
Zhang Liu berlari cepat menuju penjara. Gerombolan dayang yang tengah bekerja di lorong istana terpaksa menepi. Zhang Liu terus berlari hingga tiba di penjara. Napasnya memburu cepat dan keringat terus menerus bercucuran. Tiga orang prajurit yang tengah menjaga gerbang penjara segera menghampirinya. Mereka menatapnya keheranan.
"Tuan perdana menteri ada urusan apa anda kemari?" tanya salah satu prajurit itu sopan. Zhang Liu menarik napas dan menatap serius prajurit itu.
"Dimana penjara yang mulia selir agung?"
"Mari ikut saya," jawab prajurit tadi memimpin jalan. "Kalian berdua jaga pintu dengan baik," titahnya yang diangguki kedua orang itu. Mereka pun menjaga gerbang membiarkan Zhang Liu dan prajurit itu masuk. Suara derit gerbang terdengar ngilu ditelinga. Tapi Zhang Liu tak peduli. Dia terus berjalan dengan mantap.
Namun saat melihat pemandangan didepan mata, Zhang Liu dibuat tercengang. Penjara didepan matanya terlihat sangat menyeramkan. Pencahayaan ruangan yang temaram, udara yang lembab dan bau amis tercium pekat. Semua itu membuat Zhang Liu tidak nyaman. Apalagi suara berisik dari balik jeruji besi yang mereka lewati.
Mereka terus berjalan hingga langkah Zhang Liu terhenti sejenak. Dia merasa menginjak sesuatu yang aneh. Ragu pandangannya menurun sambil menggeser sepatunya.
Napasnya tercekat saat melihat sesuatu yang tadi diinjaknya. Lututnya bergetar sampai terduduk lemas. Lidahnya langsung kelu.
Tes!
Cairan kental yang hangat menetes ke atas kepalanya. Hingga menjalar ke wajahnya. Dia menelan ludah susah payah. Dengan sisa keberanian dia mendongakkan kepala. Matanya terbelalak kaget saat melihat mayat yang bergelantung di atas. Kepala mayat itu yang menunduk membuat mereka saling bertatapan. Menambah rasa takut Zhang Liu. Ada tali yang melilit lehernya. Sepertinya dia digantung sampai mati. Tubuh Zhang Liu membeku.
Tes!
Zhang Liu terkesiap buru buru dia merangkak mundur. Napasnya masih memburu cepat dengan jantung berdegup kencang. "Apa yang anda lakukan disini?" tanya prajurit itu mengejutkan Zhang Liu. Pria itu terjungkal saking kaget. Bahkan kacamata yang dipakainya pun terjatuh cukup jauh darinya.
"Kacamataku," serunya panik memegangi wajah. Dia kembali meraba raba dilantai mencari keberadaan kacamatanya. Ruangan yang temaram membuat pandangannya semakin buram. "Maaf bisakah kamu mencari kacamataku?" pintanya dengan suara bergetar. Tangannya terus bergerak cepat. Lantai yang dipijaknya dipenuhi genangan darah segar. Membuat tangannya berlepotan cairan kental berwarna kemerahan itu. Bahkan wajahnya pun tak luput. Hela napas berat terdengar. Dibawah cahaya yang temaram prajurit itu membantu mencari kacamatanya. Meski jarak pandang yang sulit.
Kreak!
Suara retakan memecah keheningan. Zhang Liu menggigit bibir bawah. Dia mencari sumber suara dengan susah payah. Prajurit itu menghela napas berat lalu mengambil sesuatu dibawah sepatunya. Yang tak lain adalah kacamata Zhang Liu. "Maaf tuan saya tidak sengaja menginjak kacamata anda," ucap prajurit itu datar sambil menyerahkan kacamata yang sumbang.
Zhang Liu menerima kacamata rusak itu dengan kecewa. Kacanya yang sedikit pecah dan bingkai patah. Zhang Liu mencebikkan bibir kecewa. Mau dipakai pun percuma. Penglihatannya justru semakin kacau. "Tapi ada apa anda mengunjungi penjara?" tanya prajurit itu begitu Zhang Liu bangkit dari duduk. Dia menyimpan kacamata rusak itu kedalam saku hanfu.
"Yang mulia kaisar menyuruh saya untuk menjatuhi ... hukuman cambuk," ucap Zhang Liu dengan sedih. Terbayang dibenaknya Li Jihyun dilucuti cambuk. Hatinya terasa sakit layaknya teriris pisau.
"Baiklah. Apa yang mulia mengatakan sesuatu yang lain?" tanya prajurit itu masih dengan ekspresi datar.
