SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 028


“Pak Igor!”


“Ya, dengan saya sendiri.”


“Kenapa Gun menyiksamu dahulu, bukannya membunuhmu secara langsung?”


Ruangan hening sejenak, begitupun dengan Igor yang berusaha mencari jawaban atas kecurigaan Han.


“Menyiksa seseorang adalah tindakan paling ekstrim. Hanya para gangster dan mafia-mafia besar yang melakukan itu. Para mafia besar di kota ini melakukan itu untuk mendapat jawaban dari seorang yang disiksanya.”


Masih hening tak ada jawaban. Eva dan Mike melihat Han berpikir keras.


“Itulah yang paling membuatku penasaran. Apa yang dipertanyakan Gun kepadamu?”


“Inspektur Han!” tegas Eva melotot. “Apa yang kau lakukan? Kau mengajukan pertanyaan yang berat kepada korban.”


“Sayang, kau tak perlu berusaha keras untuk menjawabnya. Ini bukanlah interogasi. Jika kau tidak tahu atau tidak ingat, kau boleh tak menjawab.” Eva menatap Igor.


“Eva! Jika kau sedang menjadi polisi, maka duduklah di sebelahku, dan jika kau menjadi istri yang membantu pernyataannya, maka duduklah disamping suamimu. Jangan memotong seenaknya saja!” Han kesal.


“Astaga. Itu benar, Senior. Kau sepertinya terlalu bereaksi berlebihan,” timpal Mike.


“Segera putuskanlah! Dimana kau akan duduk, sehingga kau tak menggangguku.”


Igor tersenyum lebar pada Eva meyakinkan. “Aku baik-baik saja, Sayang.”


“Baiklah. Kurasa aku harus keluar.” Eva berjalan keluar sewot.


Igor mulai menjelaskan. Saat dia membujuk Gun, dia mengatakan bahwa memiliki saudara yang bekerja di kepolisian saat tragedi itu berlangsung.


Dan mungkin saja, Gun melampiaskan amarahnya pada Igor, karena polisi tak menemukan istrinya. Dan Igor pingsan setelah ditusuk di bagian lengan dan terbangun setengah sadar, saat Eva menurunkannya dari derek yang menggantung tubuhnya.


Han mengangguk masih belum puas mendengar penjelasan darinya. “Itulah yang menurutku paling aneh. Kenapa dia tak langsung membunuhmu, seperti dia membunuh Fredrik?


Dia malah mengulur waktu selama mungkin untuk mencoba menarik derek itu. Seolah-olah memberimu kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.” Han berdiri dan berjalan mondar-mandir.


20 tahun menjadi seorang polisi membuat Han memiliki banyak pengalaman dan dapat melihat hal yang mengganjal. Kepalanya dipenuhi dengan kecurigaan pada Igor saat itu.


“Entahlah. Aku pun juga tak tahu, kenapa dia melakukan itu,” jawab Igor santai. “Mungkin saja karena dia tidak menyukai polisi. Jika petugas polisi tidak segera datang saat itu, aku mungkin sudah mati tergantung.


Aparat polisi tak bisa menyelamatkanku sebagai korban, dan rasa bersalah itu akan tinggal di dalam semua kepolisian yang ada saat itu. Kurasa itulah alasannya.” Igor menjawab cerdik.


“Hahahaha. Bagaimana kau mengetahui apa yang sedang dipikirkannya saat itu?”


“Ah, kau benar Inspektur. Hanya Gun yang bisa mengetahui apa yang sedang dia pikirkan, begitupun denganku. Aku bukan cenayang. Tak ada cara bagiku untuk mengetahui apa yang dia pikirkan.”


Inspektur terdiam. Igor membalikkan perkataannya. Han kembali duduk ke kursinya.


“Jadi, bisakah kau memberikan pertanyaan yang bisa kujawab, Inspektur Han?”


“Hmmm. Kau pergi ke desa itu dengan wartawan Roy yang baru kau kenal saat dia pergi ke tempat kerjamu, kemudian kau juga kebetulan naik taksi milik Gun, dan dia memilihmu secara acak untuk dijadikan korban?”


“Apa itu sebuah pertanyaan?” tanya balik Igor menatap Han


“Tidak. Sebut saja ini sebuah keraguanku.” Mereka saling bertatapan mata satu sama lain, memberi pernyataan dan memberi argumen.


