
Dia menginstruksikan untuk melacak keberadaan nomor yang sedang memanggil itu.
Proses melacak pun dimulai. Beberapa alat dikeluarkan oleh Kepala Tim dan mulai melacak sembari melanjutkan percakapannya.
“Pak Arthur, kami berbicara dengan pengeras suara, jadi, suara mu bisa didengar oleh semua orang ada disini. Apa itu tak masalah?” tanya Kepala Tim.
“Tak apa. Berapa polisi yang dapat mendengarkanku?”
“Kami ada empat orang.”
“Baiklah. Hanya kalian berempat yang boleh tahu percakapan kita ini. Tak ada orang lain yang boleh ikut campur atau mengetahui hal ini. Apa kalian bisa menjanjikan hal itu?”
Ruangan itu lengang sejenak. Semua orang saling memberikan pandangan satu sama lain, mengenai ucapan itu.
“Ya, tentu. Aku berjanji,” tegas Kepala Tim. “Jadi, informasi apa yang ingin kau berikan kepada kami?”
“Ada beberapa orang dari kelompok yang menjual manusia kepada Alex dan komplotannya. Aku memiliki informasi tentang mereka.”
Suasana ruangan kembali hening saat itu. Eva hanya diam dan berpikir, sepertinya kemarin suaminya telah pergi ke suatu tempat untuk mencari tahu hal itu.
“Begitulah cara Alex dan kaki tangannya mendapatkan korban. Mereka membeli dari sekelompok orang penjual manusia itu. Malam ini, aku telah membuat kesepakatan dengan kelompok itu.
Aku sudah berpura-pura menjadi pelanggan tetapnya dengan membeli seseorang yang telah mereka culik. Tak hanya itu, mereka juga akan memberikan informasi kaki tangan Alex padaku.
Yang bisa kutawarkan pada kalian adalah kesempatan untuk menggerebek lokasi saat aku dan mereka melakukan transaksi.”
“Kapan dan dimana itu akan berlangsung?” tanya Inspektur Han sangat antusias
“Pertama-tama, aku akan menjelaskan persyaratanku. Kalian mungkin tahu soal ini, tapi ponsel yang kugunakan, bukanlah ponselku. Selain itu, jangan pernah mencoba untuk melacak lokasiku berada.”
Mike dan Kepala Tim langsung menghentikan alat pelacak yang sedang dipakainya itu.
“Bahkan jika kau berhasil melacak lokasiku sekarang, kalian tak akan bisa dengan mudah untuk menemukanku. Kalian hanya akan bertemu orang asing yang tak tahu apapun.
Untuk menutup kasus pembunuhan berantai 15 tahun silam, aku akan memberi kalian semua informasi yang kumiliki.
Aku ingin kalian berjanji atas nama kehormatan lencana yang kalian miliki, dan juga kalian berjanji untuk melindungi identitasku, dan juga semua informasi yang kuberikan ini.
Satu hal lagi, semua informasi yang kalian terima dari teleponku harus dihancurkan begitu kalian menutup kasus ini. Kalian mengerti?”
“Ya, kami mengerti,” jawab Kepala Tim. “Apa itu saja? Itu sangat mudah bagi kami.”
“Ya, kurasa itu sudah cukup.”
“Tunggu!!!” lagi-lagi Inspektur Han menghentikan sebelum telepon terputus.
“Apa hanya itu yang kau inginkan? Kau adalah buron selama 20 tahun lebih. Bukankah aneh, jika kau menelpon polisi dan meminta keadilan untuk ditegakkan? Kau berharap kami mempercayai itu?”
Inspektur Han masih tak percaya bahwa Arthur tidak ada kaitannya sama sekali dengan pembunuhan berantai itu.
“Terserah kau saja. Aku sama sekali tak ada kaitannya dengan pembunuhan yang dilakukan ayahku, apalagi menjadi kaki tangannya. Hanya itu yang ingin kubuktikan, agar kalian berhenti mengejarku.”
“Inspektur, Han! Aku juga yakin bahwa dia bukan kaki tangan ayahnya sendiri. Dia tak mungkin memberikan informasi sebagus ini pada kita, jika dia adalah kaki tangan Alex,” bisik Mike.
“Dasar, Berandal! Kenapa kita harus mempercayainya?” Han malah balik membentak Mike.
“Sejujurnya, aku bahkan tidak yakin bahwa kau adalah Arthur yang asli atau hanya arang gila yang mempermainkan kami,” lanjut Han
“Pak Arthur!” setelah berdiam diri dan melamun, akhirnya Eva membuka mulutnya. Dia tahu bahwa itu adalah Igor suaminya sendiri.
“Ya, ada apa?”
“Begini saja, beri kami informasi tentang sekelompok orang yang memperdagangkan manusia kepada Alex dan kaki tangannya.
Kami akan memeriksa informasi mu dan melanjutkan rencana sesuai dengan rencanamu-begitu kami yakin informasi mu sangatlah bagus dan akurat,” jelas Eva.
