SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 050


Di sebuah tempat di pinggiran kota Vladivostok. Igor memberhentikan mobilnya di pinggir gang yang cukup sempit.


Rumah rumah saling berdempetan di tiap-tiap gang sempit itu. Jalanan yang kumuh dan tak banyak orang yang berinteraksi di lingkungan itu.


Semua rumah di lingkungan itu memiliki ciri khas yang sama. Rumah dengan bangunan kolonial jaman dulu dengan beberapa patung dan lukisan seni abstrak yang ada di beberapa rumah.


Beberapa ruko besar dan toko kelontong juga terdapat di gang sempit itu. Gerobak dan tenda street food memenuhi halaman ruko yang sempit.


Terlihat juga beberapa wanita paruh baya sedang memikul barang bawaannya untuk dijual di pasar yang ada di dalam gang itu. Tak ada kemewahan sama sekali yang ditemukan disana.


Sepanjang jalan di gang itu dipenuhi dengan lubang dari aspal yang sudah rusak. Sisa air hujan masih menggenang di setiap lubang yang ada.


Tempat itu adalah tempat yang pernah dikunjungi oleh Igor dan ayahnya dulu.


Igor terus berjalan sembari memandangi sekitarnya. Mengingat tempat yang pernah didatanginya dulu.


Dia terus berjalan menyusuri beberapa perumahan dan ruko hingga ujung pertigaan gang.


Sebuah bar kecil berada di pojokan gang itu. Bar itu sama sekali tak berubah sejak kali terakhir Igor pergi kesana.


HOLLYWINGS tertulis besar di atas banner elektrik yang menyala di atas pintu masuk ke dalam bar. Lampu di dalam dan di luar bar itu menyela 24 jam nonstop.


Kesempatan bagus bagi Igor. Dia bisa leluasa untuk menggali informasi, karena saat itu masih siang hari dan hampir tak ada pengunjung sama sekali.


Igor membuka pintu bar dengan menggesernya kesamping dan melangkah masuk.


“Selamat datang, Tuan!” Seorang bartender langsung menyambut Igor dengan ramah.


Beberapa gelas sloki ditata rapi di dalam rak yang mengelilingi bar itu. Bermacam-macam minuman keras seperti Whiskey, Vodka, Iceland, Jack Daniels dan lain sebagainya terdapat di bar itu.


Berbagai jenis minuman bisa dijumpainya di tempat itu. Begitupun dengan para pelanggan yang ingin mencampur alkohol dengan koktail, mereka bisa meminta tolong pada bartender untuk membuatkan racikan itu.


Igor pun duduk di kursi depan kasir tempat bartender itu berada.


Matanya langsung tertuju pada wajah bartender, yang juga dilihatnya saat dia datang bersama ayahnya dulu.


Igor yakin bahwa suara dibalik kaki tangan itu adalah suara Si Bartender yang sedang meracik sebuah minuman dan memecahkan beberapa es batu.


Seorang pria berumur pertengahan 40 an dengan beberapa tato naga yang memenuhi tangannya.


Tak ada yang berubah sama sekali dengan pria itu semenjak Igor terakhir kali melihatnya, hanya beberapa rambut yang mulai beruban dan kulitnya yang mulai sedikit keriput.


Pria itu menata beberapa botol agar terlihat rapi dan sesekali mengelapnya menggunakan kain yang bersih. Igor yakin bahwa bartender itu memiliki keterkaitan dengan ayahnya ataupun kaki tangan ayahnya.


“Wah, tempat ini belum berubah sama sekali.” Igor duduk di kursi tepat di meja bartender itu berdiri.


“Ya, begitulah. Sepertinya kau pernah kesini sebelumnya,” ucap Si Bartender.


“Ya, kau benar. Aku datang kemari bersama ayahku saat aku masih muda, dan tak ada sedikitpun dari tempat ini yang berubah sejak itu.”


Bartender tersenyum dan, “Kau mau minum apa?”


“Apapun yang kau rekomendasikan untukku, aku akan meminumnya. Dengan es batu yang cukup.”


“Baiklah.”


