
“Eva, jangan lakukan itu.” Igor menatap istrinya yang sedang mengebut.
“Apa maksudmu? Jangan melakukan apa?” Eva masih fokus menatap depan.
“Jangan mencari Arthur!”
“Kenapa?” tanya Eva ketus.
“Aku tak ingin kau mencarinya. Kau bilang, dia mungkin seorang pembunuh berantai. Bukankah itu akan berbahaya untukmu? Aku tak ingin kau berada di dalam bahaya.”
“Maka itulah aku harus menangkapnya. Aku tak bisa membiarkan orang lain yang hidup tenang, harus menderita dan ketakutan setiap mendengar rumornya yang belum ditemukan.
Aku tak bisa membiarkan orang yang berbahaya berkeliaran dan hidup bebas,” jawab Eva kekeh dengan pendiriannya.
Igor terdiam karena tak bisa membujuk Eva, walau dia sudah berusaha berulang kali.
Tepat pukul 3 dini hari. Igor dan Eva sudah saling terlelap di tempat tidur, setelah perjalanan panjang yang mereka tempuh.
Sebelum pagi tiba, Igor beranjak dari kasur dan bergegas pergi dari rumahnya, melihat istrinya yang masih terlelap.
30 menit berlalu. Igor sampai ke apartemen tempat tinggal Roy. Tanpa mengetuk atau menekan tombol lonceng, Igor langsung membuka kunci pintu dengan beberapa kawat yang dibawanya.
“Hei! Apa-apaan ini? Dasar Berandal! Kau masuk rumah orang tanpa izin. Aku bisa melaporkanmu. Apa yang kau lakukan selarut ini?”
Saat itu ternyata Roy belum juga tertidur, dia masih minum-minuman dan menonton film di televisinya. Seketika moodnya hancur karena Igor masuk begitu saja kedalam rumahnya.
“Sial! Berandal satu ini.” Roy berdiri dari kasur lantai dan menyalakan lampu ruangan.
“Kau sendiri yang menyuruhku untuk tak menelponmu. Itulah alasanku datang kemari.” Igor duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. “Astaga, sial! Eva bisa membuatku gila.”
“Apa maksudmu? Tiba-tiba saja kau kesal pada istrimu sendiri.”
“Bantu aku menemukan kakakku. Aku harus dan sangat ingin bertemu dengannya.”
“Hah? Apa? Oliv? Yang benar saja kau. Apa rencanamu kali ini?” bentak Roy.
Igor mengeluarkan memory card dari dalam saku jaketnya, meletakkannya ke atas meja. “Sebelumnya maafkan aku. Aku telah menggunakan aib dan kelemahanmu untuk mengancammu. Maafkan aku. Ambilah itu.”
Roy masih celingukan. Matanya sayup-sayup karena alkohol dalam jumlah banyak yang telah diminumnya. Dia berjalan dan mengambil memory card miliknya itu.
“Tepat! Benar, bukan? Kini saatnya kau membantuku menemukan kakakku.”
Tanpa diketahuinya, ternyata Roy telah bertemu kakak kandungnya hari kemarin.
“Sialan! Ternyata benar dugaanku.”
“Aku harus menemukan keparat sialan itu, apapun yang terjadi,” ucap Igor serius menggenggam tangannya.
“Astaga, dasar tak tahu malu. Meski berulang kali kupikirkan, kau sungguh tak tahu malu. Kau menyuruhku untuk mencari Oliv? Kenapa aku harus melakukan itu?”
Roy malah mengamuk dan tak tahu, jika Igor membicarakan sesuatu yang serius, karena dia masih terus menegak alkoholnya meskipun sudah mabuk berat
“Eva sangat ingin menangkap Arthur. Dia bahkan menyuruhku untuk menemaninya yang melakukan penyelidikan secara diam-diam.”
“Apa?” Roy kaget. “Kenapa? Kenapa tiba-tiba saja? Kenapa mendadak begini?”
“Dasar, Bodoh. Semua karena ulahmu, kau menjadikan Arthur sebagai kaki tangan pembunuh berantai dan menyebarkannya ke semua media sosial dan surat kabar.” Igor mendengus.
“Apa kau sungguh percaya, jika aku adalah kaki tangan ayahku sendiri?”
Roy menyingkar semua botol dan gelas alkoholnya, mengambil kursi kerja dan duduk serius menatap Igor.
“Jadi, kau sungguh bisa menangkap kaki tangan itu? Bagaimana caranya? Kenapa kau membutuhkan Oliv untuk menangkapnya?”
Roy langsung bersemangat saat melihat itu akan menjadi berita yang besar dan menguntungkan baginya.
“Karena kakakku pernah bertemu dengan kaki tangan itu.”
Roy tercengang mendengar perkataan Igor,.
“Jika kau membantuku, aku akan mengatakan semua hal yang kutahu padamu. Siapa tahu, dengan berita ini kau akan mendapat setumpuk dollar dan kepopuleranmu yang meningkat.
Wartawan Roy berhasil mengungkap identitas asli kaki tangan pembunuhan berantai 15 tahun silam. Bagaimana? Menarik bukan?”
Roy akhirnya setuju dan menganggukkan kepalanya. Dia mau mempertemukannya dengan Oliv.