Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 18


Li Jihyun duduk sambil memperhatikan gelagat Long Jian. Dia mencurigai kedatangan Long Jian. Walaupun dia menduga tujuan Long Jian datang ke kamar ini pasti membalaskan dendam atas pembunuhan selir Xu Diu. Bukan karena asas cinta melainkan politik. Apalagi sekarang keluarga Xu menolak memberikan bantuan militer gara gara kematian selir Xu Diu diistana. Itulah alasan Long Jian sampai turun tangan memberikan hukuman untuk Li Jihyun. Rencananya memperluas wilayah kekuasaan jadi tertunda akibat ulah Li Jihyun.


Jika saja selir Xu tak mencari masalah di masa lalu pasti tragedi itu takkan terjadi. Sekarang Li Jihyun sedang mencari orang yang dulu menyakiti Yona. Dia sudah mendapatkan satu orang dan tinggal beberapa orang lagi yang akan dia bunuh nanti. Termasuk Long Jian adalah orang nomor satu yang akan dia hancurkan terlebih dahulu. Setiap bertatapan dengan Long Jian, Li Jihyun kerap kali menahan amarah.


Dia mengepalkan tangan dengan erat hingga kuku dijemarinya memucat. Bayangan kematian orangtua dan orang terdekatnya selalu menghantui setiap melihat wajah Long Jian. Dia takkan pernah melupakan kematian orang yang dibantai dengan santai oleh Long Jian. Pedang Long Jian yang berlumuran darah dan jeritan pilu dari orang yang dibunuh Long Jian. Dua hal yang selalu membayanginya hingga sekarang.


"Ada urusan apa anda datang ke kamar saya yang mulia?" tanya Li Jihyun sinis. Pria berwajah tampan itu melirik dayang yang sudah selesai menuangkan teh. Dia melambaikan tangan ke arah dayang itu. Membuatnya langsung membungkuk lantas pergi.


"Apa kamu tidak bisa bersikap ramah pada suamimu?" tanya Long Jian dengan menekankan kata suami. Membuat Li Jihyun bergidik jijik.


"Bukankah itu terlalu berlebihan mengingat kita sebelumnya adalah musuh?" Long Jian tergelak menatap Li Jihyun yang kebingungan. "Kenapa anda tertawa yang mulia? Apakah ada yang lucu?" tanya Li Jihyun dengan ketus. Tawa Long Jian terhenti. Dia menyodorkan cangkir yang sudah diisi teh oleh dayang sebelumnya. Dahi Li Jihyun mengernyit melihat perlakuan ramah Long Jian. Bahkan pria yang dirumorkan dingin dan kejam tiba tiba tersenyum padanya. Pria ini ... apakah sedang merencanakan sesuatu? pikir Li Jihyun menatap lekat Long Jian. Kemudian pandangannya menurun ke arah teh yang sudah berpindah didekatnya.


"Tenang saja selir Li. Aku tidak mencampurkan apapun kedalam teh. Tujuanku datang kali ini untuk berterimakasih padamu," ujar Long Jian meneguk teh hingga tersisa setengah. Matanya yang setajam elang melirik Li Jihyun yang masih menatap tehnya. Walau gadis itu tidak menunjukkan ekspresinya tapi Long Jian tau jika dia mencurigai teh yang dibawanya. Gadis didepan matanya tidak bisa semudah itu diremehkan, mengingat dia adalah gadis jenius. Pasti dia mewaspadai apapun disekitarnya termasuk perbuatan baik sekalipun. Apalagi sekarang dia berada di istana yang berstatus tawanan perang.


"Bagaimana jika yang mulia mencobanya?" tantang Li Jihyun menyodorkan teh itu pada Long Jian. Pria itu menaikkan sebelah alis matanya. Sedikit terkejut melihat tindakan Li Jihyun yang diluar dugaannya. Heh! Kamu salah memilih lawan, batin Li Jihyun tersenyum tipis.


Long Jian menggelengkan kepala sambil menghela napas. "Apa kamu sangat mencurigai suamimu ini?" tanya Long Jian membuat wajah Li Jihyun berubah masam.


