SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH

SUAMIKU BUKAN PEMBUNUH
EPISODE 046


“Ah, itu. Aku baru tahu, ternyata Alex suka memasang jebakan, jadi, mungkin saja dia memasang sebuah jebakan untuk menculik para korban yang ada. Oliv memberitahukan itu padaku,” jelas Roy.


“Ah, benar juga. Wartawan Roy, mengenai pertanyaan yang kau katakan tadi, soal suara itu. Mungkin kau juga harus memberitahukannya pada istriku.”


Igor menatap Roy memberikan kode dari lirikannya.


“Oh, itu.” Roy bergegas memutar rekaman kaki tangan itu kembali.


Semua orang segera duduk untuk mendengarkan rekaman.


“Itu dia. Apa kau dapat mendengar itu, Detektif? Suara benda saling terbentur itu di dekat orang yang sedang berbicara.”


“Yang pasti, itu bukan benda yang terlalu besar, tapi entahlah, karena suaranya pun tak begitu jelas.”


“Menurutmu, benda apa itu?” tanya Roy.


“Entahlah. Bagaimana aku tahu itu? Jika aku tahu, aku pasti sudah menangkap kaki tangan itu.” Oliv menyeringai lebar.


“Hmm, kau benar. Jika kau langsung tahu, maka kau benar-benar seorang cenayang, jika tidak, berarti kau adalah kaki tangan itu sendiri. Hahahaha.” Roy tertawa terbahak-bahak.


“Akan tetapi, aku mempunyai seorang kenalan dan agen yang bisa menganalisa audio rekaman seperti itu. Aku yakin dia bisa memulihkan dan memperjelas suara itu.”


*BRAK! Roy berseru menggebrak meja. “Kau sangat hebat, Detektif. Inilah alasan setiap orang memiliki seorang aparat kepolisian di keluarganya.”


Igor kembali melirik Roy dengan sinis.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi dulu.” Oliv memakai jaketnya kembali dan beranjak berdiri. “Semoga kalian berhasil, aku permisi dulu.”


“Tunggu, Nona Oliv. Apa kau ingin kaki tangannya tertangkap?”


“Ya, tentu saja. Aku sangat mengharapkan itu. Aku yakin semua orang juga berharap seperti itu,” jawab Oliv menatap Roy dan adiknya.


“Akan tetapi, bukankah sangat memungkinkan bahwa itu adalah Arthur?” tanya Eva yang berpura-pura tak tahu, bahwa Arthur memang bukan kaki tangan itu.


“Tidak. Itu bukan Arthur. Aku sangat yakin itu.”


“Bagaimana kau sangat yakin dengan itu?”


“Karena Arthur yang kukenal tak akan pernah melakukan hal seperti itu,” tegas Oliv.


“Aku merasa bahwa Arthur yang kau kenal sangatlah berbeda dengan Arthur yang kukenal.”


DEG!!! Jantung Oliv dan Igor berdetak kencang mendengar ucapan Eva. Raut wajah Igor mengerut seketika.


“Aku sudah bertemu dengan semua orang yang pernah berhubungan dengannya saat dia masih kecil hingga dia bekerja di tempat pengiriman barang, sebelum dia menghilang.


Beberapa guru sekolahnya pernah berkata padaku, selagi dia tak merasakan emosional, dia bisa sangat baik berhubungan dengan orang lain.


Dengan begitu, dia yakin, begitu Arthur menginjak dewasa, dia akan memanipulasi orang lain demi kepentingannya sendiri. Siapapun itu, teman, kerabat, bahkan istri maupun anaknya sendiri, jika dia punya.”


Igor semakin tercengang mendengar perkataan Eva. Dia mulai berpikir, apakah Eva sudah sedalam itu menyelidikinya tentang Arthur? Igor tak bisa berkata apapun saat itu.


“Aku juga sudah menonton video konselingnya saat Arthur masih kecil. Dia berkata, meskipun dia ingin membunuh seseorang, dia tak akan pernah melakukan itu.


Dengan alasan, hanya karena dia tak ingin kesulitan untuk menyingkirkan mayatnya manusia, jadi, dia memilih untuk membunuh hewan atau apapun yang mudah baginya, asal bukan manusia.”


“Bukan Arthur yang melakukan itu!” bentak Oliv.


“Lantas siapa yang melakukan itu?” tanya Eva santai.