Bartender itu mulai menunjukkan keterampilannya. Satu botol Vodka dan satu botol koktail anggur dicampur ke dalam gelas yang berisi beberapa potong es batu.


“Oke, terimakasih.” Igor mengambil minuman itu dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.


“Ketika aku datang dengan ayahku, saat itu aku masih beranjak 20 tahunan. Aku melihatmu memahat es batu dengan tanganmu sendiri. Kau pasti sudah sangat lihai membuat minuman semacam ini.


“Pelanggan khusus?” tanya Igor penasaran.


“Ya, begitulah. Lebih tepatnya seperti pelanggan tetap di bar ini.”


“Kalau begitu, orang yang sedang kucari pasti pelanggan khusus juga.”


Bartender terdiam mematung mendengar perkataan Igor. Masih tak mengerti.


Igor mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman kaki tangan yang pastinya berada di bar itu.


“Bisakah kau beritahu siapa orang ini?”


“Tidak. Aku sama sekali tidak tahu.” Si Bartender hanya tersenyum dan mengelap gelas-gelas di hadapannya.


Igor mematikan rekaman itu dan memasukkan ponselnya kembali. “Bisakah kau menghubungiku, jika kau mengingat siapa orang ini?”


“Tentu.” Bartender mengambil sebuah pena dan kertas. “Tuliskan nomormu disini.”


Mata Igor tertuju pada pena antik yang diberikan oleh Bartender itu. Dia sangat yakin bahwa pena antik itu pasti diberikan oleh ayahnya, karena Igor juga memiliki pena yang sama persis.


Sejenak dia memandangi semua ukiran pena antik dan mengingat, bahwa ayahnya dulu yang pernah memberikan pena itu padanya, dan mengukirnya sebelum diterimanya.


Beberapa detik berlalu, kedua pria dewasa itu saling menatap satu sama lain. Penuh pertanyaan dari masing-masing kepala.


“Apa kau tak benar-benar mengenal suara orang tadi?” Igor tak jadi menuliskan nomor dan mengulangi pertanyaannya. “Lantas, bagaimana dengan Alex? Apa kau juga tak mengenalnya?”


“Tidak. Aku sungguh tidak tahu.” Bartender tersenyum meringis memalingkan wajahnya. Dia berbalik berpura-pura menata botol yang sudah rapi.


BRAK!! WHUS!!


Dengan tangan kirinya, Igor melompat melewati meja bar setinggi dada, berdiri tepat di depan bartender yang terkejut.


Igor mengacungkan pena antik yagn tajam pada bartender.


“Kau punya salah satu barang antik yang dimiliki ayahku, bagaimana bisa kauk tak mengenalnya? Kau juga mengkategorikannya sebagai pelanggan khusus. Kau masih tak mengenalnya?”


“Aku tak tahu apa-apa.” Bartender melangkah mundur ketakutan, masih tak mau berkata sejujurnya.


“Kalau begitu, katakanlah. Siapa pelakunya? Apa itu kau sendiri? Apa kau sungguh bartender biasa?” Igor mengacungkan ujung pena tajam ke leher bartender.


Si Bartender ketakutan, kini dia sudah terpojok di tempak rak sendok dan alat pengaduk, tak bisa melangkah mundur lagi.


Tangan kirinya berusaha meraih pisau yang ada di rak belakang. Setelah pisau berada di genggamannya, dia menyerang Igor dengan pisaut itu.


*WUTT!!


Igor mundur dan menghindari pisau itu dengan cepat, lalu memberikan serangan balik.


BUK!! PYARRR!!! Igor meninju wajah bartender dan memukulkan gelas sloki ke jidatnya. Pelipisnya sobek dan mengeluarkan banyak dari jidatnya.


Igor menarik tangan bartender ke meja bar dan,


JLEB!!


“ARRGGGGHHH!!!” Bartender berteriak histeris ketakutan. Pisau itu hampir menembus tangan kiri bartender.


Igor sengaja tak menusuk dan mengelakkan pisau itu ke sela-sela jari tangan bartender, hanya menggores sedikit kulit jarinya.