
Li Jihyun membuang napas kasar. Menaikkan poni yang menutupi
dahi. Pedang yang teracung itu semakin dekat. Sampai ujungnya berkilauan saking
tajam. Begitu ujung pedang mendekat gadis itu berkelit, menundukkan
pandangannya. Dua ujung pedang itu lolos begitu saja. Membuat kedua pedang itu
beradu terdengar dari suaranya yang membuat ngilu telinga.
Dengan cepat keempat ujung pedang itu beralih ke bawah. Ke
arah kepala gadis itu menunduk. Li Jihyun yang melihat kilatannya segera
mendongak. Membuat matanya bertemu dengan pedang diatasnya tadi. Tangannya
dikepal dan meninju pedang diatasnya tadi. Membuat pedang itu terlempar. Li
Jihyun segera salto dan melompat mundur.
Napasnya sedikit tersengal. Diusap keringat yang bercucuran.
"Serangan yang tidak buruk," puji Li Jihyun melihat keempat orang
yang menusuk udara kosong. Tiba tiba sebuah bayangan mendekat ke belakangnya.
Sangat cepat sampai tidak disadari. Xei sudah berada dibelakang Li Jihyun.
Meletakkan pedang tajam itu ke leher gadis itu. Terasa dingin saat menyentuh
kulit.
"Itu masih belum cukup," gumam Li Jihyun yang
membuat dahi Xei terlipat. Xei langsung menggores leher Li Jihyun. Darah
menetes tapi raut wajah Li Jihyun tidak menunjukkan kesakitan. Tapi Li Jihyun
justru tertawa. Xei terkejut saat mendengar tawa Li Jihyun begitu juga keenam
temannya. "Lamban," katanya menyikut perut Xei membuat leher Li
Jihyun terluka. Darah bercucuran keluar.
Melihat pegangan pedang Xei longgar, Li Jihyun merebutnya
dengan cepat dan menusuk jantung Xei. Sebelum Xei sempat membalasnya.
"XEI!" teriak keenam temannya histeris. Mata mereka nyalang menatap
Li Jihyun. Dia sudah mencabut pedang itu dan membuat tubuh Xei terjerembab
jatuh. Darah mengalir membanjiri lantai.
"Merepotkan. Padahal kalian bisa menyerangku
diluar," ujar Li Jihyun mengusap bawah dagunya yang berkeringat. Matanya
menyapu keenam orang itu. Menatap mereka bergantian.
"Sialan! Dasar pembunuh!" teriak salah satunya
merangsek maju. Diikuti kelima dibelakangnya. Pedang itu kini mengarah tepat
mengincar alat vitalnya. Li Jihyun menangkis serangan mereka satu per satu.
Suara dentingan pedang terdengar berisik. Hanya karena di kamar selir agung
sepi dari dayang maupun pengawal. Membuat siapapun tak ada datang kemari.
Kecuali ada dayang atau selir yang kebetulan lewat. Satu dua Li Jihyun balas
menyerang mereka.
Mereka melompat mundur menatap Li Jihyun yang masih berdiri
kokoh. Kondisi yang sama seperti keenam orang itu. Mereka saling tatap. Pedang
ditangan masing masing teracung ke depan. Bersiap menyerang satu sama lain.
"Sepertinya kami terlalu meremehkan anda." Li
Jihyun menaikkan sebelah alis matanya.
"Ini masih terlalu dini menilaiku," ujar Li Jihyun
memasang kuda kuda. Tangannya memegang erat pegangan pedang. Jemari lentiknya
saling berkaitan satu sama lain. Aku akan menghabisi mereka semuanya, batinnya
menarik napas.
Li Jihyun melompat maju. Mengangkat pedang ditangan setinggi
kepala. Keenam orang itu mendongak dan mengangkat pedang. Membuat serangan itu
tertahan. Kedua orang itu saling tatap. Tak ada satu pun yang bersuara.
Tring!
Pedang Li Jihyun ditangkis membuat gadis itu mundur. Begitu
ujung kakinya menyentuh tanah. Li Jihyun melompat maju. Tangannya mengarahkan
pedang itu kesamping kiri. Larinya yang cepat membuat keenam orang itu waspada.
"Hati hati jangan sampai kalian terkecoh," peringat salah satunya
yang diangguki lain.
Li Jihyun tak menyerang terlebih dulu. Gadis itu melompat
seolah melingkari mereka. Gerakannya yang lincah menyulitkan fokus mereka.
depan.
