secarik kertas berisi alamat para sandera kepada Igor. “Hafalkan dengan benar. Aku akan langsung membakar kertas itu begitu kau menghafalnya.”


“Nest Hill, Jalan 50, Blok 3g nomor 3.” Igor membaca tulisan itu dengan lancang agar Roy dapat mendengar dengan jelas dan segera melaporkan tempat itu ke polisi.


“Beberapa anak buahku telah berada disana. Kau bisa melihat semua barangku dan mengambil apa yang telah kau pesan kemarin. Anak buahku akan menemaimu untuk mengambil itu. Kau tinggal ambil, lalu pergi dari sana.


Igor mengembalikan secarik kertas itu, dan langsung membakarnya untuk menghilangkan bukti yang ada.


“Bagaimana dengan informasi kaki tangan?” tanya Igor.


“Tenang saja, aku sudah menyiapkan itu.” Jack mengambil sebuah amplop, lalu membukanya dulu.


Terdapat tiga lembar foto di dalam amplop itu. Sejenak, Jack melihat itu kembali dan berkata, “Astaga, orang ini. Sudah lama sekali aku tak melihatnya sejak meninggalnya ayahmu.”


Jack kembali memasukkan tiga lembar foto berukuran 5x6 ke dalam amplop putih.


Saat akan memberikannya, KRING!!!! Tiba-tiba ponsel Jack berbunyi. Entah siapa yang menelponnya saat itu.


“Tunggu sebentar!” Jack kembali menarik amplop sebelum Igor dapat menerimanya, saat melihat siapa yang menelepon dirinya.


“Sial! Apa lagi ini?” gumam Igor dalam hati.


Beberapa detik dia mendengarkan penelpon, raut wajah Jack langsung berubah.


“Astaga. Ternyata kau berpikir lebih depan daripada aku. Hampir saja aku membuat kesalahan.”


“Baiklah, terimakasih banyak telah memberitahuku kabar ini. Hahahahaha. Sepertinya aku berhutang budi padamu.” Jack menutup teleponya dan menatap Igor tajam.


Jack melipat amplop itu hingga kecil dan memberikannya kepada tukang pukul yang berdiri di sampingnya.


Igor tercengang. Kenapa Jack tiba-tiba melakukan hal itu? Siapakah yang menelponnya barusan? Apa dia sudah ketahuan?


“Oi, Bujang! Segera masukkan semua uang yang ada. Kita harus segera pergi dari tempat ini.” Jack memerintahkan tukang pukulnya.


“Baik, Bos!”


Igor mendengus. “Ada apa ini? Bukankah aku pantas mengerti, situasi macam apa ini?”


“Ssstt!” Jack mengangkat jari telunjuk menyuruh Igor diam. Dia mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya. Meletakkannya di atas meja.


“Biar kutanya satu hal padamu. Mana yang lebih kau sukai, gunung, atau laut? Jawablah, agar aku bisa mengubur mayat mu sesuai dengan pilihanmu.”


Igor menelan ludah panik. Dia harus segera kabur dari tempat itu.


“Hajar dia!”


Sebelum Igor berdiri, tukang pukul itu mencekik Igor, mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke rak buku yang ada.


Badan tukang pukul itu lebih tinggi 20 cm dari Igor, ditambah dengan tubuhnya yang gempal. Mudah saja baginya untuk melempar tubuh Igor ke rak buku.


Beberapa kali pukulan dan tendangan Igor dilayangkan Igor, tapi, Si Gempal masih berdiri tegap, hanya sedikit mundur selangkah karena pukulan Igor.


Igor melempar semua barang yang ada disekitarnya, meja kecil, buku, tong sampah, dan bahkan galon berisi air. Semua digunakannya untuk melempari Si Gempal yang terus berjalan mendekatinya.


Hal itu tak bisa memberi banyak peluang Igor untuk kabur dari Si Gempal.


BUK!!! BAK!!!


Igor menendang ******** Si Gempal itu dengan keras. Dia menunduk kesakitan, lalu Igor menyikut leher belakang Si Gempal dengan keras.


Kini Igor berhasil membuat Si Gempal terjatuh. Dengan lincah Igor langsung mencekik leher Si Gempal dari belakang dengan teknik Grappling.


Hanya itu yang bisa dilakukannya. Igor tak akan mampu menang jika melawan Si Gempal dengan cara adu jotos.


Jack hanya duduk santai melihat tukang pukulnya berkelahi dengan Igor. Dia sangat yakin bahwa Igor tak akan pernah bisa mengalahkan tukang pukulnya itu.


Dan benar saja. Walau Si Gempal telah jatuh dan tercekik oleh Igor, dia mampu bangkit dan balik membanting punggung Igor ke lantai.


Igor mengerang kesakitan. Punggung yang terbentur ke lantai membuatnya  sesak untuk bernafas.


Si Gempal juga beberapa kali memukul kepala Igor menggunakan tangan besarnya. Kini Igor benar-benar terkapar tak berdaya di lantai. Meringkuk di hadapan Jack.


Bibir, mulut, hidung, dan semua wajahnya telah dipenuhi dengan darah. Tak ada harapan bagi Igor untuk bangkit dan melawan Si Gempal.


Si Gempal menjambak rambut Igor, agar dia menatap Jack.


“Biarkan aku bertanya padamu. Apa yang kau dapat dengan bekerja dengan polisi?” tanya Jack. Dia membuang puntung rokok yang masih menyala ke wajah Igor.


“Siapa itu… Siapa… Darimana kau tahu… aku bekerja dengan polisi?” Igor terbata–bata.


“Dasar, Berandal. Kenapa kau melakukan hal gila ini?” Jack mendengus kesal. “Tak akan ada polisi yang akan membantumu. Kau hanya akan dikhianati oleh mereka. Apa kau bodoh?”


“Siapa itu? KATAKAN!!!” Igor berteriak. Si Gempal langsung menjambak rambutnya lebih erat lagi.


 “Menurutmu sendiri siapa? Siapa yang telah membuatmu begitu marah padaku? Temanmu? Atau polisi? Istrimu? Siapa menurutmu? Apa mungkin kaki tangan itu? Kau penasaran bukan, siapa yang menelponku tadi? Haha.


Akan tetapi, tak ada yang bisa kau lakukan. Kau harus berhasil keluar dari tempat ini jika ingin menemukan kaki tangan dan siapa yang telah membocorkan informasi itu.”


“Hei, Bujang! Ikat kedua tangannya ke lemari itu.


“Baik, Bos.”


Si Gempal mengambil beberapa macam tali untuk mengikatnya. Tali dadung ditambah dengan tali sperpat motor, lalu dikaitkannya tangan Igor ke gagang lemari.


Igor hanya bisa duduk dan tak mampu berdiri dengan tangan terikat ke atas.