
TRENG TRENG TRENG TRENG TRENG
Alarm penanda kebakaran terdengar dari luar ruko itu. Igor yakin bahwa itu adalah ulah Roy yang mencoba untuk menyelamatkannya.
“Dasar, Bodoh. Apa yang dia lakukan?” gumam Igor dalam hati.
“Sial! Ada apa lagi ini?” Jack kesal dan menyuruh tukang pukulnya untuk melihat keadaan di luar.
Di luar ruko, Si Gempal melihat Roy yang sedang celingukan. Dia berdiri di salah satu ruko yang kosong dan menekan tombol alarm kebakaran.
“Sedang apa kau?” tanya Si Gempal ketus.
Roy menunduk ketakutan. Tak mungkin baginya untuk melawan orang bertubuh gempal itu, karena badannya terlalu kurus.
“Tidak… Aku… Aku hanya melakukan pemeriksaan pada alat ini, dan ternyata, alat ini masih berfungsi dengan baik.”
Saat Si Gempal berbalik, Roy mengambil alat semprot kebakaran yang ada di dinding, dan.
“Hei, Babi!”
BYURRRR!!!! “RASAKAN ITU!!”
Roy menyemprotkan alat itu kepada Si Gempal. Teras ruko dipenuhi dengan gas putih yang membuat Si Gempal tak bisa melangkah maju.
“HEI, ARTHUR!! CEPAT KELUAR DARI DALAM!!”
Roy berteriak-teriak dan berseru. Percuma saja. Igor tak akan bisa menyelamatkan Roy karena dia terikat.
Si Gempal menyangga ke tembok dan terbatuk-batuk karena gas itu masuk ke dalam saluran pernafasannya.
“Sial, gasnya telah habis.” Roy melempar alat semprot pemadam itu pada Si Gempal, lalu berlari sekencang-kencangnya. Begitupun Si Gempal yang langsung ikut mengejar Roy.
Kembali di dalam ruko milik Jack. Igor masih berusaha melepaskan ikatan dari tangannya, walau usahanya tak membuahkan hasil.
*BUK!!!
Jack menendang dada Igor yang bersandar di lemari.
“Dasar, Idiot! Kau mengadu dan bekerjasama dengan polisi, tapi lihatlah, hanya Si Bodoh temanmu itu yang datang untuk menyelamatkanmu.”
“Jika aku menjadi dirimu, aku akan mengambil semua uang, lalu pergi dari tempat ini secepatnya.” Igor masih berusaha melepaskan diri. Menatap Jack.
“Kenapa? Kenapa aku harus pergi dari sini?”
Igor mendengus. “Karena ini sudah tamat untukmu, Bodoh.”
“Hahahaha. Ya, kau benar. Ini sudah berakhir, tapi masalahnya adalah kau, bukan aku. Kau yang akan tamat lebih dulu.”
Jack bergegas membawa uang dan membereskan semua barang bukti yang ada.
Satu jerigen besar berisi bensin di siramkan pada Igor. Dia menyiramkan bensin itu dari lantai tempat Igor hingga ke pintu.
Igor semakin ketakutan. Pergelangan tangannya mulai berdarah, karena mencoba untuk melepaskan dirinya.
“Sangat tak adil jika aku memberikanmu kematian yang mudah, saat kau sudah menghianatiku.” Jack masih meratakan semua bensin itu keseluruh ruangan. Mulai dari tempat Igor dan tubuhnya, hingga ujung pintu.
“Kematian tanpa rasa sakit adalah sebuah anugerah. Sebenarnya, aku lebih ingin kau mati lebih menderita daripada aku hanya membakarmu. Akan tetapi, setidaknya kau akan mati perlahan karena api akan membakar tubuhmu.”
“Setidaknya, biarkan aku mati dan mengetahui siapa yang telah mengkhianatiku. Orang yang menelponmu tadi, atau, kau bisa memberikan nama kaki tangan itu padaku sebelum aku mati.
