SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 037


“Ah,  benar. Kata beberapa orang yang mengenali Arthur, ini dapat memicu amarahnya. Arthur yang biasanya sangat tenang dan pendiam, akan menjadi kasar setiap dia mendengar rekaman ini.


Akan tetapi, bagaimana dia bisa begitu atau tentang apa sebenarnya senandung ini adalah misteri bagi semua orang. Hanya dia yang tahu, apa maksud senandung yang ada dari rekaman ini.”


Eva meletakkan walkman di atas rak kumuh penuh debu, masih memutar rekaman senandung menyedihkan itu.


“Ketika Alex memulai pembunuhan, ada beberapa hal yang membuatku bingung.” Eva menatap Igor.


“Dia bisa saja menyuruh putranya yang masih kecil-mengantar makanan dan minuman untuk para tahanannya di tempat ini.” Eva menatap beberapa kurungan sel anjing dan menatap Igor, dan balik menatap walkman di atas rak.


Tubuh Igor bergetar dengan kencang. Senter yang dibawanya pun mulai bergoyang-goyang menyorot ke bawah. Dia merasa tertekan dengan apa yang dilakukan Eva padanya.


“Aku ingin pergi, Eva,” ucapnya ketakutan.


“Selagi dengan suara ini, Arthur akan kembali mengenang perbuatannya, seolah-olah itu baru terjadi kemarin. Aku yakin itu akan menjadi momen yang manis untuknya.


Itulah kenapa dia hilang kendali setiap kali dia terganggu dengan orang lain yang mencoba merebut walkman ini darinya.”


Eva terus memancing dan memprovokasi Igor dengan semua data yang dimilikinya tentang Arthur, tanpa melihat Igor yang sudah dipenuhi dengan keringat dingin di seluruh tubuhnya.


“Eva, aku ingin pergi dari sini!”


Eva tak memperdulikan ucapan suaminya dan melihat jam di ponselnya, menunggu seseorang. “Itu aneh. Dia seharusnya sudah datang sekarang.”


“Apa ada seseorang yang akan kita jumpai disini?” tanya Igor.


“Ya.” Eva menyeringai lebar menatap Igor. “Kita akan bertemu dengan bos pemilik perusahaan ekspedisi pengiriman cepat, tempat Arthur bekerja dulu.”


DEG!! Jantung Igor semakin berdetak tak karuan. Dia tak menyangka istrinya akan mengundang bosnya dulu, yang mana dia akan langsung mengetahui bahwa dirinya adalah Arthur, bukan Igor.


Eva hanya tersenyum sinis. Dia benar-benar tak mendatangkan bosnya itu. Hanya itu cara terakhir agar dia dapat melihat reaksi Igor yang sudah semakin terpojok.


“Aku yakin dia masih menyimpan beberapa barang milik Arthur yang tertinggal di mess pekerja saat itu. Aku membuat janji dengannya untuk bertemu disini, sembari dia memberikan barang milik Arthur kepadaku.


Bos itu mengatakan bahwa dia juga menemukan barang kerajinan yang dibuat Arthur yang tertinggal di kantornya. Aku ingin kau melihatnya, Sayang.


Dari penjelasan bosnya dulu, Arthur membuat karyanya itu selama dia bekerja sebagai pengantar barang. Dia juga menyempatkan waktu luangnya untuk mendalami keterampilannya itu.”


*KRING!!!!!


Ponsel Eva berdering.


“Halo, Bos. Kau sudah datang?”


JLEB! Hati Igor sudah tak karuan lagi mendengar itu. Raut wajahnya mengerut dahinya terlipat, matanya celingukan dan otaknya yang tak tahu harus melakukan apa.


Tanpa dia sadari, itu bukanlah panggilan dari bosnya dahulu. Itu hanyalah akal-akalan Eva.


Dia sengaja menyetel alarm dan membuat itu seolah-olah panggilan dari seseorang.


“Baiklah. Jika kau sudah dekat, beritahu saja aku. Kau akan melihat mobil ku yang terparkir di depan halaman rumah.”