"Itu yang mulia meminta agar hukuman cambuknya sebanyak 50 kali," kata Zhang Liu memalingkan wajah. Hela napas terdengar.
"Baiklah. Jika tak ada kepentingan yang lain. Silakan anda keluar," usir prajurit itu mengejutkan Zhang Liu. Dia menatap terperangah pria itu. Prajurit penjaga gerbang penjara ini tampak aneh dibanding manusia lain yang ditemuinya.
"Anda adalah orang berpendidikan jadi tidak pantas memasuki ruangan kotor dan rendahan ini. Tempat anda bukan disini," ucap prajurit itu membuat Zhang Liu bergidik. Tatapan prajurit itu terasa dingin dan menusuk. Zhang Liu menelan ludah susah payah.
"Ta-Tapi saya kemari untuk mengunjungi yang mulia selir agung," pinta Zhang Liu yang digelengkan prajurit itu.
"Anda tidak berhak menemui yang mulia selir agung."
"Ke-Kenapa?"
Prajurit itu menatap lekat Zhang Liu. Dia menghela napas lagi. "Saya tidak perlu menjelaskannya pada anda. Sekarang anda keluar," ucap prajurit itu mendorong tubuh Zhang Liu membuat tubuh pria itu terhuyung ke belakang.
"Tapi kenapa? Apa anda tidak bisa jelaskan pada saya?" protes Zhang Liu berang. Tapi prajurit itu menyeretnya pergi tanpa mempedulikan ocehan dari Zhang Liu. Dia membuka pintu lebar membuat kedua prajurit yang sebelumnya berjaga menepi.
"Silakan anda laporkan pada yang mulia kaisar," ucap pria itu dingin melemparkan tubuh Zhang Liu keluar. Membuat kedua prajurit yang menjaga pintu saling tatap. Mata keduanya lalu beralih melirik prajurit yang tadi melempar Zhang Liu. Tatapan matanya yang dingin dan berkilat penuh amarah membuat keduanya secepatnya mengalihkan atensi.
Zhang Liu meringis kesakitan. Telapak tangannya lecet terkena lantai. Dia berdiri dan menatap lekat prajurit itu. "Sialan! Kamu pikir aku tak berani. Lihat saja akan kulaporkan pada yang mulia kaisar," ucapnya kesal dan membalikkan badan. Sebelum pergi meninggalkan gerbang penjara pria itu menghentakkan kakinya. Lalu berjalan sambil bergumam.
Tapi baru saja pria itu berjalan sepuluh langkah tanpa sengaja menabrak pilar istana. Hal itu membuat kedua prajurit itu menahan tawa. Wajah Zhang Liu semakin kusut. Dia kembali melanjutkan perjalanan sambil bersungut sungut. Prajurit itu memandangi Zhang Liu sampai hilang dari pandangannya. Pria berusia 54 tahun itu menggelengkan kepala melihat tingkah Zhang Liu.
"Ketua bagaimana jika tuan perdana menteri melaporkan anda?" tanya salah satu dari kedua prajurit itu. Wajah mereka tampak cemas.
"Kenapa? Apa aku harus takut pada pria lemah itu?" bukannya dijawab justru pria berwajah sangar itu balas bertanya. Membuat kedua orang saling bertatapan dalam diam.
"Bukan begitu ketua. Bagaimanapun dia adalah kaisar. Orang yang dikabarkan tiran gila yang haus darah. Bahkan selirnya sendiri pun dijatuhi hukuman separah itu. Apalagi ketua yang cuma ketua sipir," celetuk prajurit itu yang diangguki setuju temannya.
Prajurit yang dipanggil ketua itu menggaruk alis matanya yang tak gatal. Dia mengembuskan napas kasar. "Aku tidak peduli. Mau dia menjatuhiku hukuman ringan maupun berat. Bagiku semua itu sama," ucapnya berbalik dan memasuki penjara. Kedua prajurit itu hanya menatap punggungnya dari kejauhan.
"Aku baru tau jika ketua kita memiliki pemikiran seluas itu," celetuk temannya.
"Apanya yang luas? Dia itu bodoh. Bagaimana mungkin dia berani melawan yang mulia kaisar jika bukan orang bodoh sekaligus gila?"
"Jadi maksudmu yang mulia selir agung bodoh dan gila?" tanya temannya menunjuk kearah penjara. Prajurit itu mendengus sebal.
"Terserah aku tak peduli," ucapnya mengibaskan tangan diudara. "Sekarang kita kembali bekerja sebelum dipukuli ketua sipir," lanjutnya yang diangguki prajurit itu. Mereka berdua kembali berjaga pada posisi masing masing.