Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 89


Suara kehebohan terdengar riuh. Gerombolan bangsawan itu memekik takut. Tubuh tanpa kepala itu terjatuh membuat semburan darah membanjiri lantai.


Satu dua bangsawan menahan mual. Mereka memalingkan wajah. Gerombolan bangsawan itu hendak kabur tapi urung. Melihat wanita renta itu tewas sudah cukup menakuti mereka. Tak ada satu pun yang beranjak bangkit. Seketika lutut mereka lemas. Lu Tiong membeku. Kejadian tadi berlangsung sangat cepat. "Bagaimana? Apa sekarang kalian menolak?" tanya Li Jihyun menatap ke arah mereka.


Senyuman merekah di bibir ranumnya. Mereka menelan ludah. Lantas mengangguk takut. Begitu juga Lu Tiong. Tubuhnya sudah bersimbah keringat dingin.


"Pilihan yang bagus. Kuharap kalian tidak bermain dibelakangku," ancam Li Jihyun yang diangguki cepat mereka.


"Ba-Baik yang mulia," jawab mereka serempak meski terpatah patah.


"Lian," seru Li Jihyun dengan suara keras. Lian yang berada di balik pintu langsung muncul. Sedikit terkejut melihat mayat tanpa kepala yang tergeletak. Tapi Lian terus berjalan melewati mayat itu. Dia membungkuk hormat. "Antarkan tamu kita pulang," perintah Li Jihyun yang diangguki patuh Lian.


"Baik yang mulia. Mari ikuti saya," ucapnya membuat mereka segera bangkit.


"Te-Terimakasih atas jamuan yang anda berikan," ucap Lu Tiong mewakili gerombolan bangsawan. "Kami permisi dulu," pamit Lu Tiong.


"Tentu saja. Tapi kalian ingat apa yang kubilang kan?" Mata Li Jihyun fokus menatap lurus ke depan membuat Lu Tiong dan gerombolan yang lain gugup.


"Te-Tentu saja. Kami akan selalu ingat," jawab Lu Tiong. Li Jihyun mengibaskan tangannya diudara membuat gerombolan bangsawan itu langsung pergi mengikuti langkah Lian.


Terdengar langkah Lian dan gerombolan bangsawan itu menjauh. "Lien! Jing! Kemarilah," panggil Li Jihyun dengan suara lantang.


Kriet!


Suara derit pintu terdengar menandakan ada orang yang masuk. Tak lama muncul Lien dan Jing didepan Li Jihyun. "Dayang Lien menyapa yang mulia selir agung," sapa Lien sopan. Dia membungkuk hormat.


"Dayang Jing menyapa yang mulia selir agung," sapa Jing sopan. Dia membungkuk hormat seperti yang dilakukan Lien. Sekilas kedua dayang itu menoleh ke arah mayat. Bau anyir darah tercium namun diabaikan oleh mereka. Mereka fokus pada Li Jihyun.


"Buang mayat itu," tunjuk Li Jihyun yang diangguki patuh kedua dayang itu.


"Baik yang mulia," sahut mereka serempak. Mereka membalikkan badan.


"Lien bawakan kemari seember air dan kain lap," ucap Jing. Lien mengangguk dan pergi. Sementara Li Jihyun menopang dagu memperhatikan Jing menyeret mayat itu keluar. Dia menatap sekilas ke arah Li Jihyun. Namun pandangannya segera tertunduk. "Yang mulia maaf sebelumnya apa tidak masalah membawa mayat ini keluar?" tanya Jing dengan hati hati.


"Tidak masalah," jawab Li Jihyun enteng. Dayang itu menyeret mayat itu dengan cepat. Tanpa kain penutup membuatnya terlihat. Semua mata tertuju ke arah Jing yang keluar dari kamar Li Jihyun. Beberapa dayang yang lewat menahan mual. Terdengar suara bisikan begitu Jing lewat.


Langkah Jing terhenti didepan taman. Peluh membanjiri sekujur tubuh. Dia mengusapnya pelan. Matanya menangkap bercak darah yang membentuk jejak. "Sepertinya aku akan menyuruh dayang lain membersihkannya," gumam Jing mencari cangkul.


Dia dengan cepat menggali tanah hingga membentuk lubang yang berukuran tubuh mayat itu. Pelan dia mendorong mayat itu ke dalam lubang tanah. Diusapnya lagi peluh yang jatuh.


