SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 029


Igor terdiam seribu bahasa melihat istrinya yang uring-uringan. Tak tahu apa yang harus dia lakukan.


Kembali terbesit di dalam benaknya, apakah istriku sudah mengetahui semuanya?


“Tapi disisi lain, bagaimana….. Bagaimana kau bisa setega ini? BAGAIMANA BISA?” bentak Eva menangis meronta-ronta.


“Sebaiknya, aku pergi saja.”


Igor menahan tangan Eva sebelum dia pergi. Ikut berdiri. “Eva! Mari kita bicarakan ini.”


“Bicara apa? Apa yang kau ingin bicarakan? Soal apa?”


“Apapun itu. Semuanya. Mari kita bicarakan semuanya. Kau bisa membicarakan apapun padaku. Aku hanya perlu duduk dan mendengarkanmu. Aku…”


“Lupakan saja! Mungkin nanti. Tiba-tiba aku sangat lelah. Aku ingin tidur nyenyak malam ini, seperti yang kau katakan.”


Eva melepas tangannya dari tangan Igor, lalu pergi dari ruang rawat Igor. Dia berlari menuju ke toilet wanita yang ada.


Dia menangis sejadi-jadinya di dalam toilet duduk yang kosong. Dia merasa telah tertipu, tapi, tak bisa membuktikan dan tak siap membicarakan itu.


Tiga hari saat Igor masih tak sadarkan diri.


Saat itu Eva masih menunggu dan duduk tertidur di kursi, sebelah ranjang Igor.


Dia tiba-tiba terbangun saat Igor bermimpi. Dia menyebut nama kakaknya, Oliv, dan bahkan menyebut dirinya sendiri akan hidup sebagai Igor, bukanlah Arthur.


Hal itu membuat Eva syok dan terkejut saat mendengar Igor memimpikan hal itu.


Beberapa lembar tisu toilet dihabiskannya untuk mengusap air matanya. Tempat sampah toilet penuh dengan tisu bekas air matanya.


Apa yang harus dia lakukan? Apa dia benar-benar tertipu oleh suaminya sendiri? Apakah suaminya seorang psikopat?


Semua pertanyaan itu memenuhi benaknya.


Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Cahaya kemerahan menyirami seluruh kota dengan merata.


Beberapa masjid yang ada di sekitar kota itu mulai mengumandangkan adzan magrib. Beberapa umat muslim yang tinggal di kota itu mulai berdatangan ke tempat peribadatannya.


Tepat pukul 9 malam. Suasana kota masih ramai, tapi tidak dengan rumah sakit MEDICAL CENTER.


Beberapa lampu mulai dimatikan dan diganti menjadi lampu redup. Hanya sebagian lampu terang yang dinyalakan, termasuk lampu lobby dan pintu masuk gerbang utama, karena rumah sakit itu buka 24 jam.


Di dalam ruangannya, Igor masih terduduk dan memikirkan sesuatu. Dia berniat untuk menemui Gun yang juga dirawat di rumah sakit itu.


Igor menggunakan pakaian dan perlengkapan perawat yang telah disiapkan sebelumnya.


Setelan baju perawat berwarna biru, masker dan penutup kepala medis, dan tempat makanan para pasien yang didorong. Fred!


Dia mendapatkan peralatan itu semua dengan bantuan Fred. Dia telah menyediakan semua peralatan yang dibutuhkan Igor.


Fred bahkan menyuruh Igor untuk membunuh Gun, jika dirasa terlalu meragukan baginya.


Igor tak menanggapinya serius dan langsung pergi ke kamar Gun berada.


Beberapa detektif yang menjaga di depan kamar Gun berhasil dikelabui olehnya. Berhasil. Penyamarannya sama sekali tak diketahui.


Tak hanya di luar, Igor mendapati seorang detektif yang menjaga di dalam ruang rawat Gun.


Detektif itu sedang terbaring tidur di sofa. Kelelahan.


*SHREK!!!!


