Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 86


Jantung Fen seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Li Jihyun. Dia menggigit bibir bawah. Langkahnya langsung terhenti. "Sa-Saya mewakili nona Hai Rong meminta maaf pada yang mulia atas perlakuannya," ucap Fen membungkuk.


Li Jihyun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Fen. Menghela napas pelan. "Tidak masalah Fen. Kamu tidak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan perlakuan Hai Rong," ucap Li Jihyun lembut. Senyuman ramah tersungging di bibir. Aku harus bersikap baik pada Fen. Dibandingkan dayang lain. Dia lebih setia. Mengingatkanku pada Yona, batin Li Jihyun. Sesaat raut wajahnya berubah sendu. Namun itu cuma sebentar. Gadis itu kembali memasang wajah bersahabat.


Sungguh yang mulia selir agung berhati lapang. Seharusnya nona Hai bersikap baik bukan bertengkar sampai melukai dirinya, batin Fen masih menundukkan pandangan. "Terimakasih atas kebaikan yang mulia," ucap Fen sopan dan penuh hormat.


Li Jihyun membalikkan badannya. "Sebaiknya kita bergegas menemui Hai Rong," ujar Li Jihyun melangkah terlebih dulu diikuti Fen.


"Baik yang mulia," jawabnya berjalan dengan cepat.


Semoga saja Fen tidak terkejut, batin Li Jihyun. "Sebelumnya ada sesuatu yang harus kusampaikan. Kondisi Hai Rong terluka parah. Wanita malang itu tidak bisa bicara lagi. Lidahnya terpotong dan dia juga kehilangan tangan kanan. Entah apa yang merasukinya sampai bertindak segila itu," bual Li Jihyun yang mengejutkan lagi Fen. Dayang itu sampai tidak bisa berkata lagi.


Nona sebenarnya atas inisiatif apa anda sampai bertindak segila itu? pikir Fen resah. Rasa khawatirnya kembali muncul. Memikirkan keadaan Hai Rong yang memburuk. Mereka berjalan ke belakang istana utama. Menuju ke arah paviliun selir tepatnya ke sebelah kamar Li Jihyun. Sebelumnya Li Jihyun meletakkan Hai Rong disebelahnya agar tak ada orang curiga. Dengan alasan wanita itu menjadi dayangnya.


Ditambah tak ada pengawal dan dayang lain yang ditempatkan oleh Long Jian. Jadilah Li Jihyun bertindak leluasa tanpa dilihat siapapun. Kecuali selir atau dayang selir tersebut yang kebetulan lewat. Itu sebabnya kemarin mereka sangat berhati hati memindahkan Hai Rong.


Langkah Li Jihyun terhenti didepan pintu. Gagdis itu menggeser pintu kayu itu dengan enteng dan melangkah santai memasuki ruangan tersebut. Tampak Jiali sedang menjaga Hai Rong yang tercenung menatap pemandangan diluar jendela. Jiali segera membungkuk hormat begitu melihat kedatangan Li Jihyun.


"No-Nona Hai Rong," seru Fen dengan terbata. Matanya berkaca kaca saat melihat Hai Rong. Dia menutup mulutnya saking terkejut. Terutama melihat keadaan Hai Rong yang tak memiliki tangan.


Kepala Hai Rong tertoleh ke belakang. Kesiur angin yang berembus meniup rambut hitamnya. Sampai menghalangi jarak pandangnya. Hai Rong menyibak rambut hitamnya dan terkejut melihat kemunculan Fen.


Matanya sampai terbelalak kaget dan mulutnya langsung bergerak gerak. Tapi tidak ada suara yang keluar ataupun terdengar. Fen langsung menghambur memeluk Hai Rong. Lagi mulut Hai Rong bergerak. Bulir bening membasahi pipi begitu juga Fen. Dia balas memeluk Fen dengan erat.


"Nona bagaimana keadaan anda? Apa anda baik baik saja?" tanya Fen mengurai pelukannya. Matanya menatap Hai Rong. Wanita itu hendak menggeleng tapi saat matanya tak sengaja menangkap raut wajah Li Jihyun. Nyalinya langsung ciut.