"Yang mulia berhentilah mengatakan sesuatu yang menggelikan. Anda pikir saya akan percaya dengan perkataan anda yang manis dengan mengatakan terimakasih pada saya? Tanpa alasan? Heh, anda terlalu meremehkan saya rupanya," kata Li Jihyun membuat Long Jian sedikit tertawa.


"Jadi kamu pikir sikap baikku ini adalah racun?" tanya Long Jian menaikkan alis matanya sebelah. Dia menatap Li Jihyun lekat.


Gadis itu mendengus sambil memalingkan wajah ke arah lain. Melihat Li Jihyun tak menyentuh tehnya, dia menegak teh sampai tandas. Mata Li Jihyun tak berkedip saat melihatnya. Dia terkejut melihat Long Jian tak ragu meneguk teh itu hingga tandas.


"Lihat? Tidak ada apapun didalam tehnya," ujar Long Jian santai. Wajah Li Jihyun pias.


Sial! Kukira dia akan keracunan sendiri. Itu pasti akan jadi tontonan seru. Tapi tehnya tidak beracun dan dia pun tampak baik baik saja. Cih! Aku jadi melewatkan sesuatu yang menarik, batin Li Jihyun kesal sementara Long Jian tersenyum lebar. Walaupun Li Jihyun kebal racun tapi dia sengaja menyuruh Long Jian meminum teh beracun itu untuk membuatnya menderita. Tapi rencana itu jadi sia sia melihat keadaan Long Jian masih baik.


"Nah, sekarang bagaimana jika kamu ikut menikmati teh bersamaku?" ajak Long Jian menuangkan tekonya ke dalam cangkir Li Jihyun yang kosong. Li Jihyun mendengus. Dia menatap cangkir teh yang berpindah didekatnya.


Lidahnya mengecap cita rasa teh. Tidak ada tercium dan terasa racun. Rasa tehnya pun seperti teh pada umumnya. Dahi Li Jihyun terlipat. Tujuan Long Jian datang ke kamarnya sepertinya sekadar mengucapkan terimakasih. Dia sudah salah menduga mengenai Long Jian.


Tapi hatinya masih menyimpan banyak pertanyaan. Terimakasih untuk apa? Apa dia punya niat terselubung? batin Li Jihyun melirik Long Jian yang santai meneguk tehnya.


"Bagaimana cita rasa tehnya? Nikmat bukan?" tanya Long Jian tersenyum ramah. Li Jihyun mengangguk kikuk. Meskipun dia merasakan situasi sekarang janggal. Tapi melihat musuhnya tidak membawa senjata membuat kewaspadaannya longgar.


"Jadi atas alasan apa anda mengucapkan terimakasih pada saya?"


"Kamu ingat kejadian kekeringan di wilayah perbatasan?" tanya Long Jian yang diangguki Li Jihyun. Long Jian menarik napas. "Berkatmu ada banyak rakyat berterimakasih padaku. Cuma itu alasan aku melakukan ini untuk mengucapkan terimakasih selain pemberian gelar selir agung," lanjut Long Jian tersenyum. Li Jihyun mangut mangut mendengarnya.


"Jadi cuma itu yang mulia?" tanya Li Jihyun memastikan yang diangguki Long Jian. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir kosong Li Jihyun. Gadis itu sudah mau meneguk teh yang dituangkan sebelumnya oleh Long Jian.


"Sepertinya kamu masih mencurigaiku. Padahal aku datang kemari tulus mengucapkan terimakasih," ujar Long Jian mengembuskan napas. Li Jihyun meneguk tehnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengalihkan atensi keduanya. Mereka menatap ke arah daun pintu serempak. "Siapa?" tanya Li Jihyun dengan suara keras.


"Maaf yang mulia kaisar dan selir agung sudah menganggu waktunya. Saya ingin bertemu yang mulia kaisar sebentar," jawab suara dibalik pintu. Li Jihyun melirik Long Jian yang mengedikkan bahu. Li Jihyun berdecik kembali melirik ke daun pintu.


"Masuklah!"


Kriet!


Pintu terbuka menampilkan dayang istana yang memasuki kamar Li Jihyun. Gadis muda itu membungkuk hormat saat bertemu keduanya. Ditangannya ada sebuket bunga peony. Dahi Li Jihyun mengerut saat melihatnya.