
Pagi hari tiba. Matahari terbit dari ufuk timur menyirami seluruh dunia dengan sinarnya. Musim gugur telah tiba.
Daun-daun kering berjatuhan dan bertaburan memenuhi jalanan kota, dan tukang sapu yang mulai bekerja untuk membersihkan dedaunan kering itu.
Sebuah perusahaan yang menaungi para wartawan dan reporter di kota itu, TRABUNNEWS, tempat kerja Roy berada.
Terlihat di mejanya, Roy masih terlelap tidur dengan terlentang di kursi kerjanya. Rambut dan kemejanya yang sudah tak karuan.
Setelah mengisi berita semalam dan meraup banyak keuntungan, Roy mengajak semua karyawan di kantornya, mentraktirnya minum di kantornya sendiri, dan terlelap hingga pagi hari karena teler.
Hanya Roy yang saat itu masih teler, sedangkan para reporter dan karyawan lain sudah bekerja saat itu.
Pagi itu seorang wanita dewasa membangunkan Roy dari tidurnya. Dia adalah bos dari perusahaan itu.
“Hei, bangunlah! Bagun Roy!” Bos menepuk-nepuk pundak Roy. “Ini sudah siang. Kau harus bangun. Lihat orang sekelilingmu. Karyawan lain sudah mulai bekerja.”
“Astaga. Enyahlah dari sini, Bos! Aku masih sangat mengantuk. Bukankah kau juga mendapatkan hasil, dari yang kudapat semalam?” Roy menguap masih tak membuka matanya.
“Wah, benar-benar, Berandal satu ini! Apa kau gila?”
*PLETAK!!! “Aduh!” Roy memegang kupingnya karena Bos menyelentik.
“Lihat itu! Kau diinginkan lagi. Dia tak akan melakukan wawancara kecuali denganmu.” Bos melirik seorang wanita yang duduk di ruang tunggu.
“Sial! Siapa lagi kali ini?” Roy masih menguap.
*PLAK!!! “Hei, Berandal. Lihat itu!” Bos menampar pipi Roy lirih dan mengarahkan kursinya menghadap wanita yang sedang duduk di ruang tunggu. “Itu Oliv,” bisiknya.
“Astaga!” Roy terkejut. Matanya terbuka lebar. Dia turun dari kursi dan bersembunyi di balik mejanya.
“Wah, sepertinya kita akan dihujani uang banyak lagi,” seru Si Bos.
Roy mengernyitkan dahi menyuruh bosnya diam.
“Kenapa?” tanya Si Bos berjongkok.
“Bos, lihat aku! Bagaimana penampilanku saat ini?”
“Kau sangat buruk. Kau terlihat seperti gembel.”
“Astaga, sial!” Roy menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Dia tak menyangka akan bertemu Oliv, mantan pacarnya sendiri di tempat kerja. “Bos, bisakah kau membawakan atau membelikanku kemeja dan tisu basah?”
“Apa maksudmu?”
“Wah, sulit dipercaya. Maksudku.. sebenarnya Oliv dan aku… Ah, begitulah maksudku,” ucap Roy grogi.
“Apa itu? Katakan saja!”
“Dia adalah cinta pertamaku sekaligus mantanku.”
“WAH!! SUNGGUH?” Si Bos menutup mulut tak menyangka.
“Aku tak bisa biarkan dia melihatku seperti ini.”
“Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau menjumpainya?” Si Bos malah penasaran.
“Mungkin 14 atau 13 tahun yang lalu, tepat setelah aku lulus SMA.”
“Wah, lihat aku!” Si Bos memegang kedua pipi Roy melihat penampilannya yang acak-acakan. “Ini buruk sekali. Kondisimu sangat mengerikan.”
“Tolong aku, Bos!”
Si Bos mengangguk dan mengambilkan beberapa setelan kemeja yang ada di ruangannya, sembari Roy mengendap-endap pergi ke kamar mandi.
Setengah jam berlalu. Roy sudah mengganti pakaiannya dan mengajak Oliv untuk mengobrol.
Roy mengajak Oliv berbicara di kedai kopi yang tak jauh dari kantor Roy.
2 gelas es kopi telah dihidangkan ke atas meja. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Canggung.
“Rupanya kau tinggal di Vladivostok selama ini. Sungguh aneh, kita tak pernah berpapasan sama sekali.” Roy memulai obrolan.
“Ah, kau benar.” Roy tersipu. “Vladivostok adalah kota metropolitan bahkan menurut standar global. Aku cukup senang tinggal disini.” Sesekali Roy meneguk es kopi.
“Sepertinya, kau juga sudah banyak berubah dari yang dulu. Kau semakin cantik,” ucap Roy meringis.
