SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 040


“Ada apa? Apa kau sedang bepergian?”


“Aku ingin bertemu dengan klien yang saat itu pernah menawarkan barang antik padaku. Apa kau ingat? Aku dulu pernah menceritakannya padamu.”


“Oh, dia ternyata. Bukankah kau saat itu sudah menolaknya?”


“Ya, kau benar. Mungkin aku akan bernegosiasi dengannya, karena dia terus menghubungiku.”


“Hmm. Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam.”


Telepon berakhir.


Eva melihat lokasi Igor dari ponselnya, dan ternyata tak sesuai dengan apa yang dikatakan olehnya.


“Kau membohongiku lagi. Kemana kau pergi kali ini,” gumam Eva, masih memantau kemana Igor pergi dari ponselnya.


***


Sore menjelang petang pun tiba.


Di sebuah jembatan gantung fly over yang sudah lama ditutup karena rusak. Beberapa gudang kosong terlihat di bawah sekitar jembatan gantung.


Gudang bekas pabrik dan industri yang telah lama bangkrut. Beberapa dindingnya mulai terlihat lumut yang menghijau, dan tong-tong berukuran besar bertumpukan di sekitar gudang.


Mobil BMW Igor berhenti tepat di depan salah satu gudang yang berada di pojok.


2 jam sebelum dia berangkat ke gudang itu, Igor mendapatkan panggilan dari Roy. Roy mengatakan bahwa sudah mengatur pertemuan dengan Oliv di gudang kosong itu, sesuai dengan kemauan Oliv untuk bertemu disana.


Setelah memarkirkan mobilnya, Igor segera masuk ke dalam gudang kosong itu.


Di sebuah bangku yang sudah lama rapuh, Oliv langsung berdiri saat melihat adik kandung-yang sudah sangat lama tak dijumpainya.


Kayu-kayu bekas, besi, dan berbagai perkakas tajam lainnya berserakan di lantai gudang.


Beberapa pintu ruangan yang sudah rusak harus dilewati untuk masuk ke dalam sana. Hanya melewati pintu, tanpa ada dinding pembatas, karena berapa dinding yang ada sudah runtuh, semenjak gudang itu tak dipakai.


Suasana lengang sejenak. Dua saudara itu saling menatap satu sama lain. Saling menghadap.


“Aku tak ingin terus mencarimu, tapi, masalah terus muncul di kehidupanku. Aku sangat membutuhkan bantuanmu, Kak.”


Oliv masih diam dan terus menatap adiknya itu.


“Kau pernah bertemu dengan seseorang saat di pemakaman ayah dulu. Apa kau mengingatnya, Kak? Orang yang memberimu….”


Belum usai ucapannya ucapannya, Oliv langsung memeluk adiknya. Dia memeluk dengan erat dan menangis di pelukan adiknya. Oliv menangis tersedu-sedu dan meneteskan air matanya pada pundak adiknya itu.


“Bagaimana kabarmu, Kak? Apa kau baik-baik saja?”


“Apa? ‘Kabarmu baik’. Pertanyaan macam apa itu?” Oliv terisak-isak dan berhenti memeluk adiknya.


“Kau seharusnya sangat membenciku, karena aku hidup dengan baik. Dasar, Bodoh! Bagaimana kau bisa menanyakan kabar padaku?”


Tangisan Oliv semakin menjadi-jadi. Dia terus memukul dada adiknya berulang kali.


“Tak apa, Kak. Itu semua sudah keputusanku. Aku akan melakukan apapun untuk keluargaku, bahkan jika harus mengorbankan nyawaku sendiri. Soal petani yang mati itu, bukan masalah besar bagiku.”


Igor memegang kedua tangan kakaknya dan balik memeluknya dengan erat.


Mereka berdua duduk berdampingan di bangku yang sudah berkarat dan mulai bercerita kehidupannya satu sama lain.


Oliv menceritakan kehidupannya setelah pindah, begitupun Igor yang menceritakan kehidupannya, sehingga dia bisa mengganti nama dari Arthur menjadi Igor.


“Lihat ini!” Igor menunjukkan foto anaknya saat dia masih kecil.


Oliv terus memandangi foto itu berulang kali, hingga membuatnya terharu dan meneteskan air matanya.


