SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 023


“Baiklah, Papa. Sampai nanti.”


Air mata Igor menetes. Dia benci pada dirinya sendiri. Berharap anaknya tak memiliki darah Monster yang diwariskan olehnya itu.


Pukul 01.00 dini hari. Sebuah mobil taksi terhenti di depan pekarangan penginapan itu. Dari balik kaca jendela, dia mengamati mobil itu/


*DOK DOK! “Permisi, Tuan. Apa kau memanggil taksi?”


Igor membukakan pintu kamarnya. Pemilik penginapan itu berdiri di depan kamarnya.


Hanya dia seorang yang menginap malam itu. Tak ada orang lain selain Igor.


“Tidak, Bibi. Aku tak memanggilnya,” jawab Igor.


“Lantas, sedang apa taksi itu berada di depan penginapanku ini? Apa yang dia lakukan?”


“Tenang saja, Bi. Aku akan keluar dan bertanya padanya.”


Igor segera keluar dari kamar, menuju ke halaman penginapan itu.


Kaca mobil taksi terbuka. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tajam.


“Masuklah!”


Igor masuk ke dalam mobil, duduk tepat di sebelah kursi kemudi, tempat Gun berada.


“Senang bertemu denganmu. Aku sangat ingin bertemu denganmu.” Gun menyulut sebatang rokok dengan korek api gas.


Igor mendengus dan menatap Gun.


“Hahaha. Aku penasaran, bagaimana kau bisa bersembunyi dengan baik?”


“Langsung saja. Apa yang kau inginkan dariku?”


“Elena!”


“Hentikan omong kosongmu. Aku tak mengenalmu ataupun Elena.”


“Ah, sayang sekali. Rupanya kau tak tahu. Aku sangat menyesal, karena Fredrik akhirnya mati dengan percuma. Padahal, aku membunuhnya, agar aku dapat bertemu denganmu.”


*KRING!!! Ponsel Igor kembali berdering.


“Angkat saja! Angkat atau matikan ponselmu. Aku tak suka menunggu lama.” Gun menghisap rokok sedalam-dalamnya dan menghembuskannya ke luar jendela.


“Ya, halo Roy!”


“Hei, Berandal. Ini berita bagus. Aku tahu siapa Elena. Dia adalah korban terakhir yang dibunuh oleh ayahmu, tapi, mayatnya belum ditemukan hingga saat ini.”


“Apa maksudmu?” tanya Igor kebingungan.


“Ah, sial! Kau masih tak mengerti? Pembunuh Fredrik adalah suami dari Elena itu sendiri. Dimana kau sekarang? Kau harus mencari suaminya itu.”


Gun mengeluarkan foto Igor bersama istrinya yang didapatnya dari rumah Eli, menunjukkannya pada Igor. Memberi kode untuk menutup mulut. Gun dapat menebak percakapan Igor di telepon.


“Sudah dulu. Kau tak perlu tahu!” Sambungan telepon terputus.


Foto Igor bersama Eva beberapa tahun lalu, saat Eva masih mengandung, dan tak sengaja masuk ke dalam frame foto Nenek Eli yang sedang berkunjung ke kota Vladivostok.


“Hmm. Aku yakin anakmu sekarang sudah tumbuh besar. Laki-laki atau perempuan?”


Igor merebut foto itu dan merobeknya menjadi potongan kecil-kecil. Panik!


Gun tertawa terbahak-bahak melihat Igor sangat panik.


“Kau dalam pelarian karena pembunuhan yang kau lakukan dengan petani desa yang malang itu, tapi, kau malah menikah dan memiliki seorang anak. Wah, itu sangat mengesankan. Bagaimana ada seorang buron yang memiliki hidup bahagia?”


Igor mendengus. “Aku tak ada hubungannya sama sekali dengan pembunuhan istrimu, Elena.”


“Hhhh. Wajar saja kau bilang begitu. Aku sudah tahu, jika kau tak ingin mengakuinya.” Gun masih tak percaya.


“Akan tetapi, jika kau ingin kompensasi, aku bisa memberikannya padamu. Katakan saja, berapa yang kau inginkan. Siapa tahu, kita bisa berkompromi, dan kau bisa pergi tanpa….”


Belum selesai ucapannya, Gun menyuntikkan jarum suntik berisi obat bius pada pundak Igor. Memasukkan seluruh obat yang ada di dalam alatu suntik itu.


*JLEBB!!!


“ARGHHHHH!!!!!”


Gun mengerang berteriak kencang. Igor sempat menusuk paha Gun dengan pisau yang dibawanya tadi.


