SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 041


Sesampainya di rumah, Eva mengambil tas Arthur dan semua barang bukti yang ada di dalam tas itu. walkman, buku gambar, dan beberapa pakaian lain yang ada.


Eva membasahi semua tas itu dengan bensin membawanya ke belakang rumah dan,


*BOUSHH!!!


Dia membakar semua bukti yang berkaitan tentang suaminya. Eva masih berdiri dan melihat semua barang bukti itu terbakar menjadi abu.


“Baiklah jika itu maumu. Aku akan membiarkanmu hidup sebagai Igor.”


Eva membersihkan abu dari beberapa bukti itu, lalu membuangnya ke tong sampah.


Tepat pukul 9 malam. Eva duduk sendirian di balkon rumah. Dari lantai 2 itu, dia bisa melihat sekeliling rumahnya dengan jelas.


Satu botol bir Vodka berukuran 750 ml dan satu gelas sloki menemaninya di malam itu.


Dia mencoba menghilangkan semua pikirannya dan mencoba untuk melupakan itu semua. Dia harus maju. Bersiap untuk memikirkan-apa rencana yang akan dia lanjutkan untuk kedepannya.


*BRUM!!!


Igor baru pulang dengan mobilnya dan langsung memarkirkannya ke dalam bagasi.


Dari bawah, Igor tersenyum melihat Eva yang duduk di balkon sendirian. Dia naik melalui tangga depan dan menghampiri istrinya.


“Tumben sekali. Sedang apa kau sendirian?”


“Apa kau mau minum bersamaku?” Eva menuangkan satu sloki vodka, lalu memberikannya pada suaminya.


Igor menyeringai lebar dan menerima gelas itu. Duduk di sebelahnya.


“Bagaimana dengan Boy? Apa dia masih bangun?”


“Tidak. Baru saja dia tertidur. Dia pasti langsung terlelap jika kepalanya menyentuh bantal.” Eve kembali menuangkan vodka ke dalam gelas sloki dan meneguknya sekali tegukan.


“Apa ada masalah?” tanya Igor.


“Tidak. Hanya sedikit pekerjaan rumit yang kuhadapi. Cuma ada beberapa masalah saja, bukan masalah besar.


Ketika hal yang membuatku cukup bersemangat untuk bertahan tak berjalan dengan baik, itu bisa sangat mengecewakan.”


Suasana lengang dan canggung. Igor terdiam mendengar perkataan Eva itu.


“Berhentilah jika menurutmu itu sulit.” Igor menyeringai lebar menatap Eva.


“Apa kau juga akan berhenti jika itu pekerjaanmu?”


“Astaga. Aku hanya menyuruhmu untuk tidak bekerja terlalu keras. Hiduplah seperti biasa.”


“Hidup biasa? Bagaimana itu hidup biasa?” Eva memalingkan wajahnya.


“Eva yang ceria, lugu, murni, cepat tertawa, dan juga Eva yang pemarah, cepat merajuk, tapi juga pintar memaafkan.”


Eva tersenyum dan menjawab,


“Aku yang mudah tertipu juga. Kau tahu betapa mudahnya aku tertipu? Saat aku menjadi polisi dan belajar tentang membaca karakter manusia, aku berpikir sudah tak akan bisa tertipu lagi bahkan dengan penjahat kelas kakap sekalipun. Akan tetapi aku salah, aku terlalu congkak dan masih mudah tertipu.”


“Hahahahaha. Apa kau bercanda? Menurutku itu tidak benar.” Igor tertawa. Dia tak tahu sama sekali bahwa Eva sedang menyindir dirinya saat itu.


“Waktu sungguh cepat berlalu. Tepat minggu depan adalah tahun kelima kita memiliki rumah kita ini sendiri. Sofa, tempat tidur, dapur, lemari, kulkas, lemari sepatu, sandal kita. Beberapa kita beli dan sebagian kita buat sendiri. Sungguh menyenangkan.”


“Kita bahkan mengadakan pesta pindah rumah saat itu,” tambah Igor.


“Saat itu aku merasa sangat senang dan bahagia.”


“Bagaimana kalau kita mengadakan perayaan tahun kelima kita tinggal disini? Aku yang akan menyiapkan semuanya sendiri, dan kau cukup bersuasana hati baik.”


Eva menata suaminya dalam dan bertanya, “Apa kau mencintaiku?”


Igor menghela nafas panjang menggenggam tangan Eva, lalu menciumnya. “Kenapa kau menanyakan hal  yang sudah jelas?” Igor menyeringai lebar.


Penuh keraguan di dalam hati Eva. Melihat dari wajah dan tingkah lakunya, Igor sangat menyayangi Eva, tapi, dia tak sepenuhnya yakin, setelah mendengar perbincangannya di gudang kosong dengan adik kandungnya.


Igor tak bisa memiliki gangguan sosial dan tak bisa merasakan apapun perasaan yang sedang dialaminya.


Dia dapat meminta maaf berulang kali tanpa rasa penyesalan atau bersalah sedikitpun dalam hatinya, memukul orang tanpa rasa ampun, mencintai seseorang tanpa rasa cinta dalam hatinya.


“Baiklah. Hidupmu sebagai Igor sampai akhir demi putra kita. Sebagai Igor dan Eva yang tak tahu kebenarannya sampai akhir, lantas, mari kita berpisah seperti ini. Perpisahan, adalah hadiah terakhirku untukmu,” gumam Eva dalam hati.


“Ah, benar. Omong-omong, timku akan menyelidiki ulang kasus pembunuhan berantai 15 tahun silam. Sepertinya aku akan sangat sibuk minggu-minggu ini. Aku akan melakukan yang terbaik.”


Satu sloki terakhir vodka. Eva menegaknya hingga tetes terakhir.