Igor masuk dengan tenang dan mendorong tempat peralatan medis dan piring-piring kotor bekas pasien.


“Permisi, Pak. Aku datang untuk mengganti pakaian pasien.”


Detektif menguap lebar bertanya, “Selarut ini?” kantuk masih menguasainya.


“Astaga. Sepertinya kau sangat lelah. Apa kau bertugas sift malam?”


“Wah, kau benar. Aku sangat lelah. Astaga, punggungku.” Detektif itu menggerak-gerakkan pinggang dan bahunya.


“Bagaimana dengan satu gelas americano. Tepat di sebelah rumah sakit ini ada sebuah kedai kopi yang juga dikelola oleh rumah sakit. Kopi disana sangatlah enak.”


“Hmmm, baiklah. Sebenarnya, aku juga sangat ingin merokok.” Detektif menyeringai lebar berdiri dari sofa.


Igor menunduk. “Sampai jumpa, Pak.”


Igor mendekat pada ranjang Gun dan membuka masker dan penutup kepala medisnya.


Ternyata saat itu Gun masih tersadar. Dia hanya berpura-pura tertidur agar semua detektif tak bertanya padanya.


Kedua tangannya terborgol di ranjang, membuatnya tak bisa bergerak bebas.


Hidung dan tangannya yang infus dengan kondisinya yang sangat buruk, lebih buruk dari Igor.


“Aku sudah menunggumu sejak lama. Kenapa kau baru sadar setelah seminggu penuh koma?” ucap Gun lirih.


“Hhhh. Kenapa kau menungguku?”


“Karena aku yakin kau akan datang dan membunuhku.” Gun terbaring dan terus menatap Igor dengan tatapan kosong, tanpa harapan sedikitpun.


“Lantas, apa rencanamu kali ini? Apa yang kau inginkan?” tanya Igor.


“Elena. Dimana Elena-ku berada? Apa kau sungguh tak tahu, dimana jasadnya dikubur?”


Kursi lipat ditarik. Igor duduk, tepat di samping ranjang Gun, lalu membisikkan sesuatu padanya.


“Aku sama seperti kalian. Aku tak tahu dia adalah seorang pembunuh berantai. Stasiun dan berita di TV yang memberitahuku soal itu. Aku tak tahu apapun. Apa kau masih tak percaya?”


“Kupikir, kau akan berkata sebenarnya sebelum kau membunuhku, tapi, ternyata tidak. Kau masih tak ingin mengatakan dimana Elena-ku berada.”


Igor mendengus. Dia sudah bosan. Berulang kali dia berbicara fakta pada Gun, tapi, dia sama sekali tak mempercayainya.


“Saat ini. Terserah kau saja, mau percaya atau tidak. Sebelumnya aku berniat untuk menyelamatkanmu, tapi tidak untuk sekarang.”


Igor mengeluarkan jarum suntik dari dalam sakunya.


“Kau telah mencoba untuk menghancurkan kehidupanku, dan kau mampu melakukan itu kapanpun kau mau. Kau juga membunuh orang yang tak bersalah karena imajinasi bodohmu.”


Suasana ruangan hening sejenak. Gun terdiam berpikir dan memalingkan wajahnya.


“Aku menyadari sesudah berbaring disini sepanjang hari, menatap langit-langit sepanjang hari. Yang kutahu tentangmu sebatas rumor, dan itu, mungkin saja aku telah keliru menilaimu.


Kau benar. Aku memang telah membunuh orang yang tak bersalah dan menyiksamu dengan kejam, jadi, bunuh saja aku. Aku pantas mendapatkan itu. Ayo, lakukan itu.”


Gun meneteskan air matanya ke pipi dan memejamkan matanya. Dia sudah pasrah jika Igor akan membunuh dirinya saat itu.


Setelah berulang kali mendengar pernyataan dari Igor, akhirnya Gun dapat berpikir dengan jernih dan mematikan imajinasi bodohnya.


Igor hanya diam melihat Gun yang sudah pasrah dengan kondisinya.