*BUK!!!


Igor menambahkan satu pukulan mengenai rahang Gun. Dia tahu bahwa dia akan pingsan sebentar lagi. Igor berusaha keluar dari mobil dan meminta pertolongan pada pemilik penginapan.


Igor terus berusaha untuk berdiri untuk segera pergi.


Dari belakang Gun turun dari mobilnya dan langsung menyergap Igor hingga kembali terjatuh.


Beberapa kali pukulan diberikan Gun pada Igor yang mulai kehilangan kesadaran.


Tapi Igor tetaplah Igor, dia terus berusaha bangkit, membalikkan posisi. Memberikan tinju dengan tenaga yang masih dimilikinya.


Naas baginya. Obat bius itu telah bekerja dengan sempurna. Tubuhnya lemas, memudahkan Gun untuk membawanya ke dalam mobilnya, dan berlalu pergi


Dari dalam penginapan, Si Pemilik penginapan melihat kejadian itu. Dia tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Hanya menelpon panggilan darurat, agar bantuan datang secepatnya.


Tiga puluh menit kemudian, penginapan milik wanita tua itu dipenuhi oleh mobil polisi.


Tak hanya mobil polisi sekitar, polisi pusat rombongan Eva dan Mike juga datang ke tempat itu.


Mereka pasti mendengar berita itu dari polisi setempat.


Eva dan Mike bergegas mendatangi pemilik penginapan. Memastikannya.


“Apa sopir taksi itu orang ini?” Mike menunjukkan foto Gun yang didapatnya dari kantor pusat, setelah berhasil memastikan identitas Gun.


“Ya, itu dia. Aku yakin. Dia memukuli tamuku dan membawanya pergi. Astaga itu menakutkan sekali.”


“Apa kau tahu korban yang dia bawa, Bi?” tanya Eva.


“Entahlah. Sepertinya dia bukan orang sini. Katanya, dia kemari karena mencari udara segar di pedesaan.”


“Bagaimana dia membayar? Tunai atau transfer?”


“Tunai.”


“Lantas, kwitansinya?”


“Astaga. Disini hanya penginapan kecil. Aku tak memiliki alat untuk mencetak kwitansi.” Si Pemilik penginapan mengernyitkan dahi.


Eva menghela nafas panjang. Buntu!


“Itu! Lihat itu!”


Sebuah ponsel tergeletak di pekarangan penginapan.


Deg! Jantung Eva berdetak kencang. Sebuah ponsel bermerek Samsung Z Fold, dengan wallpaper foto pernikahannya dengan Igor. Tak salah lagi.


“Astaga. Itu pasti ponselnya. Ini tempat dia dipukuli oleh sopir taksi itu,” seru Si Pemilik penginapan.


“Bagaimana ini? Sepertinya korban penculikan itu adalah suamiku sendiri.” Jantung Eva semakin berdetak kencang.


“Apa? Apa maksudmu?” tanya Mike.


“Entahlah. Aku tak tahu apa yang kukatakan, tapi… tapi, ini ponsel milik suamiku.”


Eva membuka galeri, menunjukkan foto suaminya.


“Apakah orang ini yang diculik? Apa pria ini adalah tamu di penginapan mu, Bi?”


“Ya, benar. Kau harus menyelamatkan dia, Nona.”


*KRING!!!


“Halo, Inspektur Han!”  Mike mengangkat telepon.


“Tersangka masih berada di sekitar kota, tak jauh dari tempatmu berada. Dimana kau?”


Dengan alat teknologi yang canggih saat itu, semua masalah dapat terselesaikan dengan mudah.


Beberapa kamera CCTV yang berada di jalanan dan alat gps yang semakin canggih. Petugas kepolisian dapat mengakses CCTV dan GPS hanya dari kantor.


 “Aku dan Detektif Eva berada di sebuah penginapan. Masih di satu daerah yang sama.”


Eva merebut ponsel Mike. Mengambil alih panggilan.


Dia meronta-ronta, agar suaminya segera ditemukan. Persetan dengan pelaku pembunuhan Fredrik. Eva hanya ingin suaminya selamat lebih dulu, daripada harus mati di tangan Gun.


“Berhentilah merengek, dan cepat masuk ke dalam mobil. Aku akan mengirimkan sinyal gps ke mobilmu,” ucap Inspektur Han.


Tanpa berpamitan dengan pemilik penginapan, Eva berlari ke mobil polisi dan mengambil alih kemudinya.


“Senior, tunggu!!” Mike menyusul Eva.