Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 98


Langkah Lian berhenti begitu juga Li Jihyun. "Ada satu hal yang ingin saya tanyakan yang mulia," ujar Lian membuka suara. Matanya menatap punggung Li Jihyun. Dia menarik napas. "Apa alasan anda membunuh Lien?" tanya Lian. Meski dia sudah mendengar alasan dari Ceng tetap saja hati Lian tak tenang. Dia harus memastikan sendiri dengan telinganya.


"Apa kamu tidak mendengarnya dari Ceng?" tanya Li Jihyun membalikkan badannya membuat kedua mata mereka bertemu.


"Saya sudah dengar. Tapi saya tetap ingin memastikannya sendiri dari yang mulia. Saya ingin mendengar alasannya yang mulia," ujar Lian tanpa rasa takut. Matanya menatap lurus Li Jihyun. Berharap tidak ada kebohongan yang terlihat di mata Li Jihyun.


Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Gadis itu menyilangkan tangan. "Aku tidak pernah berbohong padamu Lian," ujar Li Jihyun menghela napas. "Ada alasan yang tidak bisa kukatakan padamu," lanjut Li Jihyun membuat wajah Lian pias.


"Tapi saya harus mendengarnya sendiri yang mulia," sergah Lian tak mau kalah. Tatapannya penuh keyakinan.


"Kamu akan menyesalinya Lian. Aku berbuat begini demi kebaikan kita semua," ujar Li Jihyun membalikkan badan. Dia melanjutkan langkahnya.


"Saya tidak peduli. Saya harus tau alasan yang mulia membunuh adik saya."


"Memangnya apa yang berubah kalau kamu tau? Apa adikmu itu akan bangkit dari kubur? Paling ujungnya kamu akan membunuhku," ujar Li Jihyun santai dan terus berjalan menjauh dari Lian.


Dayang itu mengepalkan tangannya penuh amarah. Ingin rasanya dia berteriak kencang. Tapi mengingat sekarang diistana. Dia memutuskan diam. Menahan gejolak amarah yang menyelimuti hati.


Ditariknya napas dalam lalu mengembuskannya kasar. Teringat perkataan Li Jihyun yang memang benar. Cepat atau lambat mereka akan membunuhnya setelah Li Jihyun sendiri yang menghabisi mereka satu per satu. Padahal mereka sudah bersumpah akan terus setia sampai akhir hayat. Tapi gadis itu tampaknya tidak percaya.


Lian mengacak rambutnya hingga tergerai berantakan. Dia berjalan melanjutkan langkahnya menuju kamar Li Jihyun. Untuk sementara dia akan tetap melayani Li Jihyun layaknya majikannya.


Lagipula sebentar lagi posisi selir agung akan ditarik Long Jian. Lian memutuskan bersabar sampai menunggu waktu itu segera tiba.


...


Malam kembali menyapa. Makan malam sudah terhidang diatas meja. Li Jihyun terlihat menikmati makanannya dibawah cahaya rembulan yang menembus jendela kamarnya. Gadis itu menyuap nasi ke mulut. Semilir angin berembus menggoyangkan rambutnya yang tergerai.


Jiali yang berada tak jauh dari Li Jihyun memperhatikan gadis itu makan. Dia ditugaskan Ceng untuk mengawasi Li Jihyun. Namun sepanjang waktu tidak ada gerakan yang mencurigakan. Gadis itu menghabiskan nasi dan lauk hingga tak bersisa. Dia mengelap mulutnya dengan saputangan.


Jiali mendekat mengambil peralatan makan yang kotor. Menyusunnya ke dalam nampan kosong. "Kapan yang mulia kaisar pulang?" tanya Li Jihyun memecah keheningan.


Spontan Jiali terkejut. Hampir saja nampan ditangannya jatuh. "Sa-Saya tidak tau yang mulia," jawab Jiali menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang. Li Jihyun menghela napas panjang. Menyandarkan punggungnya di bantalan kursi. "Apa anda membutuhkan sesuatu yang lain yang mulia?" tanya Jiali sebelum meninggalkan Li Jihyun.


"Tidak. Keluarlah. Aku harus istirahat," ujar Li Jihyun mengibaskan tangan diudara.


