
Selir dan dayang yang berada diluar segera membungkuk hormat. Li Jihyun melirik mereka sekilas dan terus berjalan. "Selir Hai menyapa yang mulia selir agung," kata Hai Rong menghentikan langkah Li Jihyun. Gadis itu memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Hai Rong.
"Ada apa selir Hai?" tanya Li Jihyun sambil melirik ke arah selir lain. Meski kepala mereka tertunduk tapi Li Jihyun bisa merasakan lirikan dari mata mereka. Mungkin karena posisinya yang tinggi membuat mereka tak berani melihatnya langsung.
"Maaf sudah menganggu perjalanan anda. Tapi bolehkah kami mengetahui kondisi yang mulia kaisar?" tanya Hai Rong dengan percaya diri. Li Jihyun tersenyum tipis.
Sudah kuduga dia pasti sengaja melakukannya. Agar posisinya aman selama dekat dengan selir agung. Pantas saja dia sukarela membantuku. Cih! Ayah dan anak sama saja, batin Li Jihyun. Dia menghela napas berat membuat Hai Rong diliputi rasa penasaran. Begitu juga selir dan dayang lain yang menajamkan pendengarannya. Li Jihyun mencondongkan wajah mengejutkan Hai Rong. Wanita cantik itu hendak mundur tapi cengkraman di bahunya mengurungkan gerakannya. "Hmph! Hai Rong kamu terlalu naif jika berpikir aku tunduk padamu," bisik Li Jihyun lirih. Tubuh Hai Rong membeku. Matanya terbelalak menatap Li Jihyun yang sudah didepannya.
Gadis itu tersenyum lebar. "A-Apa maksud anda yang mulia?" tanya Hai Rong memiringkan wajah kebingungan.
"Bukankah kamu sendiri paling tau jawabannya Hai Rong," kata Li Jihyun melepas cengkraman dari bahunya. Suara gemerisik pohon mengalihkan atensinya. Pandangannya beralih ke arah jendela yang terbuka. Matanya sedikit menyipit melihat sosok hitam yang berdiri didekat jendela. Tampak seseorang berjubah hitam menatapnya sambil tersenyum. Sesaat Li Jihyun bergidik ngeri. Dia menelan ludah susah payah. Peluh mengucur deras. Setelah itu seseorang berjubah itu segera pergi.
Hai Rong yang memperhatikan perubahan ekspresi Li Jihyun ikut mengalihkan atensinya ke jendela. Namun tidak apapun disana. Kepalanya kembali tertoleh tapi saat bertatapan dengan Li Jihyun membuatnya terkejut. Wajah Li Jihyun berubah gelap. "Aku harap kamu menjaga batasanmu selir Hai," ucap Li Jihyun balik kanan dan melangkah pergi.
Li Jihyun berjalan tergesa. Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat. Bahkan bernapas pun kesulitan. Lian yang mengikuti Li Jihyun kebingungan. Sangat aneh gadis yang biasanya tenang terlihat sangat terburu buru. Terkadang Li Jihyun berhenti berlari. Kepalanya celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Lian yang hendak bertanya justru mengurungkan niatnya. Setiap kali dia hendak bicara Li Jihyun pasti akan melanjutkan larinya.
Aku tidak mungkin berhalusinasi. Tidak salah lagi dia pasti Zhi Shen, batin Li Jihyun terus berlari. Matanya terus bergerak liar. Merasa lelah Li Jihyun berhenti berlari. Dia terduduk ditengah koridor dengan bangunan terbuka. Dia mengatur deru napasnya. Sementara Lian yang sejak tadi mengikuti Li Jihyun tertinggal jauh. Dayang itu kelelahan mengikuti Li Jihyun yang terbilang berlari mengelilingi separuh istana utama. Tapi itu tak disadari Li Jihyun karena sibuk mengikuti sosok berjubah yang sempat dilihatnya. Apa mungkin aku dan Zhi Shen sama sama bereinkarnasi? Tapi bukankah Zhi Shen masih hidup? pikir Li Jihyun yang mengingat kembali ke kehidupan sebelumnya.
