Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 76


"Jangan berpikir macam macam selir agung. Merebut takhta dariku adalah hal mustahil yang bisa kamu lakukan," ujar Long Jian melanjutkan langkahnya. Dia berjalan melewati Li Jihyun yang masih menundukkan kepala.


Gigi Li Jihyun bergemulutuk menahan amarah. Heh! Dia pikir aku akan gagal? Cih! Tidak semudah itu. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, Long Jian. Batin Li Jihyun mengangkat kepalanya saat suara derap sepatu Long Jian terdengar jauh.


Li Jihyun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dari arah depan Lien tampak berjalan terburu buru. Li Jihyun menghentikan langkahnya. Begitu juga Jing.


Lien berhenti tepat dihadapan mereka. Tak lupa dayang itu membungkuk hormat. Dia menelan ludah. "Yang mulia tuan Gong sudah tiba," ujar Lien membuat Li Jihyun tersenyum.


"Dimana dia sekarang?"


"Saya menjamunya ke ruang tamu paviliun selir," sahut Lien.


"Kalau begitu Lien buatkan teh untuk kami," titahnya yang diangguki Lien. Mereka melanjutkan perjalanan melewati Lien yang masih membungkuk hormat.


"Sepertinya yang mulia benar benar serius melakukannya," gumamnya mengembuskan napas kasar. Dia sudah sejak tadi berdiri setelah langkah Li Jihyun terdengar jauh. Lien berjalan lagi menuju dapur untuk menyiapkan teh baru. Gosip bahwa Li Jihyun menantang Long Jian sudah tersebar luas. Berbagai pendapat pun terdengar berseliweran. Sebagian mendukung sebagian lagi menentang. Begitu juga dikalangan pejabat yang kini meributkan masalah itu.


Tapi Long Jian justru terlihat santai menantikan tantangan Li Jihyun. Dia tak terusik sedikit pun meski sebagian pejabat mulai protes.


...


"Ada apa yang mulia memanggil saya?" tanya Gong Jihon saat keduanya tengah duduk berhadapan. Teh sudah terhidang namun masih belum disentuh oleh kedua orang itu. Li Jihyun tersenyum tipis. Matanya menatap kedua dayang yang masih berada tak jauh darinya.


"Kalian berdua silakan keluar," titah Li Jihyun yang membuat kedua dayang itu saling lirik.


"Iya yang mulia," jawab keduanya serempak. Kedua dayang itu dengan cepat meninggalkan ruang tamu. Menutup pintu rapat dan berjaga didepan pintu.


"Menurutmu apa yang dibicarakan yang mulia selir agung dan tuan Gong?" tanya Jing penasaran. Sesekali matanya melirik ke arah pintu. Lien menghela napas pelan.


"Menurutmu apa lagi kalau bukan masalah itu," ucap Lien. Kali ini giliran Jing menghela napas.


"Yang mulia benar benar gila. Kukira dia akan berubah. Tapi sepertinya itu hanya bertahan sebentar," celetuk Jing meletakkan tangannya dibelakang kepala. "Apa kamu yakin kalau yang mulia selir agung yang menang?" tanya Jing melirik Lien.


"Aku juga tidak tau. Tapi melihat keyakinan yang mulia sepertinya itu bisa saja terjadi."


"Aku tidak seyakin itu. Lihatlah kejadian sebelumnya. Dia kalah telak dari yang mulia kaisar. Kupikir dia anak jenius tapi ternyata dia sangat bodoh. Sudah tau yang mulia kaisar itu orangnya kejam dan sadis tapi tetap juga dilawan. Itu sungguh mengherankan," ujar Jing menggelengkan kepala. "Dia bahkan tidak tau kita mata mata yang dikirim yang mulia kaisar. Jenius apanya?" tambah Jing tersenyum mengejek.


"Sudahlah Jing. Jangan mengolok yang mulia selir agung lagi. Dia adalah majikan kita sekarang. Perkara bodoh atau tidaknya. Itu urusan dia. Sebisa mungkin kita tidak boleh mencolok," ujar Lien menjeda kalimatnya. Dia menarik napas.


"Dan tentang perkataanmu barusan. Sebaiknya kamu menjaga mulutmu. Bagaimana jika mereka tau identitas kita? Kamu mau kita semua terlibat dalam masalah?" tanya Lien sedikit ketus membuat Jing terdiam. "Sekali lagi jangan ulangi perbuatanmu barusan," peringat Lien yang diangguki Jing. Suasana berubah menjadi canggung. Mereka berdua saling diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.