Mata pun fokus memperhatikan ke depan. Tak membiarkan ada
celah walau sedikit. "Fokus!" teriak salah satunya memperingatkan
yang lain. Li Jihyun masih melompat mendekati mereka. Tapi tak ada sabetan
pedang yang melayang ke arah keenam orang itu. Membuat keenamnya menerka arah
serangan Li Jihyun.
Li Jihyun berhenti melompat tepat disisi kanan. Jarak yang
dekat mengejutkan orang itu. Belum habis rasa terkejutnya tiba tiba pedang
ditangan Li Jihyun melayang ke arahnya. Tapi orang yang diserang Li Jihyun
malah berkelit dan menusuk lengan gadis itu.
Darah merembes dari hanfunya. Melihat ada kesempatan orang
disebelahnya pun hendak menyerang Li Jihyun. Tak sempat berkelit pedang itu
merobek hanfunya dan menggores lengannya yang terluka. Darah bercucuran keluar.
Tapi gadis itu tak terlihat kesakitan.
Hal yang cukup membingungkan keenam orang itu. Melihat tak
ada perlawanan dari Li Jihyun salah satunya menusukkan pedangnya tepat diperut
gadis itu. Mulutnya mengeluarkan darah hingga jatuh menetes. “Sudah cukup bermainnya,”
ujar Li Jihyun tersenyum. Pedang yang sejak tadi ditangan Li Jihyun melayang kearah
ketiga orang itu.
“MENGHINDAR!” teriak salah satunya namun naas pedang itu
sudah menebas leher ketiganya hingga terputus. Tak menunggu waktu lama mereka
melompat mundur. Kini tersisa tiga orang.
“Kita harus mundur. Tak ada kesempatan kita untuk
menyerangnya,” ujar temannya melihat Li Jihyun menendang kepala salah satu dari
ketiga orang itu. Amarah pun sontak membuncah. Teman disebelahnya hendak maju
tapi ditahan temannya tadi. “Tunggu! Jangan terpancing! Dia pasti sengaja,”
ujarnya yang masih memperhatikan gelagat Li Jihyun.
Gadis didepan mereka terlihat menikmati. Bukannya takut atau
kesakitan. Dia seperti bukan manusia. “Gadis itu! Bagaimana bisa tidak
merasakan sakit? Apa dia sungguh manusia?” kepala temannya menggeleng. Dia juga
baru pertama kali bertemu manusia yang tidak bisa merasakan sakit. Cukup mengherankan
baginya dan juga menakutkan.
“Aku juga tidak tau. Tapi sebaiknya sekarang kita kabur,” ujarnya
yang ditolak kedua temannya.
“Tidak bisa. Dia sudah membunuh teman-teman kita. Apa kamu
tidak …” belum habis kalimatnya Li Jihyun sudah tiba didepannya. Entah sejak
kapan dia berpindah dengan cepat. Bahkan satu langkah pun tak terdengar. Sangat
senyap sampai membuat ketiganya tidak menyadarinya. Padahal mereka adalah bayangan
kaisar yang mempunyai kekuatan diatas prajurit istana lainnya.
Splash!
Pedang itu menyabet leher temannya dengan cepat. Lagi kepala
lainnya terputus. Keduanya terdiam, membeku. Darah muncrat bercipratan mengenai
wajahnya dan wajah kedua orang itu. “Sekarang giliran kalian,” ucapnya
menyeringai.
Pedang ditangannya bersiap melayang mengincar leher mereka.
Salah satunya bergerak cepat menepis serangan Li Jihyun. Dia juga mendorong
tubuh Li Jihyun mundur dengan pedangnya. “Sekarang cepat lari! Laporkan pada
yang mulia kaisar,” perintahnya menyadarkan lamunan temannya. Dia segera pergi kearah pintu yang terbuka.
Melihat salah satunya yang hendak kabur. Li Jihyun melompat dengan cepat, diangkatnya
pedang setinggi kepala. Namun serangannya terhambat. Temannya justru berdiri
didepan Li Jihyun. “CEPAT!” teriaknya kencang sambil menahan serangan pedang Li
Jihyun.
Dia mempercepat larinya. Jarak antara dia dengan pintu
sejauh 10 langkah. Li Jihyun mengatupkan rahang. “Kalian pikir bisa kabur
dariku dengan mudah, hah?!” teriaknya dengan marah. Li Jihyun menjauhkan pedangnya dan mundur. Dia berlari cepat
ke arah salah satunya yang sudah hampir mencapai ambang pintu.