Bukankah itu akan lebih menyakitkan lagi, jika kau menjadiku?” Igor berusaha mengulur waktu agar Jack tak langsung menyalakan api pada bensin yang telah memenuhi tubuh dan semua lantai.
Kau tahu, apa yang kupikirkan saat ini? Aku selalu memikirkan soal apa yang kau dan komplotanmu bisa rencanakan dengan barang tolol ini.” Jack membuang alat itu ke ke lantai dan menginjak-injaknya berulang kali.
“Kau akan mati, Bajingan. Tamat sudah hidupmu.” Satu koper berukuran kecil berisi uang telah dibawa Jack dan dia bersiap untuk pergi dari tempat itu.
“Kau telah melakukan kesalahan dengan mengacaukanku. Aku tak bisa membiarkanmu menjalani hidup.” Jack membuka pintu dan mengeluarkan korek api dari dalam sakunya.
TING! CREG!!
Jack telah menyalakan korek apinya, menatap Igor dari pintu. Hanya membutuhkan sepersekian detik, ruku dan Jack akan terbakar, jika Jack menjatuhkan korek api yang menyala.
KLEK! Suara pelatuk telah ditarik. Sebuah pistol tepat berada di belakang kepala Jack.
Seketika keadaan berbalik. Eva berhasil datang tepat waktu untuk menyelamatkan Igor.
Mata Igor terbelalak terbuka lebar. Dia tak menyangka jika Eva akan datang ke tempat itu.
“Singkirkan korek itu jika kau tak ingin ku ledakkan kepalamu,” tegas Eva.
“Apa kau bercanda?” Jack malah mendengus.
DOR!!!!
“ARGG!!!!!!”
Eva menembak telinga kiri Jack, membuat separuh telinga Jack tak utuh. Jack berteriak mengerang kesakitan. Kini telinga kirinya dipenuhi dengan darah yang masih mengalir.
Eva segera merebut korek api itu sembari Jack tersungkur ke lantai. Dia kesakitan memegangi telinganya yang dipenuhi darah.
“Sayang, kau tak apa?” tanya Eva melihat Jack yang terikat di gagang lemari.
Igor masih diam tak menyangka. Dia hanya menggeleng dan melongo melihat Eva datang menyelamatkannya. “Bagaimana…. Kau…. Sudah mengetahui semuanya?”
“Berlutut!” BUK!! “Angkat tanganmu!” Eva menendang kaki belakang Jack membuatnya berlutut.
“Angkat kedua tanganmu, jika kau tak ingin kedua tanganmu, jika kau masih menyayangi telinga kananmu.”
“Sial!” umpat Jack.
Eva meletakkan pisaunya kembali ke ikat pinggang dan mengeluarkan borgol.
Keadaan kembali berbalik!
Saat tangan kiri Jack sudah terborgol, dengan cepat Jack menarik tangan Eva, mengganti posisinya, lalu membanting Eva ke lantai.
“EVA!!! EVA!!!! Bajingan kau!!” Igor tak tahan melihat Eva kesakitan. Dia terus meronta-ronta berusaha untuk berdiri melepaskan ikatan.
Sementara itu, Jack masih terus memukuli Eva dengan membabi-buta.
“Mati kau, Sialan!” Jack mencekik Eva yang sudah mulai lemas.
Wajah cantiknya mulai memerah, darah Eva tertahan dan dia kesulitan untuk bernafas. Kakinya mulai menendang-nendang dengan itu.
“HENTIKAN!!!” Igor meraung kencang. Matanya memerah menatap tajam Jack.
*BRAK!! Igor akhirnya dapat melepaskan dirinya. Gagang lemari rusak, karena Igor dan tali pun dapat terlepas, walau pergelangan tangannya dipenuhi dengan darah.
Igor melompat dan memberikan satu pukulan telak ke kepala belakang Jack, membuat Jack tersungkur.
Eva terduduk dan memegangi lehernya yang memerah karena Igor mencekiknya.