“Mungkinkah jika Alex yang melakukan itu? Jika benar, kenapa Arthur kecil pernah berkata bahwa dia melakukan hal yang dilakukan oleh Alex? Apa menurutmu itu tidaklah aneh, Nona Oliv?”


“Entahlah. Aku juga ingin menanyakan hal itu padanya. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia mengatakan hal yang sama sekali tak pernah dia perbuat? Aku juga ingin menanyakan itu padanya.


Bagaimana dia bisa begitu. Apa yang dia pikirkan saat dia melakukan hal itu. Kenapa dia disalahkan atas apa yang tak diperbuat olehnya.”


Oliv berbicara menggebu-gebu dan matanya mulai berkaca-kaca.


Kedua wanita dewasa itu saling beradu mulut dan mengeluarkan argumennya masing-masing.


Oliv tetap mempertahankan argumennya, sedangkan Eva masih berpura-pura tak tahu apapun untuk melihat reaksi dari suaminya.


Igor tak dapat melakukan apapun untuk menghentikan itu. Dia menyenggol-nyenggol kaki Roy dengan tangannya, berharap Roy dapat menghentikan perdebatan yang semakin memanas itu.


Eva beranjak berdiri dari sofa dan menatap Oliv. “Nona Oliv. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Sepertinya, kau ingin mengatakan sesuatu, tapi, kau terus menahannya. Apa maksud dari perkataanmu tadi?”


“Ya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Oliv mendengus menatap tajam Eva. “Aku ingin kau tahu apa yang sudah kuperbuat dan bukanlah Arthur yang melakukannya.”


Keadaan semakin tegang. Igor ketakutan jika Oliv akan mengaku bahwa dia adalah orang yang telah membunuh petani malang itu sebenarnya.


“Apa maksudmu? Bisakah kau menjelaskan yang lebih detail?” seru Eva. Dia bersemangat, karena tak sia-sia usahanya untuk terus memancing dengan perkataannya.


“Pembunuh petani itu…..”


*PYAR!!!!


“Astaga, maafkan aku, Wartawan Roy!” Igor sengaja menjatuhkan gelas berisi es kopi ke lantai, sebelum Oliv menyelesaikan perkataannya.


“Ah, sial! Astaga, karpet ini sangat mahal, dan kau menjatuhkan kopi di atasnya.” Roy ikut-ikutan untuk mengalihkan perhatian Oliv dan Eva.


“Maafkan aku, Wartawan Roy. Tanganku sangat licin, dan tak sengaja menjatuhkannya. Lain kali, aku akan menggantinya dengan kerajinan logam milikku yang lebih mahal.” Igor membantu Roy mengelap karpet dan lantai dengan tisu dan alat pel.


“Astaga. Sudahlah, lupakan saja semua ini. Aku ingin kalian pergi dari sini sekarang juga. Tinggalkan aku sendiri.”


Igor pun segera mengajak Eva untuk pergi dari apartemen Roy, meninggalkan Oliv disana.


Igor mengajak Eva masuk ke dalam mobil untuk berbicara.


“Maafkan aku, Sayang,” ucap Igor.


“Untuk apa?” tanya Eva ketus tanpa ekspresi apapun.


“Karena aku tak memberitahumu bahwa aku bekerja sama dengan Wartawan Roy.”


“Tak, apa. Kau tak perlu berbagi segalanya padaku hanya karena sudah menikah. Sungguh, aku tak apa.”


“Terima kasih, Sayang.” Igor menyeringai lebar.


“Aku juga tak mengatakan semua hal padamu hanya karena kita sudah menikah, jadi, aku tak masalah dengan itu.” Eva memalingkan wajahnya.


“Tunggu apalagi? Mari kita berangkat. Apa kau ingin mengantarku? Jika kau sibuk, aku bisa memesan taksi sendiri. Aku harus segera kembali ke kantor.”


“Hmmm. Baiklah.” Igor menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi mengantar Eva ke kantornya.


Selama perjalanan, Eva hanya memalingkan wajahnya. Dia menatap pemandangan luar dari balik kaca jendela mobil. Terus memikirkan semua hal yang terjadi.


“Andai kau menjadi Alex, bagaimana kau akan memberikan kunci mobil kepada kaki tanganmu?” tanya Eva tiba-tiba.