Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 94


Li Jihyun membuang napas kasar. Menaikkan poni yang menutupi


dahi. Pedang yang teracung itu semakin dekat. Sampai ujungnya berkilauan saking


tajam. Begitu ujung pedang mendekat gadis itu berkelit, menundukkan


pandangannya. Dua ujung pedang itu lolos begitu saja. Membuat kedua pedang itu


beradu terdengar dari suaranya yang membuat ngilu telinga.


 Dengan cepat keempat ujung pedang itu beralih ke bawah. Ke


arah kepala gadis itu menunduk. Li Jihyun yang melihat kilatannya segera


mendongak. Membuat matanya bertemu dengan pedang diatasnya tadi. Tangannya


dikepal dan meninju pedang diatasnya tadi. Membuat pedang itu terlempar. Li


Jihyun segera salto dan melompat mundur.


Napasnya sedikit tersengal. Diusap keringat yang bercucuran.


"Serangan yang tidak buruk," puji Li Jihyun melihat keempat orang


yang menusuk udara kosong. Tiba tiba sebuah bayangan mendekat ke belakangnya.


Sangat cepat sampai tidak disadari. Xei sudah berada dibelakang Li Jihyun.


Meletakkan pedang tajam itu ke leher gadis itu. Terasa dingin saat menyentuh


kulit.


"Itu masih belum cukup," gumam Li Jihyun yang


membuat dahi Xei terlipat. Xei langsung menggores leher Li Jihyun. Darah


menetes tapi raut wajah Li Jihyun tidak menunjukkan kesakitan. Tapi Li Jihyun


justru tertawa. Xei terkejut saat mendengar tawa Li Jihyun begitu juga keenam


temannya. "Lamban," katanya menyikut perut Xei membuat leher Li


Jihyun terluka. Darah bercucuran keluar.


 Melihat pegangan pedang Xei longgar, Li Jihyun merebutnya


dengan cepat dan menusuk jantung Xei. Sebelum Xei sempat membalasnya.


"XEI!" teriak keenam temannya histeris. Mata mereka nyalang menatap


Li Jihyun. Dia sudah mencabut pedang itu dan membuat tubuh Xei terjerembab


jatuh. Darah mengalir membanjiri lantai.


 "Merepotkan. Padahal kalian bisa menyerangku


diluar," ujar Li Jihyun mengusap bawah dagunya yang berkeringat. Matanya


menyapu keenam orang itu. Menatap mereka bergantian.


 "Sialan! Dasar pembunuh!" teriak salah satunya


merangsek maju. Diikuti kelima dibelakangnya. Pedang itu kini mengarah tepat


mengincar alat vitalnya. Li Jihyun menangkis serangan mereka satu per satu.


Suara dentingan pedang terdengar berisik. Hanya karena di kamar selir agung


sepi dari dayang maupun pengawal. Membuat siapapun tak ada datang kemari.


Kecuali ada dayang atau selir yang kebetulan lewat. Satu dua Li Jihyun balas


menyerang mereka.


 Mereka melompat mundur menatap Li Jihyun yang masih berdiri


kokoh. Kondisi yang sama seperti keenam orang itu. Mereka saling tatap. Pedang


ditangan masing masing teracung ke depan. Bersiap menyerang satu sama lain.


 "Sepertinya kami terlalu meremehkan anda." Li


Jihyun menaikkan sebelah alis matanya.


 "Ini masih terlalu dini menilaiku," ujar Li Jihyun


memasang kuda kuda. Tangannya memegang erat pegangan pedang. Jemari lentiknya


saling berkaitan satu sama lain. Aku akan menghabisi mereka semuanya, batinnya


menarik napas.


 Li Jihyun melompat maju. Mengangkat pedang ditangan setinggi


kepala. Keenam orang itu mendongak dan mengangkat pedang. Membuat serangan itu


tertahan. Kedua orang itu saling tatap. Tak ada satu pun yang bersuara.


Tring!


Pedang Li Jihyun ditangkis membuat gadis itu mundur. Begitu


ujung kakinya menyentuh tanah. Li Jihyun melompat maju. Tangannya mengarahkan


pedang itu kesamping kiri. Larinya yang cepat membuat keenam orang itu waspada.


"Hati hati jangan sampai kalian terkecoh," peringat salah satunya


yang diangguki lain.


Li Jihyun tak menyerang terlebih dulu. Gadis itu melompat


seolah melingkari mereka. Gerakannya yang lincah menyulitkan fokus mereka.


depan.