"Baik yang mulia. Saya permisi dulu," pamit Jiali membungkuk kemudian berbalik. Dia berjalan meninggalkan Li Jihyun sendirian di kamar.


Mendengar suara ketukan sepatu Jiali menjauh. Li Jihyun menatap keluar jendela. Matanya menatap tajam ke arah dahan pohon yang sedikit menjorok ke jendelanya. "Keluarlah! Dia sudah pergi," ujar Li Jihyun dingin.


"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Li Jihyun menatap lurus orang berjubah hitam itu.


"Ada pesan dari tuan Zhang untuk segera menemuinya."


Li Jihyun mengembuskan napas kasar. "Baiklah. Aku akan kesana. Katakan pada Zhang Liu untuk menungguku di taman belakang istana," ujar Li Jihyun yang diangguki orang itu.


"Baik yang mulia. Saya permisi dulu," pamitnya melompat ke bingkai jendela. Kemudian dengan lincah melompat ke dahan pohon yang terlihat condong ke jendela kamar.


Li Jihyun menatap dedaunan pohon yang berguguran. Dia bangkit dari duduk mengunci pintu rapat. Lalu berganti pakaian dengan hanfu hitam gelap. Dia mengikat pinggangnya agar memudahkannya bergerak leluasa. Tak lupa mengambil jubah yang selama ini disembunyikan dibalik tumpukan kain.


Sudah lama aku tidak melakukannya, batin Li Jihyun memakai jubah menutupi seluruh tubuhnya. Dia meniup lilin membuat suasana kamar gelap. Hanya sinar bulan yang remang membuatnya bisa melihat keluar jendela.


Dia berdiri didepan jendela kemudian melompat turun. Dengan langkah tergesa menuju taman belakang istana utama. Sesekali kepalanya tertoleh ke belakang memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Sepertinya bayangan kaisar tidak selamanya mengawasiku, batin Li Jihyun bernapas lega. Ini bisa jadi kesempatanku untuk bertemu Zhang Liu. Pasti ada informasi penting yang mau dia sampaikan, batinnya terus berlari menembus kegelapan malam.


....


"Maafkan saya yang mulia sudah memanggil anda dilarut malam begini," ucap Zhang Liu begitu Li Jihyun tiba di taman belakang istana. Taman belakang yang berubah menjadi taman terbengkalai karena tidak pernah dirawat sedikit pun.


"Tidak masalah. Pasti ada sesuatu yang penting yang mau kamu sampaikan," ujar Li Jihyun yang diangguki setuju Zhang Liu.


"Masalah ini tentang anda yang ingin jadi kaisar. Tapi ada satu masalah yang harus anda hadapi sebelum duduk menjadi kaisar." Dahinya berkenyit mendengar perkataan Zhang Liu. "Selain dukungan anda harus punya pasukan militer yang kuat," lanjut Zhang Liu membuat Li Jihyun menepuk tangannya. Dia baru ingat masalah paling penting diantara semuanya.


"Tapi masalahnya kita tidak punya dukungan militer yang pas," ujar Li Jihyun membuat Zhang Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Perkataan Li Jihyun benar. Mereka tak punya satu pun pasukan seperti Long Jian.


"Saya rasa kita harus membentuknya sendiri. Saya yang akan merekrut mereka langsung," usul Zhang Liu.


"Ini bisa jadi kesempatan kita mendapat simpati rakyat," ujar Li Jihyun membuat Zhang Liu menoleh ke arahnya.


"Kesempatan?" Li Jihyun menganggukkan kepalanya.


"Dalam merekrut prajurit ambil saja dari kalangan rakyat. Terutama dari prajurit bayaran. Kesetiaan mereka lebih tinggi dibanding bangsawan tinggi sekalipun," ujar Li Jihyun membuat mata Zhang Liu berbinar.


"Astaga! Sepertinya gelar jenius itu bukan sekadar omong kosong," puji Zhang Liu yang disahut tawa pelan Li Jihyun.


"Baiklah. Masalah kita sudah selesai. Begitu Long Jian pulang kita harus memberinya kejutan besar," ujar Li Jihyun mendongakkan kepala. Langit malam yang gelap terbentang luas.


"Tapi yang mulia ada sesuatu yang mau saya tanyakan," ujar Zhang Liu menatap ragu Li Jihyun.