“Hmmm. Benarkah?”
“Tentu. Dulu kau dikelilingi oleh teman dan menertawakan hal receh. Kau juga seperti bintang idola yang sangat populer saat itu, tak heran jika kau pernah menjadi aktor dan mengajar di sanggar teater.”
“Aku tak bisa terus hidup seperti bintang idola populer semenjak tahu bahwa ayahku seorang pembunuh berantai.” Oliv menunduk.
“Ya, aku paham itu.” Roy menghela nafas. “Omong-omong, bagaimana pekerjaanmu? Kau masih mengajar di sanggar?”
Oliv kembali menunduk. “Aku sudah dipecat hanya karena rumor yang telah banyak beredar, mengatakan aku seorang anak pembunuh berantai.”
Sedari tadi Oliv selalu celingukan melihat sekeliling kedai itu. Dia merasa ada orang yang sedang menguntitnya.
“Roy, bisakah kita pergi dari sini?”
“Pergi? Kenapa? Apa kau sibuk? Kau bahkan belum mengatakan hal apapun dari tadi.”
“Bukan begitu, Roy. Kau lihat pria dibelakangku?”
Roy celingukan melihat sekitar.
“Jangan melihatnya, Roy! Kita bisa ketahuan.”
“Ya, aku melihatnya. Siapa dia?” tanya Roy lirih.
“Dia seorang wartawan sepertimu dari perusahaan lain. Dia mengira bahwa kau telah menyembunyikan Arthur. Dia telah selalu mengikutiku, saat rumor yang beredar mulai menyebar.”
“Astaga. Bukankah itu penguntitan? Kau tak boleh membiarkannya terus mengikutimu. Aku akan mengusirnya dari sini.”
“Tidak, Roy!” Oliv menahan tangan Roy yang sudah berdiri. “Aku tak ingin menimbulkan keributan dan memberinya sesuatu untuk ditulis. Sebaiknya kita pergi. Sebaiknya kita berbicara di tempat yang lebih sepi. Ini tentang sesuatu yang penting.”
“Baiklah. Ikut aku!” Roy menarik tangan Oliv dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
“Hmm. Ternyata kau hidup dengan nyaman.” Oliv memandangi interior mobil SUV Roy yang sangat mewah.
Mobil BMW X1 dengan transmisi manual. Seluruh Jok mobil itu menggunakan kulit asli dan tampak berkilau jika dilihat.
“Ah, tidak juga. Aku sudah menabung selama 7 tahun untuk membeli ini.” Roy menyeringai lebar.
Dia memutar lagu di dalam mobilnya. Lagu yang selalu didengar saat mereka menjalin hubungan asmara. Suasana canggung pun terjadi. Keduanya saling menunduk dan memalingkan wajah.
“Sejujurnya, aku masih sering memikirkanmu setiap hari.” Roy kembali mengenang masa lalunya.
14 tahun lalu adalah pertemuan terakhir mereka. Fisik dan perubahan pada setiap orang pun berubah drastis, sama halnya dengan Oliv.
Dia yang dulunya dekil dan menjadi bahan bully karena ayahnya seorang pembunuh berantai, kini telah tumbuh dewasa dan cantik bak bidadari.
Hal itu membuat Roy menjilat ludahnya sendiri, karena dia telah memutuskan hubungannya dengan Oliv saat itu.
“Menurutku, kau adalah korban terbesar. Karena perbuatan yang dilakukan ayahmu dan Arthur, kau jadi seperti ini. Aku yakin bahwa kau adalah orang yang sangat normal, kau bukan monster seperti mereka.
Aku bahkan tak mempunyai prasangka buruk apapun terhadapmu. Aku juga tak bersungguh-sungguh saat mengatakan putus dulu.”
Oliv hanya diam dan menghela nafas panjangnya. “Rekaman itu.”
“Ya? Apa maksudmu, Liv?”
“Rekaman suara yang kau bilang milik kaki tangan, itu bukanlah suara Arthur. Bukan Arthur. Aku sangat yakin itu.”
Roy mendengus mematikan lagu. “Kau masih ingin melindunginya? Apa menurutmu dia akan berterima kasih kepadamu? Kurasa tidak. Adikmu sama sekali tak memperdulikanmu.”
“Kau salah, Roy. Akulah yang lebih mengenalnya. Dia tak mungkin berbicara seperti itu, seperti suara yang ada dalam rekaman milik kaki tangan.” Oliv menatap Roy serius.
“Satu hal lagi. Pembunuh asli dari petani malang itu adalah aku. Aku yang membunuhnya, bukan Arthur.”
“Apa?” Roy tercengang mendengar pengakuan dari Oliv.