Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 59


Samar terdengar suara bisikan dari balik tembok. Dengan berhati hati Li Jihyun mendekat. Dia harus tau orang yang tengah mengendap endap didalam paviliun selir. "Apa kalian sudah berkumpul?" tanya orang itu dengan suara lirih.


"Iya. Kita harus segera menemui yang mulia. Yang mulia sudah memerintahkan kita untuk berkumpul," sahut yang lain. Terdengar suara yang berbeda dari orang yang barusan.


Ada dua orang rupanya, batin Li Jihyun masih menempelkan telinganya ditembok. Perlahan Li Jihyun mengintip dari celah tembok. Tampak lima orang berjubah hitam yang berkumpul. Seulas senyum tersungging dibibir. Tidak dipungkiri mereka pasti dayang yang bekerja untuknya. Mata mata yang dikirim Long Jian sejak awal. Kepala salah satu orang berjubah hitam itu menoleh ke belakang. Membuat Li Jihyun dengan cepat bergeser.


"Ada apa Lian?" tanya salah satunya membuat kepala Lian beralih menatapnya. Gadis itu berdecak sebal.


"Diamlah. Jangan panggil aku dengan nama," tukas Lian yang diangguki Lien yang merupakan saudara kembarnya.


"Baiklah. Kita harus cepat melapor pada yang mulia atau kita akan ketahuan," tukas Jianli mengingatkan. Kepala gadis itu tak berhenti celingak celinguk memperhatikan sekitar. Lian mendengkus.


"Jaga sikapmu Jianli. Kita adalah bayangan kaisar," ucap Lian menarik lebih dalam tudungnya. Jianli menghela napas pelan.


"Aku hanya mengingatkan Lian. Kita tidak bisa lama disini," ujar Jianli dengan ekspresi datar.


"Iya kita harus pergi sekarang," ujar Lian mengayunkan tangannya diudara. Sekali lagi gadis itu berdecak sebelum melanjutkan perjalanan. Sementara Li Jihyun yang masih berada di tembok tersenyum semakin lebar.


Pantas saja selama ini rencanaku gagal. Ternyata dayang yang dikirim Long Jian adalah bayangan kaisar, batin Li Jihyun. Satu per satu dia sudah menemukan potongan puzzle yang berserakan. Sekarang tinggal tugasnya menyatukan puzzle itu menjadi potongan utuh. Sebaiknya aku harus kembali, batin Li Jihyun melangkah pergi dari pos penjaga. Pos itu masih sepi bahkan setelah Li Jihyun pergi. Tanpa sepengatahuan Li Jihyun, prajurit yang berjaga itu tengah tertidur pulas di balik gerbang. Kedua orang itu terkena efek bius yang diberikan oleh salah satu kelima orang berjubah hitam itu.


...


Pagi seperti biasanya kelima dayang yang tersisa membantu Li Jihyun bersiap. Dari mulai mandi sampai mendandaninya hingga cantik. Mereka bertindak seperti biasa tanpa menimbulkan kecurigaan Li Jihyun. Tapi gadis itu sudah mengetahui identitas mereka sebenarnya. Meski begitu dia tak berniat mengusir mereka terlebih dulu. Ada urusan penting yang harus dilaksanakan.


"Yang mulia selir agung sarapan anda sudah siap," ucap Jianli yang diangguki Li Jihyun.


"Terimakasih," ucap Li Jihyun tersenyum manis membuat kedua dayang yang tengah bersamanya keheranan. Biasanya gadis itu menunjukkan sikap dingin dan acuh. Tak pernah sekalipun tersenyum atau menyapa ramah para dayang.


"Kenapa yang mulia bersikap aneh?" bisik Lien ditelinga Lian. Tapi dayang itu diam sambil mengamati gerak gerik Li Jihyun. Gadis itu dengan santai menikmati sarapan yang dihidangkan. "Lian?" panggil Lien menyenggol lengan Lian. Membuatnya tersentak kaget.


"I-Iya," sahutnya gelagapan yang disahut dengusan dari Lien. "Jaga sikapmu Lien!" tegur Lian yang diangguki malas Lien. Mata Lian melirik Li Jihyun yang duduk di kursi makan. Gadis itu masih menikmati sarapannya tanpa terusik bisikan dari mereka. Letaknya yang cukup jauh membuat kedua dayang itu menghela napas lega. Mereka pikir Li Jihyun tak mendengar perkataan mereka. Tapi perkiraan mereka salah. Justru Li Jihyun mendengar semuanya.