“Inspektur Han, apa kau tidak menyukaiku? Kau bertanya seperti menyudutkanku sebagai tersangka.”


Igor menyeringai lebar. “Aku tahu segala, Inspektur Han. Beberapa tahun pertama kami menikah, saat itulah dia mengenalkanku padamu. Kau bahkan menyambutku seperti saudaramu sendiri saat itu.


Akan tetapi, diam-diam kau menyuruh Eva untuk memutuskanku tanpa sepengetahuanku. Kau berkata bahwa aku tidak menarik sama sekali. Aku mendengar semua itu dari istriku. Mana mungkin dia berbohong?”


Inspektur Han diam seribu bahasa. Dia sangat malu, karena Eva menceritakan perkataannya pada suaminya sendiri. Dia tak bisa berkata-kata lagi.


“Apa aku pernah berbuat salah kepadamu? Jika aku pernah, katakanlah, dan aku akan meminta maaf sepenuh hati padamu.”


Han hanya tersenyum sinis. Dia kalah telak berdebat dengan Igor.


“Detektif Mike, kurasa akan lebih baik jika kau yang menginterogasi ku. Aku tahu pekerjaan ini adalah sepenuhnya tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab Inspektur Han yang memiliki jabatan yang lebih tinggi.”


“Ya, baiklah. Aku akan melakukannya.”


“Inspektur Han, berikan padaku. Biar aku saja. Kau bisa menikmati hari liburmu.”


Han berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “Baiklah. Lagipula, bukan waktunya lagi untukku mengurus hal seperti ini. Mari kita tunggu sampai Gun ditangkap, maka semua yang ada di pikirannya akan diketahui.”


Han mendengus dan pergi dari ruangan itu.


Igor hanya diam dan tersenyum melihatnya.


30 menit berlangsung cepat. Igor telah memberikan semua pernyataannya kepada Mike.


Eva bergegas masuk setelah Mike keluar dari kamar. Wajahnya tampak murung, dipenuhi pertanyaan di kepalanya.


“Semua sudah diselesaikan dengan baik, Sayang.” Igor beranjak dari tempat tidurnya melihat Eva yang datang.


Eva tersenyum kecil dan menunduk.


“Ada apa denganmu, Sayang? Apa ada masalah?”


“Tidak. Bukan apa-apa. Mike juga berkata padaku, bahwa kau melakukannya dengan baik. Kerja bagus.” Eva berjalan menuju sofa yang ada di pojok ruangan.


“Kau tak seperti biasanya. Kau tampak mengkhawatirkan sesuatu. Apa itu? Katakan saja, aku akan mendengarkanmu.”


“Tak apa. Aku baik-baik saja. Tak ada masalah sama sekali.” Eva duduk di sofa dan memalingkan wajahnya.


“Eva, kau harus pulang dan istirahat dengan cukup malam ini. Kau tampak lelah sekali, setelah satu minggu penuh menungguku di tempat ini. Kau harus segera pulang dan beristirahat. Aku akan baik-baik saja.”


Igor menyusul Eva duduk di sofa.


“Bagaimana mungkin aku bisa pulang dan beristirahat? Bagaimana aku bisa tidur nyenyak di rumah dalam situasi ini?”


“Kenapa kau berkata seperti itu?” Igor tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


“Kenapa? Kau hampir saja mati di depan mataku. Peristiwa itu baru terjadi seminggu yang lalu. Kau tak sadarkan diri selama seminggu penuh. Apa kau tahu betapa hancurnya aku? Kau tahu?”


Emosi Eva sedang tinggi dan matanya berkaca-kaca. Pikirannya sangat kacau, dipenuhi kecurigaannya sendiri pada suaminya.


“Kakiku menyerah setiap kali aku mendapatkan telepon dari luar. Semua orang mencariku. Kenapa mereka mencariku? Kenapa mereka ingin berbicara denganku? Semua wartawan dan reporter sialan itu.


Aku selalu menolak telepon dari nomor tak dikenal yang selalu menggangguku setiap waktu, bahkan setiap detik. Aku sangat syok saat melihatmu tergantung di depan mataku, dan kau ingin menyuruhku pulang?


Setiap kali aku pulang ke rumah yang sepi, aku selalu khawatir jika aku akn hidup sendirian nantinya. Tahukah kau betapa takutnya diriku saat itu? Kau tak akan pernah tahu betapa menyiksanya seminggu terakhir ini bagiku.”