“Jika kau setuju, maka kami akan melanjutkan hal ini, dan persyaratan yang kau minta akan kupenuhi,” tambah Kepala Tim.
“Baiklah, aku setuju. Orang yang kalian cari bernama Jack. Pria bertubuh tinggi dan gemuk. Memiliki kepala sedikit botak, kumis dan jenggot tipis, dan juga mata yang sipit.”
“Kalian harus berhati-hati saat mengejarnya. Jika dia sadar bahwa kalian sedang mengejarnya, semua sandera dan tawanan yang dimiliki nya akan mati. Aku yakin kalian juga tak ingin hal itu terjadi, begitu pula denganku.”
TUTT!!!!
Setelah panggilan terputus, Eva bergegas meninggalkan ruangannya.
“Hei, mau kemana kau?” tanya Han.
“Toilet,” jawab Eva ketus.
Eva berada di depan gedung kantor mencari tempat yang sepi dan membuka ponselnya.
Dia melihat keberadaan Igor dai GPS yang telah dipasangnya ke dalam jam tangan, lalu segera menelpon.
“Ya, Eva? Kenapa kau menelponku? Kau tak sibuk?”
Suara bising berada di balik Igor. Sepertinya dia sedang berada di tempat keramaian.
“Apa kegiatanmu saat ini?” tanya Eva.
“Tak ada. Aku tak cukup sibuk. Aku hanya sedang berada di luar untuk berbelanja peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan saja. Kenapa memangnya?”
“Sayang, apa kau menjemputku nanti malam? Mari kita makan malam bersama di kedai pinggir jalan yang enak itu. Aku tiba-tiba sangat ingin memakan masakan Bibi pemilik kedai itu.”
Eva berusaha untuk mencegah Igor agar dia tak mendatangi Jack dan beberapa anak buahnya nanti malam, setelah tahu dari telepon yang dilakukannya ke kantor. Eva sangat khawatir dan tak ingin terjadi hal buruk yang menimpa Igor.
“Hmmm. Maafkan aku, Sayang. Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu malam ini. Mungkin saja, aku bahkan tidak akan pulang,” jawab Igor.
“Kenapa tidak? Kau mau kemana?” tanya Eva pura-pura.
“Aku harus menghadiri pemakaman salah satu teman ayahku. Dia adalah mitra bisnis ayah yang baik, jadi, aku akan segan jika tak menghadiri upacara pemakamannya.”
“Jangan pergi!” bentar Eva. Dia tahu bahwa Igor sedang berbohong, dan bersikeras bertemu dengan Jack beserta semua tukang pukul dan kacungnya.
“Kenapa begitu?” tanya Igor.
“Pokoknya jangan pergi. Aku tak mau kau pergi. TITIK!” Eva menggebu-gebu sampai-sampai semua orang disekitarnya memandangnya.
Beberapa Opsir dan Detektif Junior hanya melintas melihat Eva tanpa berani bertanya. Eva mengabaikan semuanya dan kembali fokus pada telepon.
“Eva, ada apa denganmu?”
“Begini, aku hanya bermimpi buruk semalam.” Eva pun mulai mencari alasan.
Betapa ribetnya melihat pasangan pasutri itu. Keduanya saling menyembunyikan satu sama lain dan tak ingin mengakuinya bersama.
Igor akan selalu mengaku dirinya adalah Igor, bukan Arthur. Hanya itu yang ingin dia tunjukkan pada Eva, sementara Eva, dia tahu bahwa Igor adalah Arthur, tapi dia tak ingin mengatakan, bahwa dia sudah mengetahui semua hal itu.
Entah sampai kapan mereka akan menutup rahasia yang saling mereka ketahui itu.
“Eva! Dengarkan aku, Sayang. Itu hanyalah mimpi. Maka itu, kau harus tidur dengan baik di ranjang. Pola dan kualitas tidur yang bagus dan sehat akan menimbulkan pikiran yang sehat juga untukmu.”
“Lantas? Kau akan tetap pergi malam ini?”
“Ya, aku akan tetap pergi.”
“Baiklah, kalau begitu. Percuma saja aku melarangmu berulang kali.” Mata Eva berkaca-kaca. “Aku akan tutup teleponnya.”
“Tunggu, Eva!” sela Igor. “Aku hanya ingin menjadi seseorang yang sangat layak kau miliki. Itulah yang kuinginkan. Sungguh, hanya itu.”
Kali ini air mata Eva kembali menetes. Dia tak sanggup menahan air matanya untuk tak keluar. Perkataan Igor membuatnya terharu dan mematung, bisa mengatakan apapun.
“Ya sudah, kututup dulu. Aku harus kembali bekerja. Aku akan menelponmu lagi tepat pukul 10 malam..”
“Tentu, kau juga harus berhati-hati saat bekerja.”
Eva mengusap air matanya dengan saputangan, lalu bergegas menuju ke ruangan nya kembali.