Mata pun fokus memperhatikan ke depan. Tak membiarkan ada


celah walau sedikit. "Fokus!" teriak salah satunya memperingatkan


yang lain. Li Jihyun masih melompat mendekati mereka. Tapi tak ada sabetan


pedang yang melayang ke arah keenam orang itu. Membuat keenamnya menerka arah


serangan Li Jihyun.


Li Jihyun berhenti melompat tepat disisi kanan. Jarak yang


dekat mengejutkan orang itu. Belum habis rasa terkejutnya tiba tiba pedang


ditangan Li Jihyun melayang ke arahnya. Tapi orang yang diserang Li Jihyun


malah berkelit dan menusuk lengan gadis itu.


Darah merembes dari hanfunya. Melihat ada kesempatan orang


disebelahnya pun hendak menyerang Li Jihyun. Tak sempat berkelit pedang itu


merobek hanfunya dan menggores lengannya yang terluka. Darah bercucuran keluar.


Tapi gadis itu tak terlihat kesakitan.


Hal yang cukup membingungkan keenam orang itu. Melihat tak


ada perlawanan dari Li Jihyun salah satunya menusukkan pedangnya tepat diperut


gadis itu. Mulutnya mengeluarkan darah hingga jatuh menetes. “Sudah cukup bermainnya,”


ujar Li Jihyun tersenyum. Pedang yang sejak tadi ditangan Li Jihyun melayang kearah


ketiga orang itu.


“MENGHINDAR!” teriak salah satunya namun naas pedang itu


sudah menebas leher ketiganya hingga terputus. Tak menunggu waktu lama mereka


melompat mundur. Kini tersisa tiga orang.


“Kita harus mundur. Tak ada kesempatan kita untuk


menyerangnya,” ujar temannya melihat Li Jihyun menendang kepala salah satu dari


ketiga orang itu. Amarah pun sontak membuncah. Teman disebelahnya hendak maju


tapi ditahan temannya tadi. “Tunggu! Jangan terpancing! Dia pasti sengaja,”


ujarnya yang masih memperhatikan gelagat Li Jihyun.


Gadis didepan mereka terlihat menikmati. Bukannya takut atau


kesakitan. Dia seperti bukan manusia. “Gadis itu! Bagaimana bisa tidak


merasakan sakit? Apa dia sungguh manusia?” kepala temannya menggeleng. Dia juga


baru pertama kali bertemu manusia yang tidak bisa merasakan sakit. Cukup mengherankan


baginya dan juga menakutkan.


 “Aku juga tidak tau. Tapi sebaiknya sekarang kita kabur,” ujarnya


yang ditolak kedua temannya.


 “Tidak bisa. Dia sudah membunuh teman-teman kita. Apa kamu


tidak …” belum habis kalimatnya Li Jihyun sudah tiba didepannya. Entah sejak


kapan dia berpindah dengan cepat. Bahkan satu langkah pun tak terdengar. Sangat


senyap sampai membuat ketiganya tidak menyadarinya. Padahal mereka adalah bayangan


kaisar yang mempunyai kekuatan diatas prajurit istana lainnya.


 Splash!


Pedang itu menyabet leher temannya dengan cepat. Lagi kepala


lainnya terputus. Keduanya terdiam, membeku. Darah muncrat bercipratan mengenai


wajahnya dan wajah kedua orang itu. “Sekarang giliran kalian,” ucapnya


menyeringai.


Pedang ditangannya bersiap melayang mengincar leher mereka.


Salah satunya bergerak cepat menepis serangan Li Jihyun. Dia juga mendorong


tubuh Li Jihyun mundur dengan pedangnya. “Sekarang cepat lari! Laporkan pada


yang mulia kaisar,” perintahnya menyadarkan lamunan temannya.  Dia segera pergi kearah pintu yang terbuka.


Melihat salah satunya yang hendak kabur. Li Jihyun melompat dengan cepat, diangkatnya


pedang setinggi kepala. Namun serangannya terhambat. Temannya justru berdiri


didepan Li Jihyun. “CEPAT!” teriaknya kencang sambil menahan serangan pedang Li


Jihyun.


 Dia mempercepat larinya. Jarak antara dia dengan pintu


sejauh 10 langkah. Li Jihyun mengatupkan rahang. “Kalian pikir bisa kabur


dariku dengan mudah, hah?!” teriaknya dengan marah. Li Jihyun menjauhkan pedangnya dan mundur. Dia berlari cepat


ke arah salah satunya yang sudah hampir mencapai ambang pintu.