“Apa-apaan ini. Apa kau menangis lagi?”


“Tidak. Aku merasa senang. Sangat senang. Lihatlah! Anakmu tumbuh dengan baik dan tampan seperti ayahnya.” Oliv tak henti-hentinya memandangi foto Boy.


“Kak, selama ini aku hidup tanpa mengkhawatirkanmu sedikitpun. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Alasanku tiba-tiba menghubungi mu dan ingin mengajakmu bertemu juga untuk masalahku sendiri.”


“Tak apa, Arthur. Aku akan membantumu sebisaku.”


“Ayah kita mempunyai kaki tangan. Aku juga yakin bahwa kau pernah bertemu dengannya.”


“Aku? Bertemu dengan kaki tangan?” tanya Oliv bingung.


“Kau bahkan pernah berbincang dengan kaki tangan itu di pemakaman ayah.”


Oliv kembali flashback mengingat saat itu, tapi dia tak masih tak begitu yakin, jika dia adalah kaki tangan ayahnya.


Dia hanya ingat bahwa orang yang ditemuinya di pemakaman itu pernah memberikan sebuah gelang padanya, lalu Oliv memberikan gelang itu pada Arthur kecil.


“Gelang alumunium yang kau berikan padaku saat itu, sebenarnya adalah milik Elena, korban terakhir ayah yang jasadnya tak ditemukan hingga saat ini.


Istri Elena, Gun, aku pernah bertemu dengannya dan dia memberiku gelang itu, sebelum dia masuk ke dalam penjara, karena membunuh Fredrik.


Itulah kenapa Gun, suami Elena, mengira bahwa aku adalah kaki tangan dan menculikku pekan lalu. Hanya karena aku memiliki gelang itu. Ceritanya panjang dan berbelit. Aku tak bisa menceritakannya dengan jelas.”


“Beberapa hari yang lalu, seorang Detektif juga datang padaku dan menanyakan hal yang sama. Bahkan sampai saat itu, aku tak menyangka kita bisa bertemu kembali.”


Oliv kembali melihat lihat foto-foto yang ada di ponsel Igor. Matanya tertuju pada Eva, istri adiknya itu sendiri.


“Omong-omong, Arthur. Apa istrimu seorang detektif?”


“Ya, kau benar. Dia seorang polisi. Dia juga bertanggung jawab atas kasus Gun,” jawab Igor.


“Aku masih berjalan di atas es tipis sekarang. Aku tak boleh membuat kesalahan apapun. Tak apa, Kak. Aku akan memastikan, tak melakukan kesalahan apapun. Aku akan hidup sebagai Igor sampai akhir.”


“Apa kau mencintai istrimu, Arthur?”


Igor menghela nafas panjang menatap mata kakaknya.


“Entahlah. Antara cinta dan tidak. Aku bahkan tak memahami perasaan itu. Aku tak tahu seperti apa rasanya. Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk anak dan istriku.”


Oliv iba melihat adiknya itu sendiri. Dia tahu bahwa adiknya memiliki gangguan kepribadian, dan memiliki darah keturunan seorang psikopat, sehingga dia tak bisa merasakan apapun.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ternyata Eva mendengarkan semua percakapan mereka sejak awal.


Sebuah jendela gudang berada di belakang bangku, tempat Igor dan Oliv berbicara. Dari luar gedung di balik jendela itulah, Eva berdiri dan mendengarkan semua pembicaraan kakak beradik itu


Mulai dari pembicaraan soal gelang hingga perasaan Igor padanya, Eva mendengarkan itu semua.


Yang pasti kini dia tahu, suaminya bukanlah kaki tangan dari pembunuhan berantai 15 tahun silam. Eva juga tahu bahwa suaminya sedang mencari tahu siapa kaki tangan dari pembunuhan berantai yang dilakukan ayahnya sendiri.


Akan tetapi, sesuatu masih mengganjal di hati Eva. Dia masih merasa bahwa selama ini Igor telah membohonginya. Mulai dari identitas hingga perasaan cinta selama bertahun-tahun.


Perlahan Eva melangkah pergi dari gudang kosong itu dan meratapi semua kesedihannya hari itu.