
Beberapa saat kemudian, setelah Eva berhenti menangis, mereka kembali duduk bersama di bangku taman.
Eva bercerita bahwa hari ini dia mengalami kejadian yang cukup buruk. Ternyata dia juga berhasil menangkap salah satu calo atau kacung yang bekerja dengan Bos Jack.
Dia adalah seorang wanita. Semacam rentenir yang memberikan pinjaman dan debt kolektor yang menagih hutang milik Bos Jack.
Akan tetapi, semua tak berjalan sesuai rencananya.
Saat penangkapan terjadi, Eva menangkap basah Si Wanita calo itu di apartemennya dengan semua timnya yang sudah menunggu dari mobil.
Eva berpura-pura ingin meminjam uang dengan jaminan, dan singkat cerita dia ketahuan dengan identitasnya.
Si Wanita itu kabur melompat dari jendela menuju balkon dan terjatuh dari lantai 2.
Kini Mike masih menunggu di rumah sakit tempat wanita itu dirawat. Eva terus merasa bersalah dengan itu. Dia tak bisa mencegah wanita itu saat mencoba bunuh diri.
Walau Igor tahu tentang keberadaan Bos Jack, tapi, dia berpura-pura tidak tahu apa-apa.
“Apa kondisinya cukup buruk?” tanya Igor.
“Kurasa aku tak bisa menghadapi ini lagi. Sayang, bagaimana jika kau menjadi tulang punggung keluarga saja, dan aku akan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya?”
Sepertinya Eva sudah muak setelah sekian tahun menjadi seorang detektif di kepolisian dan muak pada kehidupan yang sudah terjadi padanya.
Mulai menjadi seorang detektif sekaligus tulang punggung keluarga, dia sudah sangat muak dengan semua itu. Eva hanya ingin hidup tenang.
“Maksudku…. Dalam lima tahun lagi, Boy akan mulai menginjak SMP. Aku baru-baru ini mulai berpikir, bahwa aku ingin menyekolahkannya di pedesaan saja. Bagaimana menurutmu? Kudengar itu sedang trend saat ini.
Setelah aku menyelesaikan kasus ini, aku ingin membesarkan Boy di tempat yang sepi dan udaranya masih sejuk dan bersih, tak seperti di kota yang dipenuhi dengan polusi,” lanjut Eva.
Igor menyeringai lebar memegang kedua pundak Eva. “Aku masih ingat betapa bahagianya dirimu saat kau naik jabatan menjadi seorang detektif.”
“Astaga, lupakan saja itu. Menurutku, menjadi seorang detektif sudah tak menyenangkan.”
“Ada apa denganmu, Sayang? Hari ini kau sangat aneh dan berbeda dari biasanya.”
“Tidak. Aku tak apa. Sepertinya aku hanya lelah.” Eva tersenyum. “Baiklah, sepertinya aku harus pergi dulu. Masih banyak pekerjaanku yang belum terselesaikan. Kau sebaiknya juga segera pulang.”
“Mau ku antar sampai depan kantormu?” Igor berdiri.
“Tak perlu. Aku bisa jalan kaki sendiri.” Eva menahan tangan Igor. “Sampai jumpa, Sayang.” Eva melangkah melambaikan tangan.
Igor membalas tersenyum dan melihat Eva yang mulai menjauh.
Setelah Eva pergi, Igor mendapatkan telepon masuk ke ponsel prabayar yang diberikan oleh Jack.
“Halo, Klienku!” sapa Bos Jack. “Transaksi akan dilakukan besok pada tengah malam. Pertama, kau harus membawa setengah dari harga ke kantorku, lalu, sisanya bisa setelah semuanya beres.”
“Terserah kau saja, Dungu!” ucap Igor ketus mematikan ponselnya.
***
Keesokan harinya di rumah Igor dan Eva. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, dan Eva sudah rapi dengan pakaian formalnya. Bersiap untuk bekerja.
Dia menyisir rambut panjangnya dan memakaikan sedikit riasan make up secukupnya.
Walau Eva tak memakai make up sekalipun, dia sudah terlihat sangat cantik karena dia memiliki wajah yang natural.
Beberapa saat kemudian, Igor datang dari kamarnya. Dia masih menggunakan kimono yang dipakainya saat tidur.
