SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 044


Roy kembali duduk di sebelah Oliv.


“Sudahlah, Liv. Wajar saja kau tak ingat. Saat itu kau masih berusia 19 tahun.” Roy kembali menatap wajah Oliv penuh kekaguman.


“Astaga. Seharusnya aku mengingat wajah pria itu.”


Roy masih melongo menatap Oliv sejenak. Oliv telah membuat Roy terobsesi dengannya.


Sementara Igor hanya diam sembari melihat tatapan Roy pada kakaknya itu.


*PLAK PLAK!!!


“Baiklah, semuanya saja. Sepertinya kalian terlalu bersedih. Alangkah baiknya kita makan sesuatu. Kita akan pingsan jika tak makan sesuatu.” Roy menepuk-nepuk telapak tangannya. Meraih ponselnya untuk memesan makanan.


“Oliv, kau dulu sangat suka burger. Apa kau masih ingat?” Roy menatap Oliv lalu, menatap ponselnya kembali.


“Kau dulu bilang bahwa kita akan memesan masin-masing burger jumbo saat dewasa.Bagaimana sekarang? Kita sudah dewasa. Apa kau masih ingin makan burger?”


Oliv menunduk tersenyum mengingat masa lalunya dengan Roy.


“Hei, Roy! Apa kau menikmati situasi ini?” Igor mendengus. “Menangkap kaki tangan adalah hal kedua bagimu. Tujuan utamamu adalah mendapatkan hati kakakku kembali.”


“Apa maksudmu?” Roy melipat dahinya.


“Apa aku salah? Kalau aku salah, coba tatap mata kakakku dengan benar dan ulangi perkataan 18 tahun lalu, saat kau mencampakkannya.”


Roy menelan ludah tak berkata apapun.


“Kau tak ingat itu, Kak? Saat itu kau pulang ke rumah dengan menangis dan bertanya padaku, apakah matamu terlihat seperti mata monster yang dimiliki ayah.”


“Hei, Arthur! Tutup mulutmu!” Roy melotot marah karena mendengar perkataan itu.


“Sabarlah, Roy!” Oliv menenangkan.


“Aku tak peduli dengan apa yang kalian lakukan setelah kembali bertemu, sekalipun kalian ingin tidur bersama, tapi, lakukan jangan lakukan itu di depanku. Lakukan di tempat lain jika kalian ingin bermesraan,” tegas Igor.


“Sekarang kita harus fokus pada ini.” Igor mengangkat ponsel berisi suara rekaman kaki tangan.


“Kita harus mendengarkan suara dibalik orang ini. Aku yakin sekali aku pernah ke tempat itu.”


“Hentikan omong kosongmu!” Roy kesal mematikan pemutar suara dari ponsel itu.


“Roy!” Oliv memegang tangan Roy amarahnya tak naik.


“Kau selalu saja menghentikanku, Liv. Aku adalah orang normal yang merasakan ribuan emosi. Wajar saja jika aku memiliki perasaan atau emosi saat aku melihatmu. Aku bukan seperti adikmu yang tak bisa merasakan apapun.”


“Kau anggap apa aku?” Roy menatap Igor. “Apa kau menganggapku orang bodoh? Kau sama sekali tak tau cara berterima kasih atau meminta maaf. Kau tak punya rasa malu, dan kau sangat egois.


Pikir pakai otakmu. Siapa orang lain yang akan membantumu dengan keadaanmu seperti ini, jika bukan aku? Kebanyakan orang tak akan bisa menangani mu jika kau seperti ini, bahkan istrimu sekalipun.


Coba saja tunjukkan sisi yang lain dari dirimu pada Detektif Eva. Aku yakin dia sangat menyesal telah menikah denganmu.” Roy menggebu-gebu.


“Tenangkan dirimu, Roy. Arthur terpaku pada satu alasan sekarang. Itulah alasannya dia melakukan.”


Ketiga orang dewasa itu malah bertengkar, melupakan pencarian mereka tentang kaki tangan itu.


“Pada akhirnya, ini akan menjadi taman bermain untukmu. Kau sama sekali tak berguna.” Igor mendengus kesal menatap Roy.


Dia berdiri dan akan pergi dari apartemen Roy.


“Arthur, duduklah! Duduk dan dengarkan aku! Jika kau masih menganggap aku adalah kakakmu, maka duduklah kembali.”


Igor kembali duduk dengan sewot.


“Arthur, katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan. Itulah satu-satunya cara agar Roy dapat membantumu.”


“Aku sudah mengatakan apa yang kuinginkan,” jawab Igor ketus memalingkan wajahnya.


“Bukan hanya perkataan dari mulutmu. Coba renungkan apa yang paling kau rasakan saat ini. Itulah maksudku.”


 “Aku tak mengerti maksud ucapanmu, Kak.”


“Tidak. Aku tahu kau mengerti.”


Igor mendengus. “Bagaimana aku bisa mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?”


“Tentu saja kau tahu. Kau sudah berubah banyak, Arthur. Aku tahu bahwa kau tak bisa merasakan apapun dan tak mempunyai keinginan, tapi kini kau sudah berubah.


Kau sangat mencintai istrimu dan rasa itu tak bisa kau sembunyikan. Kau juga memiliki keinginan dan harapan, yang sebelumnya kau tak pernah memikirkan hal itu.”


Suasana kembali lengang. Igor tak bisa berkata apapun untuk menyanggah ucapan kakaknya, karena perkataan Oliv benar semuanya.


Arthur yang dulu memanglah abnormal. Dia tak memiliki rasa atau keinginan apapun dalam menjalani hidupnya.


Bahkan, dia harus belajar cara memahami ekspresi setiap orang yang ditemuinya. Mulai dari cara berbicara hingga tersenyum.


Akan tetapi, kini berbeda. Dia mulai memiliki empati, rasa, dan keinginan untuk melakukan sesuatu, tapi, Igor masih tak mau mengakui itu.


“Aku hanya ingin hidup sebagai Igor, bukan Arthur. Tak ada yang ingin kulakukan atau inginkan selain itu. Aku tak ingin kehilangan hidupku ini. Apapun yang terjadi,” ucap Igor serius menghela nafas panjang.


“Hanya itu satu-satunya hal yang kurasakan. Aku tak pernah ingin atau berniat membuatmu kesal.” Igor menatap Roy.


“Aku kira aku tahu semua hal yang perlu diketahui mengenai tanggapan emosional orang normal, tapi terkadang aku tak mengerti kenapa orang menjadi kesal.


Haruskah aku berkata terimakasih dan maaf kepadamu sekarang? Aku bisa mengatakan itu sebanyak mungkin yang kau mau, asal kau mau membantuku sampai akhir.”


“Ah, sial! Lupakan saja!” Roy kesal. “Buat apa minta maaf jika itu dipaksakan?” Roy menggaruk rambutnya yang tak gatal.


“Akan tetapi, ini tak akan membantu apapun. Meski kita berulang kali mendengarkannya, kita tak akan pernah tahu, kecuali kau sendiri.” Roy kembali membahas rekaman suara.


“Akan tetapi, aku bisa bertemu dengan Detektif Mike karena aku sangat dekat dengannya. Mungkin aku akan mengajaknya mabuk, bertanya tentang penyelidikannya, dan berharap dia akan salah bicara dan mengatakannya padaku.”


“Terimakasih banyak, Roy.” Oliv menatap Roy serius. Dia tahu bahwa hanya Roy lah yang bisa membantu dia dan adiknya untuk saat ini.


“Tak apa. Kau tak perlu berterima kasih, jika kau berniat untuk menggantikan ucapan terimakasih dari adikmu.”