Eva benar-benar berhasil menipu Igor kali ini, sebagai pembalasannya-setelah Igor menipunya bertahun-tahun.


“Tunjukkanlah dirimu yang sebenarnya, Arthur! Tentukan pilihanmu sekarang, Arthur! Apa yang kau pilih hari ini, akan menentukan masa depan kita,” gumam Eva di dalam hati.


Igor tiba-tiba menatap Eva dengan tajam. Matanya melotot dipenuhi dengan amarah. Senter yang dibawanya telah terjatuh ke lantai, dan dia mulai berjalan mendekati Eva.


Sama sekali tak panik dengan itu, tangan kiri Eva sudah bersiap dengan memegang pistol yang ada di sabuk belakangnya-berjaga jika dia diserang saat itu.


BRUK!!!


Belum sampai Igor berjalan mendekati Eva, tubuhnya sudah tersungkur ke lantai. Igor memegangi dadanya yang terasa sesak sejak tadi.


Dia kesulitan bernapas ditambah dengan tekanan dari Eva yang sengaja memancingnya untuk itu.


Eva kembali mengembalikan pistolnya yang sudah hampir dikeluarkan, lalu menolong suaminya yang terjatuh.


“Ada apa, Sayang? Ada apa denganmu, hah?”


“Aku… tidak.. Tidak…. Aku tak bisa bernapas. Ayo kita pergi dari sini. Kumohon padamu.” Igor terbata-bata. Dia meringkuk dan terus memegangi dadanya yang sesak.


Igor tak berbohong. Dia bersungguh-sungguh. Eva dapat melihat itu dari apa yang dialami oleh suaminya.


“Baiklah, ayo kita pergi.” Eva membantu berdiri dan merangkulnya keluar dari dalam basement dan kembali ke mobil.


Dengan bersusah payah Eva membopoh Igor-masuk ke dalam mobil.


Di bangku depan ruang duduk penumpang. Nafas Igor tersengal-sengal, keringat membasahi seluruh tubuh menembus kaos dan bahkan jaket yang dipakainya saat itu.


“Ayo kita pergi ke rumah sakit.” Eva duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Dia sebenarnya juga tak tega melihat kondisinya suaminya seperti itu.


“Tak apa. Mari kita pulang saja. Aku tak hanya perlu beristirahat di rumah.” Igor masih memegang dadanya karena sesak. “Sepertinya, ini karena bau darah. Bau darah membuatku tak tahan bahkan membuatku sesak dan mual.”


“Apa aku terlalu kasar karena terus memojokkanmu?” gumam Eva dalam hati.


Dia sangat tak tahan dan kasihan melihat kondisi suaminya yang seperti itu.


“Tidak. Aku harus tahan. Dia sudah berbohong padaku selama 15 tahun lebih, bahkan saat aku masih pacaran dengannya. Tidak. Aku tak boleh membiarkan diriku lemah.” Eva terus bergumam dalam hatinya.


“Omong-omong, bukankah kau harus menemui seseorang?” tanya Igor.


“Kenapa kau malah bertanya itu? Lihatlah dirimu sendiri! Kau malah memikirkan orang lain saat dirimu sedang tak baik-baik saja.” Eva malah memarahi Igor.


“Jangan pikirkan itu. Aku akan membatalkan pertemuan dengannya dan mengantarmu pulang.”


BRUMM!!


Suara knalpot mobil BMW milik Igor yang sangat gagah. Layaknya seorang pembalap, Eva memutar posisi mobil, lalu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.


Mobil pun melesat meninggalkan desa terpencil itu.


Tak ada satu jam mereka berada di rumah Alex, mereka sudah harus kembali karena hal itu.


Mobil mulai masuk ke jalan tol dan lebih cepat lagi Eva mengendarai mobil itu. Malam itu cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil saja yang melintas menggunakan jalan tol.


Eva sangat leluasa untuk membawa mobil dengan kencang. Dia harus buru-buru kembali ke rumahnya, sebelum pagi tiba.