
Suara derap langkah kuda terdengar semakin dekat. Namun tiba tiba Long Jian menghentikan laju kudanya. Begitu juga rombongan yang lain. Mereka saling menatap penuh tanya.
Rahang Long Jian mengeras melihat seseorang yang amat dikenalnya digantung di tengah alun alun. Tubuhnya terlihat mengering yang dikelilingi oleh gagak. Suaranya terdengar melengking sambil menikmati mayat pria itu. "Brengsek!" makinya memacu kuda lebih cepat menuju istana.
Tiba didepan gerbang istana. Tak ada siapapun berjaga disana. Bahkan satu prajurit pun tak terlihat. Bahkan pintunya ditutup rapat. "BUKA GERBANGNYA!" teriaknya dengan suara lantang. Tapi tak ada sahutan yang terdengar.
Wajahnya merah padam. "KALIAN TIDAK DENGAR? BUKA GERBANGNYA SEKARANG!" perintahnya berteriak lantang. Tapi sekali lagi tak ada sahutan. Mereka semua diam sambil mempersiapkan senjata ditangan. Sementara Li Jihyun mengintip dari sela tembok.
Sebelah bibirnya terangkat melihat raut wajah Long Jian. "Bagaimana yang mulia? Apa kita perlu membukanya?" tanya Zhang Liu yang digelengkan Li Jihyun. Gadis itu dengan percaya diri keluar dari persembunyian dan berdiri di atas pintu gerbang.
Matanya menatap sinis Long Jian. Kepala Long Jian mendongak melihat Li Jihyun. Gadis itu tertawa mengejek. Long Jian mengepalkan tangan erat. "BUKA GERBANGNYA ******!" Li Jihyun terkikik. Dia mengayunkan jemarinya ke udara.
Kriet!
Gerbang terbuka sedikit. Tapi alangkah terkejutnya Long Jian saat pasukan prajurit berhamburan keluar. Mereka menaiki kuda dan melayangkan pedang. Long Jian mendongak ke atas tapi tak melihat Li Jihyun. Dia mengatupkan rahang balas menyerang prajurit yang mendekat.
"Berikan aku pedang," ujar Li Jihyun pada Zhang Liu. Pria berkacamata itu menyerahkan pedang ke tangan Li Jihyun. Gadis itu diam sesaat menatap pantulan dirinya. "Zhang Liu jika aku mati nanti. Tolong jaga kekaisaran ini dengan baik," ujar Li Jihyun membuat wajah Zhang Liu terkesiap.
Dia menatap lekat Li Jihyun. "Yang mulia apa maksud anda? Anda tidak ..." jeda Zhang Liu sambil menelan ludah susah payah.
Li Jihyun mengembuskan napas. "Aku akan mati Zhang Liu. Setidaknya aku sudah tenang membalaskan dendamku pada Long Jian," ujar Li Jihyun melangkah maju. Aku tidak boleh tamak. Aku sudah hidup dua kali, batinnya terus melangkah keluar dari gerbang.
Kerusuhan terjadi. Suara pedang saling beradu terdengar. Li Jihyun melepaskan perhiasan di rambutnya hingga tergerai panjang. Dia memotongnya dengan pedang menjadi pendek. Tak lupa melepas pakaian kebesarannya sebagai selir agung dan menyisakan hanfu tipis.
Langkahnya semakin mantap mendekati Long Jian yang sibuk meladeni satu per satu prajurit yang menyerang. Meski terlihat lelah tapi pria itu berhasil bertahan.
Pedang ditangannya diayunkan mengarah pada Long Jian. Pria bermata sipit itu berhasil menghindar. Saat melihat kilatan mata pedang Li Jihyun. "Aku akan mengurusnya. Kalian silakan pergi," titah Li Jihyun pada prajurit yang menyerang Long Jian.
Mereka saling tatap dan mengangguk patuh. Kemudian berlari membantu prajurit lain. Long Jian turun dari kuda. Memegang pedangnya erat. "Lama tak bertemu Li Jihyun," sapanya menyeringai lebar.
Li Jihyun mengibaskan rambut pendeknya. "Bukankah seharusnya anda bilang senang bertemu denganmu?" ejek Li Jihyun seolah menantang Long Jian.
"Tsk! Dasar wanita sombong," rutuk Long Jian mengayunkan pedang. Li Jihyun berkelit dan menendang lutut Long Jian. Pria itu meringis kesakitan. "Sialan! Akan kubunuh kamu!" ujar Long Jian mengayunkan pedangnya mengincar leher Li Jihyun.
