
Oliv mulai bercerita.
20 tahun yang lalu. Saat itu Oliv masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Sore hari tepatnya peristiwa itu terjadi.
Oliv memang selalu berjalan kaki, saat berangkat maupun pergi ke sekolah, karena jarak rumahnya pun tak cukup jauh dari sekolahnya.
Sore hari itu, Oliv berjalan melewati sawah dan ladang yang luas yang berada di lingkungannya.
“Permisi, Dik! Apa kau bisa membantuku sebentar?” Seorang petani keluar dari gubuk tembok, yang ada di tepi sawah, menyapa Oliv
“Ada apa, Pak?” tanya Oliv.
“Bisakah kau membantuku untuk memindahkan beberapa makanan dari dalam gubuk ke atas motorku? Akan membutuhkan waktu lama jika aku memindahkannya sendirian.”
Petani itu berpakaian sederhana. Kaos hitam polos, dan celana training, dengan topi koboi ada di kepalanya.
Oliv yang polos pun hanya mengangguk dan masuk ke dalam gubuk tembok itu.
Disitulah awal mula kejadian itu terjadi.
Oliv yang polos masih tak menyangka akan terjadi hal itu.
Setelah Oliv masuk. Si Petani itu langsung mengunci pintu gubuk dari dalam dan berjalan mendekat kearah Oliv.
Melepas kaos dan topi koboi yang masih dipakainya. Menjulurkan lidahnya, dan menatap Oliv dengan tatapan mesum.
“Apa-apaan ini?” Oliv ketakutan dan melangkah mundur.
“Sudah lama aku tak mencoba daging muda sepertimu, Nak. Mungkin hari ini adalah hari keberuntunganku untuk mencicipi daging muda.”
Kini Oliv sudah terpojok. Tubuhnya sudah mepet ke dinding. Tak ada jalan lain baginya untuk kabur dan melangkah mundur.
“TOLONG!!!”
*PLASS!!!!
Si Petani Mesum itu menampar Oliv dan membungkam mulutnya dengan tangan hinanya.
Dia menjatuhkan Oliv ke lantai,, menidurkannya, dan menyobek kemeja sekolahnya, sembari membungkam mulut Oliv.
Nasib sial harus diterima Petani Mesum itu. Tangan Oliv meraih salah satu perkakas yang tergeletak di sampingnya.
*JLEB!!!!!!!
Darah mengucur deras bak air terjun Niagara dari leher Si Petani. Golok tertancap dari sisi kiri dan menembus sisi kanan leher.
Si Petani sekarat macam ayam yang sedang disembelih, dan akhirnya pun mati mengenaskan.
Dengan baju seragam yang sobek sebagian, Oliv berdiri dan mematung memandangi mayat Si Petani.
Tubuh dan pakaian Oliv terkena sedikit bercak darah milik Si Petani. Dia tak sadar bahwa dia telah membunuh Si Petani Mesum yang mencoba untuk memperkosanya itu.
Tangan Oliv bergetar kencang, tak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Tapi tak apa, setidaknya Oliv berhasil melindungi dirinya sendiri.
Jika dia tak membunuh Petani Mesum itu, pasti dia sudah diperkosa habis-habisan olehnya.
Oliv membawa mayat petani itu keluar dari gubuk dan akan membuang mayatnya di sawah yang dipenuhi oleh tanaman hijau yang cukup tinggi.
Saat itu juga dia bertemu dengan adiknya, Arthur. Arthur sedang bersepeda sepulangnya dari sekolah dan melihat kakaknya yang menyeret mayat Si Petani.
“Kak! Apa yang kau lakukan?”
*BRUK!! Arthur turun dari sepeda, membiarkan sepedanya terjatuh di pinggir jalan dan bergegas menghampiri Oliv.
“Kau yang melakukan ini, Kak?” Arthur tercengang melihat mayat dengan golok yang menembus lehernya.
“Ya. Dia pantas mendapatkan itu. Pria tua bodoh ini ingin memperkosaku tadinya.” Oliv mendengus. Dia sudah tak merasa panik lagi sejak itu.
“Minggir!” Arthur mencabut golok itu dari leher Si Petani dan mengoleskan semua darah yang ada.
Dia membaluri tubuh dan pakaiannya sendiri menggunakan bekas darah yang menempel di golok dan beberapa mengambil darah yang masih keluar dari leher Si Petani.
Mengusap gagang golok dengan pakaiannya dan menggenggam gagang golok dengan erat. Dia tak ingin ada satupun bukti yang menunjuk bahwa Oliv telah membunuh Si Petani. Arthur remaja mengorbankan dirinya sendiri.
“Arthur! Arthur! Apa yang kau lakukan? Kau tak boleh begini! Berikan golok itu padaku.” Oliv berusaha merebut kembali golok itu.
“Tak apa, Kak. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin kau hidup normal. Setidaknya, ada salah satu dari keluarga kita yang melanjutkan hidup dengan baik. Jangan pedulikan aku, aku baik-baik saja.”
Sejak saat itulah, Arthur meletakkan golok itu di dalam tasnya sendiri, dan menggantikan kakaknya sebagai tersangka pembunuhan petani.