...


Bukankah kemarin yang mulia bilang tidak membutuhkan bantuanku? Sepertinya masalah yang dilewatinya sangat berat. Sebaiknya aku sebisa mungkin membantunya, batin Gong Jihon.


"Aku ingin paman mengumpulkan pendukung agar aku bisa menjadi kaisar," tambah Li Jihyun mengejutkan Gong Jihon.


"Yang mulia anda sudah gila? Bagaimana bisa seorang wanita menjadi kaisar?" Gong Jihon menarik napas sedikit menggelengkan kepalanya. "Tidak ada sejarahnya seorang wanita menjadi kaisar."


Li Jihyun mencebikkan bibir. Dimasa depan akan ada kaisar wanita yang paling hebat sepanjang sejarah, batin Li Jihyun.


"Kecuali anakmu mungkin ada peluang menjadi kaisar," ucap Gong Jihon mengambil cangkir berisi teh. Dia meneguknya sedikit. Li Jihyun menyilangkan tangan diatas dada. Menatap lurus Gong Jihon.


"Apa paman tidak bisa melakukannya untukku? Bukankah paman bilang kemarin akan membuatku naik ke kedudukan tertinggi?" protes Li Jihyun yang membuat Gong Jihon menghela napas berat. Diletakkannya kembali cangkir teh.


"Aku hanya bisa mendukungmu sebatas permaisuri," ucap Gong Jihon. Li Jihyun mencebikkan bibir.


"Jika paman memintaku punya anak dari kaisar berengsek itu aku tidak mau. Dia tidak pantas menjadi ayah anak-anakku kelak," ucap Li Jihyun mengepalkan tangan erat.


"Mungkin saja itu bisa menjadi peluang bagus. Kudengar selir yang ada disini tidak ada yang hamil. Jadi kalau kamu melahirkan anak laki laki statusmu akan cepat naik," ujar Gong Jihon meraih cangkir tehnya lagi. Menyesap teh yang beraroma bunga.


"Kamu sudah melakukan segala cara yang mulia. Tapi tetap saja gagal. Aku juga dengar gosip tentangmu yang berubah menjadi baik. Tapi itu cuma sebentar," tambah Gong Jihon. Matanya menatap Li Jihyun yang memasang raut kesal. "Sekarang gosip tentangmu semakin memburuk," ujar Gong Jihon.


"Tck! Manusia menyebalkan. Padahal aku sebisa mungkin bersikap baik tapi hanya karena masalah itu langsung sirna," keluh Li Jihyun.


"Dan satu lagi posisimu sebagai selir agung terancam. Yang mulia kaisar berniat menurunkan posisimu menjadi selir lagi," peringat Gong Jihon yang membuat Li Jihyun semakin kesal. Tangannya terkepal erat sampai kukunya memucat ditekan kulitnya.


"Jadi sebaiknya pikirkan cara bagaimana agar posisimu bertahan. Bukan meraih sesuatu yang takkan bisa kamu dapatkan," ujar Gong Jihon bangkit dari kursi.


"Mau kemana paman?" tanya Li Jihyun mengerutkan dahi melihat Gong Jihon hendak beranjak pergi.


"Saya permisi pulang dulu," pamit Gong Jihon membuat Li Jihyun terperangah. Pria renta yang selama ini menolongnya justru akan pergi meninggalkannya. Dia menggeram marah.


"Paman jahat! Paman tidak mau membantuku lagi? Apa paman lupa siapa yang membuat faksi barat bernapas?" Gong Jihon menghentikan langkahnya. Tapi tidak menolehkan kepalanya ke belakang. Tepatnya ke arah Li Jihyun.


"Yang mulia apa anda tidak menyadari anda sudah berubah?" tanya Gong Jihon membuatnya keheranan.


"Apa maksud paman? Aku tidak berubah sama sekali. Ambisiku masih sama membalaskan kematian ayah dan saudara saudaraku," ucap Li Jihyun lantang.


Gong Jihon menghela napas pelan. "Anda sudah tidak sejenius dulu. Seharusnya anda menyadarinya sejak semua rencana yang anda susun gagal," ucap Gong Jihon kemudian melanjutkan langkahnya. "Yang mulia terimakasih atas tehnya," lanjut Gong Jihon sebelum keluar dari pintu.


Kedua dayang yang menjaga pintu sedang berjaga itu pun menundukkan kepala saat Gong Jihon lewat. Pria renta itu menoleh ke arah mereka sekilas sebelum pergi jauh.