Li Jihyun mengangkat pedangnya hingga kedua pedang itu bertubrukan. Long Jian mengatupkan rahang sambil mendorong tubuh Li Jihyun. Gadis itu menahan sekuat tenaga. Tangannya terasa lemas.
Dia masih kuat rupanya, batin Li Jihyun memutar pedangnya hingga posisi pedang Long Jian menjauh. Tubuh Li Jihyun berputar seolah menari sambil mengayunkan pedang. Long Jian balas menangkis serangan pedang Li Jihyun. Dia mengatupkan rahang. Terdengar suara gigi bergemulutuk.
Zhang Liu yang memperhatikan sejak tadi dari atas merasa cemas. Matanya tak berkedip. Yang mulia anda harus menang, batin Zhang Liu meremas ujung hanfunya dengan gelisah.
Pandangan Li Jihyun berkunang. Dia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Napasnya pun tersendat. Gerakannya pun tidak segesit sebelumnya. Begitu juga Long Jian. Pria itu sudah bersimbah darah. Zirah yang dipakainya robek.
Begitu melihat celah Long Jian menusuk dagu Li Jihyun hingga ujung pedangnya tembus. Darah mengalir deras. Bercucuran menetesi ke tanah. Long Jian tersenyum lebar.
Li Jihyun pun tak mau kalah. Pedang di tangannya menusuk perut Long Jian. Long Jian langsung batuk darah. Pedang itu didorong kuat sampai menembus zirah yang dipakai Long Jian.
Li Jihyun terkekeh pelan. Mata keduanya saling menatap. "Aku membencimu," ujar Long Jian mencabut pedangnya dari Li Jihyun. Gadis itu terhuyung dan jatuh ke tanah. Dia berusaha bangkit meraih pedang lain yang tergeletak. Sementara pedang diperut Long Jian masih menancap.
"Aku ... juga membencimu," balas Li Jihyun mengacungkan pedangnya. Senyuman tipis tersungging dibibir.
"Semoga kita tak bertemu lagi," ujar Long Jian merangsek maju. Pedang ditangannya teracung ke depan.
"Aku juga," sahut Li Jihyun berlari dengan pedang teracung. Kedua ujung pedang itu bertemu dan menusuk tepat mengenai jantung masing masing.
Pedang itu menembus hanfu yang dipakai. Darah mengucur deras. Napas keduanya langsung terhenti. Keduanya saling menatap sebelum jatuh tersungkur.
Mata Li Jihyun terasa berat. Samar di telinganya masih terdengar suara pertarungan dan sorakan. Apakah mereka berhasil? batinnya dengan napas terputus putus. Matanya menatap sekilas Long Jian yang terbaring tak jauh darinya.
"Kamu ... berhasil," ujar Long Jian dengan napas terputus. Bibirnya berdarah dan sekujur tubuh bersimbah darah. Kedua pedang mereka saling menancap.
Tampak prajurit berjalan mendekati Li Jihyun. Gadis itu melirik Long Jian. "Kamu kalah Long Jian," ujarnya terkekeh pelan.
"Cepat bawa yang mulia kedalam," perintah Zhang Liu muncul dengan tergopoh. Long Jian tergelak.
"Pengkhianat," makinya tapi Zhang Liu tak peduli. Dia hendak membopong tubuh Li Jihyun tapi ditepis.
"Biarkan ... aku ... disini," pintanya dengan suara serak. Atensinya beralih menatap Long Jian yang terlihat dongkol.
"Pengecut!" racaunya. "Aku ... kalah ... dari ... gadis lemah ... sepertimu," lanjutnya mendelik tajam.
Mata gadis itu semakin berat. Bahkan pandangannya perlahan berubah berat. Ayah dan keenam kakakku. Aku sudah berhasil. Aku ... akan menemui kalian sebentar lagi, batin Li Jihyun sebelum mengembuskan napas.
Zhang Liu yang menyaksikan berteriak histeris. Dia memanggil nama Li Jihyun sambil mengguncang bahunya. "Tidak! Yang mulia bangun," teriaknya berharap gadis itu membuka mata. Sementara Long Jian keadaannya pun sudah parah.
Matanya pun sudah sulit dibuka. Dia memejamkan mata. Pada akhirnya aku mati ditangan gadis itu, batinnya ikut mengembuskan napas terakhir. Kedua orang itu meninggal dunia secara bersamaan.
......Tamat......