SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 048


Eve meletakkan ponselnya di atas meja dan memutar suara rekaman yang sudah dianalisa.


Suara dari kaki tangan telah tak terdengar sepenuhnya. Hanya ada beberapa suara benda dipukul dan suara seorang pria yang sedang berbicara di sekitar kaki tangan berada.


Bir.. Anda ingin bir… Suara terdengar samar-samar.


“Apa kau bisa tahu? Suara apa dan dimana?” tanya Eva.


Setelah memikirkan kembali, Igor akhirnya mengingat tempat itu. Tempat itu berada di sebuah bar alkohol dan koktail yang saat itu pernah didatanginya bersama Alex.


Akan tetapi, saat itu dia masih muda. Dia sama sekali cuek dan tak peduli dengan hal yang ditemuinya saat itu. Dia hanya mengingat lokasi bar itu berada.


Dan suara pria itu adalah suara bartender yang sedang meracik minuman alkohol dicampur dengan koktail, yang menimbulkan suara es batu yang bertabrakan dengan gelas dan sendok besi.


Lama Igor berpikir dan mengingat tempat itu. Dia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.


“Sayang, kenapa kau tiba-tiba berdiri? Kau seperti terkejut dan mengingat sesuatu.”


“Tidak. Bukan apa-apa.” Igor meringis dan segera membereskan semua barang di atap rumahnya.


15 menit berlalu, semua barang-barang telah dibersihkan dan ditata dengan rapi.


Tali pita hias warna-warni, lampu kelap-kelip, tulisan hias dari balon kembali dihilangkan dari atap itu.


Sampah-sampah botol dan snack makanan ringan telah berada di tempat sampah.


Hanya tersisa piring dan beberapa gelas yang kotor yang akan dicuci oleh Igor dan Eva.


Igor mencuci beberapa piring yang kotor di wastafel, sedangkan Eva mengelap piring dan gelas yang sudah dicuci, meletakkannya kembali ke rak piring.


Sedari tadi Eva hanya melamun dan terus cemberut saat membantu suaminya mengelap beberapa piring dan gelas.


“Sepertinya, kau sudah memaksakan tawamu hari ini,” ucap Igor sembari mencuci beberapa piring yang masih tersisa. “Bicaralah. Apa yang sudah terjadi?”


Eva hanya menggeleng tanpa menjawab.


“Kenapa kau begitu? Sejak di atap tadi, kau hanya diam dan tertawa kecil dengan terpaksa.”


“Mungkin saja, hatiku padamu sudah berubah.”


Igor terdiam sejenak. Mematikan kran air dan meletakkan piring kotor yang dibawanya. Bingung dengan perkataan istrinya. “Apa maksudmu, Sayang?”


“Kita sudah bersama selama 10 tahun lebih, bahkan sebelum kita berpacaran, kita pernah tinggal bersama beberapa kali. Perasaanku padamu mungkin tak akan sama seperti dulu.”


“Ada apa denganmu? Bagaimana kau bisa tiba-tiba begitu?”


“Lantas, bagaimana denganmu sendiri?” Eva menatap Igor dingin. “Apa hatimu masih tetap sama padaku?” Lagi-lagi Eva teringat bahwa Igor telah membohonginya selama bertahun-tahun.


Mungkin tak ada wanita lain di dunia ini yang bisa bersabar setelah dibohongi oleh pasangannya sendiri selama bertahun-tahun, begitupun dengan Eva.


“Tentu saja. Hatiku masih tetap sama.”


“Benarkah?” Eva mendengus. “Mungkin itu menurutmu saja.” Eva meletakkan beberapa piring yang telah kering ke dalam rak.


“Sudahlah, Sayang. Sepertinya kau terlalu stress dengan pekerjaanmu. Pikiranmu selalu terfosir dan tak pernah tidur cukup, ditambah lagi tak ada kemajuan dengan kasus yang sedang kau selidiki.”


“Belakangan ini, aku terus membayangkan-bagaimana aku akan hidup jika kita bercerai.”


“Eva, kau tak boleh berkata seperti itu.” Igor menatap Eva membiarkan kran air yang menyala.