Igor tersenyum menggerai rambut Eva. “Kenapa kau tak bertanya padaku, kemarin?”
“Bertanya?” tanya Eva melirik menatap Igor dari cermin.
“Kemarin pergi kemana? Dengan siapa? Dan kenapa menjawab telepon dengan ketus? Kenapa kau tak menanyakan hal itu?”
“Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Baiklah. Sampai jumpa, Sayang.” Eva mencium pipi Igor, melambaikan tangan, lalu bergegas pergi berangkat.
30 menit berlalu, Eva sudah sampai ke ruangan kerjanya dan bersiap untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kasus yang belum terselesaikan itu.
Kepala Tim, Inspektur Han, dan juga Mike juga datang secara bersamaan saat itu dan bergegas menuju mejanya masing-masing.
Mereka kembali membicarakan Si Wanita Calo yang hari pagi itu juga telah dinyatakan tewas karena terjatuh dari lantai, saat Tim Eva mencoba menangkapnya.
Mereka langsung mencari semua data diri, tempat tinggal, status, bahkan rekening milik wanita calo itu.
“Namanya Yona. Umur 40 tahunan awal dan tak memiliki anak ataupun suami,” jelas Mike.
“Lantas, bagaimana dengan rekeningnya?” tanya Kepala Tim.
“Tak ada yang aneh dari rekeningnya,” sahut Eva membuka laptop. “Hanya saja, dia selalu mentransfer uang bulanan pada salah satu panti jompo dan panti asuhan yang masih dimiliki oleh satu yayasan yang sama. Diketahui, ibunya juga berada di panti jompo itu.”
“Kemana dia pergi kemarin? Sebelum dia kembali ke rumah dan kita menangkapnya. Apa kau sudah menyelidikinya, Mike?”
“Ya, tentu. Vtoraya Rechka, dia pergi ke daerah itu sebelum dia kembali ke rumahnya. Dia pergi ke pasar yang memiliki ruko yang banyak. Entah apa yang dia lakukan disana,” jelass Mike.
“Vtoraya Rechka?” tanya Eva terkejut. Dia teringat bahwa Igor pergi ke tempat itu sebelum menemuinya kemarin.
“Kenapa, Senior?” tanya Mike.
“Bukan apa-apa. Lupakan saja.”
*KRING!!!!!
Telepon milik kepolisian berdering kencang. Eva yang duduk paling dekat dengan telepon itu langsung mengangkatnya.
“Halo? Dengan Detektif Eva dari kantor polisi pusat.”
Si Penelpon tak mengatakan apapun.
“Halo? Silahkan berbicara, Nyonya, Tuan!”
“Aku punya informasi penting untukmu. Ini mengenai kasus pembunuhan berantai yang terjadi 15 tahun silam.” Si Penelepon telah mengubah suaranya. Memberikan sedikit efek dengan alat yang serba canggih saat itu.
Walau Eva menggunakan pengeras suara, tapi semua orang tetap tak akan bisa mengenali suara siapa itu.
Eva menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya. Mencoba untuk tetap tenang. “Jika boleh aku bertanya, dengan siapa aku berbicara?”
“Ini Arthur!”
Deg!!! Semua orang terkejut tak terkecuali saat mendengar itu.
Begitupun dengan Eva, dia masih tak menyangka bahwa suaminya akan nekat menelpon ke kantor polisi, meski Eva belum mengatakan yang sebenanya.
“Apa yang dia lakukan? Apa dia sengaja melakukan ini?” gumam Eva dalam hati.
“Arthur? Kau Arthur yang asli? Putra Alex?” Inspektur Han bertanya menggebu-gebu.
“Berapa kali aku harus memperkenalkan diri padamu? Kurasa polisi seharusnya lebih pintar.”
“Dasar, Bajingan! Apa kau tak tahu, jika kau melakukan telepon iseng ke kantor polisi, kau bisa terkena pidana?”
“Hahahaha. Dasar, Bodoh! Jika iseng, aku tak mungkin menggunakan efek suara ini. Lagipula, bukan begitu cara berbicara dengan orang yang akan membantu menangkap komplotannya.
Perkataanmu membuatku muak. Aku sangat ingin menutup teleponnya sekarang juga.”
“Hei! Hei! Tunggu! Tunggu sebentar!” Inspektur Han menutup telepon dengan telapak tangannya.