Jing membalikkan badan meninggalkan mayat itu disana. Namun baru dua langkah dia berhenti. Matanya menangkap lima orang dayang yang kebetulan lewat. Senyuman tersungging dibibir. "Hei kalian kemari," teriaknya membuat kelima orang itu menoleh. Spontan wajah kelima orang itu memucat. "HEI! CEPAT KEMARI!" teriak Jing lebih keras membuat kelima orang itu menghampirinya.


Kepala mereka menunduk. "Ada apa dayang Jing memanggil kami?" tanya salah satu dari kelima dayang itu dengan ketakutan.


"Cepat bersihkan sisa darah di lorong," perintah Jing yang diangguki mereka. Jing tersenyum puas melewati kelima dayang itu. Tapi begitu berada di belakang mereka. Dia berhenti. "Kalau kalian tidak mau berakhir seperti mayat yang kubawa. Sebaiknya cepat selesaikan," imbuh Jing membuat kelimanya bergidik.


"Iya akan kami kerjakan," sahut mereka serempak lantas pergi. Jing melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Tinggal kepala wanita itu yang belum. Semoga Lien sudah selesai mengepel lantainya," gumam Jing mengayunkan langkahnya cepat. Melewati lorong yang sepi. Sebenarnya bukan sepi hanya saja tak dayang yang berpapasan Jing sengaja menghindar. Mereka masih takut melihat mayat yang dibawa enteng Jing.


Langkah Jing berhenti didepan pintu. Dia menarik napas lantas membuka pintu. Matanya terbelalak kaget melihat Lien yang dicekik Li Jihyun. Kaki Lien menggantung diudara sambil terus berontak. Terkejut melihat kekuatan Li Jihyun yang bisa mengangkat enteng tubuh Lien.


Wajah Lien membiru kehabisan napas. Terlihat dia kesulitan bernapas. "Yang mulia selir agung," panggil Jing yang langsung bersimpuh. Li Jihyun mengalihkan atensinya ke arah Jing. Namun sekilas karena matanya kembali menatap Lien.


Tangannya mencengkram leher Lien hingga terdengar suara derikan tulang. Napas Lien perlahan lahan tersendat. Mata hitamnya menaik ke atas menyisakan warna putih. "Ya-Yang mulia sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Lien melakukan kesalahan?" tanya Jing dengan gemetaran. Peluh dingin membanjiri dahi.


Li Jihyun diam dan mengeratkan pegangannya. Membuat suara derikan itu terdengar lagi. Tulang leher dayang itu langsung remuk. Dalam sekejap mengembuskan napas terakhirnya. Melihat Lien sudah tak berdaya.


Li Jihyun melemparkan tubuh dayang itu. Membuatnya menghantam tembok kamar. "Lien," seru Jing khawatir. Dia merangkak ke arah Jing yang tergeletak lemah. Jing tak tau kalau Lien sudah meninggal.


"Jing," panggil Li Jihyun menghentikan gerakannya meraih tubuh Lien. Matanya berair dan tangan mengepal erat. Dia berbalik mendelik tajam. "Cepat bereskan semua itu," perintah Li Jihyun yang diabaikan Jing. Bibirnya terkatup rapat. Dia mengigit bibir bawah.


"Yang mulia sebenarnya kenapa yang mulia membunuh Lien? Apa salah dia?" tanya Jing dengan nada tinggi. Sebelah sudut Li Jihyun terangkat. Dia berjalan mendekati Jing. Meraih dagu Jing yang masih terduduk lemas. Dia mengangkat wajah wanita itu paksa. Hingga kepalanya mendongak dan mata mereka bertatapan.


"Aku tidak butuh alasan membunuh seseorang," jawab Li Jihyun membuat amarah Jing membumbung tinggi. Dia menepis tangan Li Jihyun kasar lantas berdiri. Memasang kuda kuda bersiap melawan Li Jihyun.


"Dasar wanita iblis!" maki Jing sebelum merangsek maju. Li Jihyun berdiri ditempatnya dengan tenang. Menunggu Jing melepaskan tinjunya.


Begitu tinju Jing mendekat ke wajahnya. Li Jihyun menangkapnya dengan cepat. Kemudian menarik tangannya mendekat ke arahnya. Membuat wajah Jing berdekatan. "Jing untuk naik ke posisi yang tinggi diperlukan banyak pengorbanan," ucap Li Jihyun menusuk perut Jing dengan garpu yang terselip di saku hanfunya.