Jadi mereka meremehkanku. Tsk! Mereka tidak tau siapa aku sebenarnya, batin Li Jihyun meneguk teh hangat hingga tandas. "Persiapkan kereta kudaku. Aku harus segera pergi ke kediaman Xu," ucap Li Jihyun yang diangguki Lian dan Lien serempak.


"Yang mulia apakah anda mau saya dandani lagi?" tanya Lian yang digelengkan Li Jihyun.


"Tidak usah," jawabnya bangkit dari duduk. Tanpa mengatakan apapun gadis itu pergi meninggalkan Lian. Membuat dayang itu dengan langkah terburu buru mengikuti Li Jihyun. "Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bisa sendiri," ucap Li Jihyun membuat langkah Lian terhenti.


"Ba-Baik yang mulia," sahut Lian yang terdengar samar. Tapi Li Jihyun tak peduli dan terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.


Tiba di depan gerbang paviliun selir semua orang yang berada disana kebingungan. Tak ada dayang yang menemaninya. Dia menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan. Tampak beberapa prajurit hendak mengikuti Li Jihyun tapi gadis itu melambaikan tangan. Membuat gerakan prajurit itu berhenti. "Kalian tidak usah mengikutiku. Aku bisa sendiri," ucap Li Jihyun tegas. Sekali lagi membuat orang disana kebingungan. Mereka saling tatap.


"Tapi yang mulia terlalu bahaya jika anda pergi sendirian. Tanpa dikawal prajurit," tukas salah satu prajurit yang digelengkan Li Jihyun.


"Apa kalian melanggar perintahku sekarang?" tanya Li Jihyun terdengar ketus dan dingin. Sontak prajurit itu terdiam. Pandangan mereka tertunduk dengan ketakutan. Bahkan Lien yang hendak berkomentar pun tak berani membuka mulutnya. Gadis itu hanya memperhatikan Li Jihyun dalam diam. "Pak kusir cepat kita harus berangkat," titah Li Jihyun.


"Baik yang mulia," sahut pak kusir memacu kuda. Kereta kuda yang dinaiki Li Jihyun berjalan meninggalkan halaman paviliun selir. Lien mengigit bibir kesal. Kali ini pergerakan Li Jihyun luput dari pandangan mereka. Bahkan Lian yang biasanya dekat dengan Li Jihyun pun tak ikut.


"Apa tidak masalah membiarkan yang mulia selir sendirian?" tanya prajurit itu pada Lien. Pandangan dayang itu beralih menatap prajurit itu.


"Entahlah. Tapi membiarkan yang mulia sendirian kesana menurutku itu sesuatu yang buruk," ucap Lien menghela napas pelan. Memasang wajah prihatin pada keadaan Li Jihyun yang mendatangi wilayah musuh sendirian.


Prajurit itu menghela napas. "Kurasa itu karma untuknya," celetuk prajurit itu membuat Lien memasang wajah pura pura terkejut.


"Hei! Jaga bicaramu! Dia adalah yang mulia selir agung. Apa kamu tidak tau?" tegurnya.


"Tsk! Kenapa? Bukannya kamu juga membencinya?" Sesaat wajah Lien berubah pias. Bagaimana bisa prajurit itu tau dia membenci Li Jihyun? Padahal selama ini mereka menutupinya dengan bersikap patuh dan taat, begitulah yang dipikir Lien. "Ah! Maaf aku tak bermaksud begitu. Bagaimana pun kamu adalah dayang yang mulia selir agung," ucap prajurit itu dengan rasa bersalah. Dia menggaruk tengkuk yang tak gatal.


Lien menarik napas. "Bagaimanapun dia adalah selir agung. Bawahan seperti kita tak pantas menghinanya. Sebaiknya kamu berhati hati berbicara," peringat Lien yang diangguki prajurit itu.


"Maafkan aku sudah bicara buruk tentang yang mulia selir agung," ucap prajurit itu membungkuk.


"Kali ini aku memaafkanmu. Tapi tidak kedua kalinya," ujar Lien tegas sebelum membalikkan badannya. Dia berjalan pergi meninggalkan prajurit itu. Begitu punggung Lien tak terlihat prajurit itu menyeringai.


"Dasar munafik," gumamnya lirih. Dia pun bergegas pergi meninggalkan halaman paviliun selir. Lalu perlahan menghilang bersama embusan angin yang bertiup.