Zhi Shen adalah rekannya saat menjadi pembunuh bayaran. Pria yang usianya sepantaran dengannya itu kerap bersama menyelesaikan misi. Dan pria itu jugalah yang sering menikmati tubuhnya hingga menyiksanya. Mengingat itu membuat Li Jihyun mengepalkan tangan erat. Kemarahannya semakin memuncak saat Zhi Shen mendorongnya jatuh dari lantai 17 hingga tewas. Membuatnya tiba di zaman yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Walau disatu sisi dia bersyukur dilahirkan dari keluarga yang baik dan dipenuhi kasih sayang. Kasih sayang itulah membuat hatinya perlahan luluh. Tapi semua itu berselang sebentar. Begitu usianya 17 tahun terjadi tragedi besar membuatnya kembali seperti dulu.
Sementara dari kejauhan ada seseorang yang terus memperhatikan Li Jihyun. Dia tersenyum lebar. "Sepertinya dia sudah menyadari keberadaanku," gumamnya menopang dagu. Matanya terus mengawasi gerak gerik Li Jihyun sampai gadis itu pergi dari sana. Embusan napas terdengar. "Belum saatnya kita bertemu," lanjutnya kemudian menghilang dari pandangan. Dia pergi entah kemana lagi. Tapi seseorang yang kerap memakai jubah itu cuma berkeliaran di sekitar istana. Tapi tidak pernah terlihat dimata orang lain. Tak ada yang tau siapa dia sebenarnya.
Li Jihyun mendengus sebal. Malam semakin larut dan dia harus berjalan sendirian di istana utama. Beruntung dia hafal keseluruhan jalur istana utama membuatnya tidak tersesat. Sesekali terdengar omelannya untuk Lian. Dia pikir dayang itu mengikutinya tapi justru yang terjadi dayang itu tidak terlihat. Gadis itu terus berjalan melewati lorong yang secara kebetulan. bertemu Zhang Liu. Zhang Liu sedikit terkejut melihat Li Jihyun.
"Zhang Liu menyapa yang mulia selir agung," sapa Zhang Liu sopan. Pria berkacamata retak itu membungkukkan badan. Alis mata Li Jihyun mengerut melihat kacamata yang dipakai Zhang Liu.
"Apa kamu mau menjenguk yang mulia kaisar?" tanya Li Jihyun sekadar basa basi.
"Iya yang mulia. Saya dengar yang mulia kaisar sedang sakit parah," jawab Zhang Liu yang diangguki Li Jihyun.
"Aku juga baru melihatnya tadi. Tapi apakah kamu melihat dayangku, Lian?"
"Apakah anda mau kembali ke kamar?" Bukannya menjawab pria itu justru bertanya balik. Li Jihyun menganggukkan kepala. Mata Zhang Liu berbinar. Kesempatan sudah didepan mata tapi ada keraguan terbesit dihatinya. "Bagaimana jika saya mengantar anda? Mungkin dayang anda sudah kembali tadi," tawar Zhang Liu sedikit gugup.
Li Jihyun tersenyum miring. "Tentu saja. Suatu kehormatan bagiku bisa ditemani perdana menteri seperti anda." Kepala Zhang Liu terangkat dan bertatapan dengan Li Jihyun. Dia menelan ludah susah payah melihat kecantikan Li Jihyun. Wajah gadis itu tampak berseri dan indah dimata. Walau malam sedikit menutupinya. Jantungnya pun berdetak cepat lagi persis seperti saat mereka pertama kali bertemu. "Zhang Liu," panggil Li Jihyun menyadarkan lamunan Zhang Liu.
Pria itu sedikit gelagapan. "Ma-Maafkan saya yang mulia," ucapnya dengan tergagap. Hela napas terdengar.
"Baiklah. Antarkan aku ke kamar. Aku harus kembali beristirahat. Malam semakin gelap," ucap Li Jihyun berjalan terlebih dulu diikuti Zhang Liu. Untuk pertama kalinya Zhang Liu berjalan bersama Li Jihyun membuat hatinya kian berbunga.