
*KRING!!!!!
“SIAL! Itu Detektif Eva!” Roy terkejut dan menjatuhkan ponselnya, saat melihat Eva yang menelponnya saat itu.
“Kalian tenang saja. Aku akan mengurusnya. Semua akan baik-baik saja. Tak perlu panik. Terutama kau, Arthur. Jangan mengeluarkan suara sedikitpun. Kau mengerti?” Roy kelabakan menenangkan Oliv dan Igor.
“Halo, Detektif Eva. Uhuk. Ada perlu apa?” Roy menjawab telepon berpura-pura batuk.
“Wartawan Roy! Apa kau sakit?”
“Astaga. Aku sedang mengalami radang tenggorokkan. Apa ada masalah sehingga kau menghubungiku?”
“Ya, begitulah. Aku ingin bertemu denganmu. Apa kau dirumah?”
“Uhuk! Maafkan aku, Detektif Eva. Aku sedang tak enak badan dan tak ingin membuatmu tak nyaman.”
“Hmm. Baiklah, kalau begitu. Semoga kau lekas sembuh Wartawan Roy. Sampai jumpa di lain waktu.”
Ketiga orang itu serempak menghela nafas setelah panggilan tertutup. Roy tersenyum melihat Oliv.
*DING DONG! Suara bel apartemen Roy.
“Itu dia. Akhirnya burgernya datang.” Roy beranjak berdiri keluar dan membukakan pintu rumah.
JRENG!!!!
Seketika Roy mematung. Dia meringis tapi tertahan saat membuka pintu. Ternyata itu bukanlah kurir pengantar makanan, melainkan Eva yang sudah berdiri di depan pintu dan menatap Roy dengan tersenyum kecil.
Dia tahu bahwa suaminya sedang di dalam dan Roy pasti berbohong padanya saat di telepon.
“Astaga, ternyata kau, Detektif Eva,” ucap Roy kencang agar Oliv dan Igor mengarnya dari dalam. Roy celingukan kembali menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Aku menelpon kantormu dan bosmu sangat senang karena kau mendapatkan berita eksklusif. Aku penasaran dengan itu, lalu, aku datang kemari.”
“Berita eksklusif? Itu bukan apa-apa. Aku seharian berada di rumah karena radang tenggorokanku kambuh.” Roy kembali berpura-pura.
“Permisi, makanan datang!” Kurir makanan datang dengan beberapa bungkus burger.
“Ah, baiklah. Terimakasih, Pak!” Roy menerima beberapa bungkus burger dan kurir pun menunduk, lalu pergi dari sana.
“Wah, apa-apaan ini? Kau menderita radang tenggorokan tapi malah memesan burger?” tanya Eva sinis.
“Astaga, Detektif. Beberapa orang berkata, kau harus makan enak yang banyak saat kau sedang sakit. Makan enak saat sakit itu sangatlah penting. Pikiran tentang sakitmu akan hilang jika kau merasakan enak dari makananmu.”
Eva hanya tersenyum kecil mendengar Roy yang terus berbohong. Dia tahu bahwa ada suaminya yang sedang berada di dalam apartemen Roy.
Eva mengintip dalam apartemen dan melihat dua pasang sepatu yang ada di depan keset.
“Apa kau memiliki tamu? Siapa dia? Apa dia informanmu? Kau memiliki berita terbaru yang akan kau terbitkan? Wah, sepertinya itu menarik.”
“Ah, apa maksudmu, Detektif? Mana mungkin aku mengundang seorang informan ke rumah. Omong-omong, Detektif. Bagaimana kalau kau menemuiku satu jam lagi di kedai kopi seberang jalan itu?”
“Tidak. Aku tak ingin ke kedai kopi sendirian. Aku akan menunggu urusanmu disini sampai beres. Masuklah kembali, dan selesaikan urusanmu dengan informanmu.
Jika kau berkenan, maka bagikanlah informasimu kepadaku. Aku yakin itu akan sangat berguna jika berkaitan dengan kasus yang sedang ku selidiki.”
“Astaga. Tak ada hal seperti itu, Detektif.” Roy merengek.
“Wartawan Roy, ada masalah apa?” tanya Igor. Dia datang ke pintu agar Eva tak semakin curiga pada Roy. Tak mungkin juga baginya untuk kabur saat itu, jadi, dia memilih untuk terang-terangan.