Buru buru dia mengangguk sambil memaksakan tersenyum. Fen menghela napas lega. Tangannya mengusap air mata. Dia tersenyum. "Syukurlah anda baik baik saja. Saya selalu mengkhawatirkan anda," ujar Fen membuat hati Hai Rong tersentuh. Pandangannya menatap iba tangan kanan Hai Rong.


Dia memegang tangan kanan Hai Rong yang hilang. Raut wajahnya terlihat sedih. Hai Rong menjauhkan tangannya dari pandangan Fen. Dia tak mau dayang itu terus menerus bersedih. Sudah cukup menimbulkan masalah selama ini.


Dia mengulurkan tangan kirinya yang masih utuh. Mengusap rambut hitam dayang itu. Kepala dayang itu terangkat sedikit dan terlihat seulas senyuman dibibir Hai Rong. Bibir Hai Rong bergerak lagi tapi Fen tidak paham. Dahi Fen sampai mengerut keheranan.


Hai Rong mengatupkan mulutnya. Dia sadar tak ada orang yang akan mengerti apa yang dikatakannya. Bahkan untuk menulis saja dia pun tak bisa. Dasar wanita rubah. Licik, umpat Hai Rong dalam hati. Tapi wanita itu tak berani menatap Li Jihyun secara langsung yang berada didepannya. Gadis itu pasti takkan membiarkannya hidup tenang. Entah bagaimana rahasia kesadisan dan siksaan yang diberikan Li Jihyun akan terbongkar. Tak ada yang tau. Saksi kuncinya sudah kehilangan suara. Sehingga tak bisa mengatakan apa yang terjadi.


"Yang mulia selir agung. Tuan perdana menteri Zhang mencari anda," ucap dayang dibalik pintu. Kepala Fen dan Hai Rong sempat tertoleh ke arahnya.


"Kalian bisa bicara dulu. Aku akan kembali nanti," ujar Li Jihyun yang diangguki serempak Fen dan Hai Rong. Li Jihyun membalikkan badan. "Jiali siapkan teh hangat dan kesemek kering," titah Li Jihyun sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Baik yang mulia," sahut Jiali patuh.


"Te-Terimakasih atas kebaikan anda yang mulia," ucap Fen penuh rasa syukur. Li Jihyun tersenyum sebelum menutup pintu rapat.


"Lian dimana Zhang Liu?" tanya Li Jihyun begitu keluar dari pintu. Tampak Lian berdiri tegak didekat pintu ruangan itu. Dia membungkuk hormat.


"Beliau menunggu dikamar anda," jawab Lian. Li Jihyun segera bergegas menuju kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar Hai Rong. Li Jihyun menggeser pintu.


"Lian siapkan untukku teh," ujar Li Jihyun memasuki kamar. Tampak Zhang Liu duduk dikursi yang telah tersedia. Pria berkacamata itu segera bangkit dari kursi begitu melihat kedatangan Li Jihyun. Dia membungkuk hormat.


"Saya Zhang Liu perdana menteri kekaisaran Qing Long memberi salam," sapa Zhang Liu sopan. Li Jihyun berdehem lantas duduk di seberang Zhang Liu.


"Duduklah. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan," ujar Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu. Pria berkacamata itu kembali duduk.


"Terimakasih yang mulia selir agung," sahut Zhang Liu sambil membetulkan letak kacamatanya. "Seperti yang anda bilang. Saya sudah menyiapkan nama bangsawan yang mungkin bisa berada dipihak kita. Bahkan sebagian dari faksi barat juga akan menjadi sekutu kita," ujar Zhang Liu penuh percaya diri.


Li Jihyun menyilangkan tangan. "Faksi barat sejak dulu memang mendukungku. Aku tidak mengkhawatirkan masalah itu. Tapi itu dulu saat aku menjadi selir tawanan. Berbeda dengan sekarang. Semua ini terjadi gara gara paman Gong. Dia bilang akan setia padaku dan membantuku segalanya. Tapi dia justru mengkhianatiku dan mendukung Long Jian. Aku tak habis pikir dengan paman Gong. Padahal dia begitu membenci Long Jian karena sudah menghancurkan kekaisaran terdahulu," keluh Li Jihyun.