“Jangan pernah bicara seolah-olah kau tahu segalanya tentangku,” tegas Eva. “Akulah yang paling tahu tentang diriku sendiri, bukan kau. Apa ada alasan aku menyukaimu?


Sepertinya tidak. Tidak ada alasan bagiku untuk menyukaimu. Jadi, tak ada alasan dibalik kenapa aku jatuh cinta padamu, karena kau pun juga seperti itu. Aku sangat membencimu.


Aku menyesali perbuatanku dulu. Saat kita pacaran, akulah yang selalu mencoba untuk mendekatimu dengan semua sikap dinginmu padaku saat itu.


Aku tak pernah berhenti ataupun lelah saat mengejarmu, tapi kau hanya mengabaikanku saat itu. Entah apa yang merasukimu, hingga kau akhirnya menerima cintaku saat itu.


Aku sangat membencimu. Dari angka satu sampai sepuluh, tak ada satupun hal yang kusukai darimu. Aku benci melihatmu saat kau berusaha keras untuk menyenangkanku setelah apa yang kau perbuat padaku.”


Mata Eva berkaca-kaca penuh emosional. Begitupun dengan Igor yang sangat terkejut dengan perkataan istrinya.


“Kenapa kau berkata seperti itu, Sayang? Apa alasannya?”


“Kurasa, aku membencimu karena kini aku tak mencintaimu lagi.” Menetes air mata Eva ke pipinya.


“Kau bilang kau membenciku, tapi kenapa kau menangis?”


“Karena aku membenci kenyataan bahwa aku tak bisa menemukan cara lain untuk menjelaskannya padamu.”


Eva belum siap sama sekali untuk mengatakan bahwa dia sudah mengetahui identitas asli suaminya itu.


“Aku.. Aku tak mengerti maksudmu. Aku sama sekali tak bisa memahaminya,” ucap Igor memelas menatap Eva.


“Kau tak perlu memahaminya. Intinya, aku ingin berpisah denganmu. Mari kita bercerai saja.” Eva memalingkan wajahnya. “Aku tak suka melihatmu tidur di sampingku dan aku muak melihat saat kau makan, dan semua hal yang kau lakukan di rumah ini. Aku muak dengan semua itu.”


“Eva! Apa yang harus kulakukan? Katakanlah, aku harus berbuat apa? Jika kau beritahu aku, aku akan memperbaiki semuanya agar kau tak muak. Aku akan berusaha untuk membuatmu tidak muak denganku.”


Igor memohon dengan sungguh. Dia sangat ketakutan jika Eva ingin benar-benar berpisah dengannya, terlepas dari dia adalah seorang anak dari pembunuh berantai. Igor benar-benar mencintai istrinya.


“Tak perlu. Kau tak perlu melakukan apapun. Jangan lakukan sesuatu. Itulah yang kuinginkan.” Eva pun berjalan pergi dari dapur meninggalkan Igor.


Tak ingin menyerah, Igor melepas sarung tangannya dan meninggalkan semua piring kotor yang masih tersisa mengejar Eva.


Di kamarnya, Eva mengambil bantal dan selimut serta beberapa berkas yang sedang diselidikinya.


Dia ingin tidur di sofa sembari membaca dan memahami berkas-berkas itu lebih dalam.


“Eva, dengarkan aku!” Igor menahan tangan Eva yang akan pergi dari kamar.


“Lepaskan aku. Aku harus membaca ini semua. Mari kita bicarakan nanti saja.”


“Apa itu sangat penting bagimu? Apa itu lebih penting dari hubungan kita saat ini?”


Eva mendengus. “Tahukah kau apa yang kulakukan sesudah mulai bekerja? Pikiranku selalu terbayang-bayang melihat korban Alex dan keluarga yang ditinggalkannya.


Apa kau tahu, bagaimana perasaanku setiap aku mengingat dan melihat mereka di foto? Aku selalu dihantui rasa bersalah. Rasa bersalah itu menggerogoti hatiku hingga hancur berkeping keping.”


“Kenapa? Kenapa kau merasa seperti itu? Kau tak melakukan kesalahan apapun. Itu semua bukan salahmu.”