“Eva? Kenapa kau datang kemari? Apa ada masalah?” Igor menatap Eva.
“Astaga. Tak kusangka kita akan bertemu disini. Bagaimana denganmu sendiri, Sayang?”
“Aku hanya membantu Wartawan Roy. Dia sama sepertimu, menyuruhku untuk menyelidiki kerajinan logam yang dibuat oleh Arthur.”
“Wah, kali ini kau tertangkap basah sedang berbohong padaku, Wartawan Roy. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dengan suamiku dengan berbohong padaku?”
“Tidak. Tak ada seperti itu. Aku tak menyembunyikan apapun.” Roy tak tahu lagi harus berbuat apa. Dia hanya menurut pada Igor.
“Kalau begitu, bolehkah aku masuk dan bergabung bersama kalian?”
Roy hanya mengangguk.
Eva melepas sepatu dan memasuki apartemen Roy.
“Nona, Oliv?” tanya Eva melihat Oliv yang berada disana.
Oliv langsung berdiri karena panik. “Ya, benar. Aku Oliv. Kita pernah bertemu di sanggar tari sebelumnya,” ucapnya sopan.
“Astaga. Aku hampir tidak mengenalimu, karena suasana saat kita pertama bertemu sangat berbeda. Hari itu, kau sangat cuek dan bersikap dingin padaku.”
Oliv menunduk takut jika identitas asli adiknya akan terbongkar. “Saat itu…. Lupakan saja soal itu. Aku minta maaf, saat itu aku sangat kesal karena banyak masalah yang sedang kuhadapi.”
“Tak apa. Kau tak perlu meminta maaf padaku.”
“Wartawan Roy!” Eva menatap Roy yang masuk kembali bersama suaminya. “Aku yakin kali ini kau akan menerbitkan artikel yang sangat bagus. Kau mendapatkan bantuan dari suamiku dan juga Nona Oliv.”
“Omong-omong, hari ini adalah hari pertamaku bertemu dengan Pak Igor, sedangkan Roy, aku sudah mengenal dia sejak kami SMA. Kupikir aku bisa membantunya untuk menangkap kaki tangan itu,” ucap Oliv panik.
“Aku datang kemari bukan untuk menyelidiki. Kau tak perlu menjelaskan itu padaku.” Oliv tersenyum sinis melihat Oliv yang panik.
“Ah, baiklah.” Oliv menunduk tersipu malu.
Eva melihat sebuah papan tulis yang sudah dipenuhi dengan coretan tentang kaki tangan dan semua hal yang berkaitan dengan itu.
“Apa itu?” Eva berjalan mendekat papan tulis. Matanya melihat semua tulisan yang ada, tanpa ada yang terlewat dari pandangannya.
Roy membuatkan es kopi bubuk gula aren sembari Eva melihat papan tulis itu.
“Jebakan? Apa maksudnya ini?” gumam Eva dalam hati.
“Eva, apa mungkin aku telah menghalangi penyelidikan yang kau lakukan, hanya karena aku membantu Wartawan Roy? Apa aku telah mengganggumu?” Igor melangkah mendekati Eva.
“Tidak juga. Kenapa kau berpikir begitu? Bukankah itu memang keseharian Wartawan Roy? Dia akan terus mencari tahu berita terbaru dengan mendatangkan siapapun.”
“Semuanya saja, mari kita minum dulu. Aku sudah membuatkan es kopi gula aren untuk kalian.” Roy datang dari dapur membawa beberapa gelas dengan nampan, meletakkannya ke meja tamu.
“Ini untukmu, Detektif Eva.” Roy memberikan satu gelas pada Eva.
“Wah, apa kau cenayang? Kau sangat tahu jika aku membutuhkan minuman dingin yang manis.” Eva sedikit mencicipi es kopi itu.
“Hmm. Itu disebut dengan KEPEKAAN. Aku terlahir dengan bakat itu.” Roy membagikan gelas satu persatu pada Oliv dan Igor.
“Bagaimana jika kita saling bekerja sama dan saling bantu? Kalian juga mencoba mencari kaki tangan itu, akan lebih mudah bagi kita jika bekerja sama,” usul Eva.
Semua orang terdiam mendengar itu.
“Sepertinya, aku tidak akan bisa membantu banyak untuk itu, Detektif.”
“Ini apa maksudnya JEBAKAN?” Eva menunjuk tulisan di papan tulis.