SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 032


Berita besar muncul pada hari itu.


Roy merilis sebuah artikel ke publik. Menyatakan bahwa Alex memiliki kaki tangan untuk melakukan kejahatannya saat dia masih hidup.


Dia bahkan mendapatkan kabar itu karena mendatangkan saksi yang melihat kejadian, atas penculikan Elena, istri Gun beberapa tahun silam.


Saksi itu memberikan sebuah rekaman dari jejak telepon yang telah direkam kepada Roy, setelah menyimpannya sekian tahun, karena ketakutan, jika kaki tangannya akan membunuh. Rekaman yang diduga suara kaki tangan Alex


Tepat pukul 7 malam, Roy  mengadakan acara yang disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV untuk membahas itu.


Dengan kerja sama dengan kru stasiun TV dan beberapa tim dari Roy, serta semua masyarakat yang antusias dengan berita itu, akan memudahkan baginya untuk mendapatkan banyak uang dan ketenaran.


Tak hanya menyebarnya lewat internet, Roy juga menyetel rekaman itu secara langsung di stasiun TV.


Lebih dari separuh orang yang tinggal di kota itu melihat berita itu di TVnya masing-masing. Termasuk dengan Eva sendiri.


Malam itu, Eva sedang bersantai di rumah dan menonton berita. Sejenak dia beristirahat setelah seharian penuh, menyelidiki suaminya seorang diri.


“Lihat itu, Sayang. Wartawan Roy merilis video dan rekaman eksklusif,” ucap Eva sengaja menyuruh suaminya agar melihat berita TV.


Dalam siaran langsung itu, Roy mengatakan bahwa dia dan beberapa timnya sudah memiliki firasat bahwa Arthur sendirilah yang menjadi kaki tangan atas pembunuhan yang dilakukan ayahnya.


Igor tak menyangka jika Roy akan merilis berita itu. Dia tahu bahwa Roy akan melakukan apapun yang dia bisa untuk uang dan ketenarannya, tapi, itu diluar kendali Igor.


“Wah, Reporter Roy sangat handal.” Igor duduk di sebelah Eva yang menonton berita. “Dia bahkan muncul di TV. Pasti dia akan terkenal sebentar lagi.”


“Ya, kurasa begitu. Coba dengarkan, dia mengatakan bahwa pembunuhan berantai 15 tahun yang lalu memiliki kaki tangan. Dia cukup hebat. Orang-orang sangat heboh di internet maupun media sosial.


Bagaimana dia bisa membujuk saksi, hingga mendapatkan rekaman suara kaki tangan dari jejak panggilan saksi itu? Apa kau sudah mendengar suara kaki tangan itu?”


“Suara kaki tangan?” tanya Igor menekuk dahi.


“Ya. Sepertinya saksi merekam panggilan saat dia melihat kejadian itu dan menerima telepon dari kaki tangan yang juga melihatnya saat itu. Apa kau ingin mendengar?” Eva mengeluarkan ponselnya dan mencari rekaman itu di artikel.


“Astaga. Tak perlu, Sayang. Itu hanya akan membuatku muak. Boleh aku mengganti saluran TVnya?”


“Ya, tentu.” Eva tersenyum lebar. Dia melihat reaksi Igor yang mulai mencurigakan.


“Sayang, kau ada waktu besok?” tanya Eva.


“Hmm. Bagiku, besok seperti biasa. Aku membuka toko semauku dan bisa tutup kapan saja.”


“Kalau begitu, luangkan waktu siang dan sore harimu untukku. Bisa?” Eva melanjutkan rencananya kembali. Entah rencananya kali ini.


“Ya, begitulah. Anggap saja besok kita akan kencan.”


“Baiklah. Aku setuju.” Igor menyeringar lebar.


“Kalau begitu, aku akan beristirahat dulu. Kau tak boleh begadang terlalu lama. Ingat, kau baru saja pulang dari rumah sakit.”


Eva melambaikan tangannya berjalan ke kamar.


Setelah memastikan Eva masuk ke kamarnya, Igor pergi ke balkon lantai dua dan mendengarkan rekaman yang diduga suara kaki tangan Alex.


Dia menelpon Roy setelah mendengarkan rekaman itu. Dia mulai panik.


“Apa? Ada apa lagi? Kenapa?” ucap nada ketus seolah tak suka Igor menelponnya.


“Kau menyiratkan nama Arthur sebagai kaki tangan dalam berita yang kau bawakan. Apa kau gila? Apa yang sedang kau rencanakan?”


“Hahahaha. Itu adalah kecurigaan yang masuk akal. Mau bagaimana lagi?”


“Kau bisa mengganti lagi pernyataanmu itu. Jika pernyataan Arthur kecil dan saksi semuanya benar, mungkin saja kaki tangan itu adalah orang lain. Pihak ketiga.”


“Hei, Berandal! Siapa kau berani menyuruhku? Apa aku sekarang budakmu? Jika kau memang tak berkaitan, maka, kau harus dapat membuktikannya. Berhentilah menyuruhku melakukan sesuatu!” bentak Roy.


“Sadarlah dan dengarkan aku baik-baik, Roy!” Igor menghela nafas panjang menahan amarahnya karena ucapan Roy. “Aku sudah mendengarkan suara kaki tangan itu berulang kali, dan ada suara lain yang….”


“Tidak! Kau yang seharusnya mendengarkanku,” timpal Roy. “Mulai sekarang kasus ini bukan hidupmu, tapi hidupku. Kau mengerti? Aku baru saja mendapatkan banyak uang dari kasus ini.


Tak hanya itu, aku juga mendapatkan keteran dari itu. Semenjak aku merilis berita, pengikut media sosial ku bertambah ratusan ribu.”


“Terserah kau soal itu, yang pasti, aku hanya ingin membantumu.”


“Hhhh. Membantu? Apa kau sedang membuat lelucon?” Roy mendengus. “Kau tahu, saat ini kau adalah tersangka utama.”


“Dasar Brengsek! Kau harus percaya padaku.” Igor mulai kesal.


“Percaya? Kenapa aku harus percaya padamu? Apa hanya karena kau memiliki kelemahanku? Atau kau ingin mengurungku di basement mu lagi? Sudahlah. Terserah kau saja. Lakukan semaumu.


Mari bertarung secara langsung dan kita lihat, siapa yang akan memenangkan ini, dan siapa yang akan berakhir di penjara dulu. Aku sudah tak mempercayaimu lagi.”


*DUK!!!


Igor meninju dinding rumahnya setelah sambungan terputus. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, karena Roy sudah tak memperdulikannya.