
Ctas!
Cambuk itu melucuti sekujur tubuh Hai Rong. Hanfu yang dikenakannya robek. Kelopak matanya perlahan terbuka saat merasakan sakit pada tubuhnya. Matanya terbelalak kaget melihat Li Jihyun dihadapannya. Meski pencahayaan diruangan itu remang. "LEPASKAN AKU!" teriaknya memekakkan telinga. Dia menghentikan ayunan cambuknya. Li Jihyun berdecik melirik Lien yang berdiri tak jauh darinya. Seolah mengerti gadis itu mengangguk dan mengambil buntalan kain di atas meja. "LEPASKAN AKU! LEP ... hmp!" Lien menyumpal mulut Hai Rong. Tapi dia berusaha berontak melepaskan tali. Deritan kursi terdengar berisik.
*Ctas!
Ctas*!
Deritan kursi itu berhenti. Cambuk yang terus melucuti tubuhnya membuat gerakannya terhenti. Li Jihyun terus mengayunkan cambuk ke tubuh Hai Rong. Sampai kulit wanita itu terkelupas dan mengeluarkan darah. Robekan hanfu Hai Rong semakin terbuka hingga menampilkan tubuhnya. Air mata wanita itu mengalir di pipi. Tapi Li Jihyun tak peduli dan terus melayangkan cambuknya. Bahkan mengenai wajah wanita itu. Rasa sakit dan nyeri membuat pandangan Hai Rong nanar.
Darahnya sebagian menempel pada cambuk Li Jihyun. Bahkan mengalir ke lantai kamarnya. Lien yang menyaksikan itu memalingkan wajah. Mereka memang pasangan cocok. Sama sama gila, batin Lien.
Pandangan Hai Rong perlahan buram. Suara disekitarnya terdengar sayup. Tapi Li Jihyun terus melayangkan cambuknya tanpa ampun. Dia tersenyum puas melihat Hai Rong yang mengerang kesakitan. Suaranya tertahan gara gara sumpalan di mulutnya. Tolong, pintanya dalam hati. Dia menggerakkan tubuhnya yang sudah berlumuran darah. Berusaha lagi melepaskan diri. Cambuk itu melayang lebih cepat membuat gerakannya terhenti. Rasa sakit membuat tubuhnya lemas tak berdaya.
Tok! Tok! Tok!
Atensi Lien beralih menatap pintu. Dia menatap sekilas Li Jihyun yang asyik mencambuk Hai Rong. Sedikit pun tak terusik mendengar suara ketukan pintu. Lien menghela napas pelan. Kembali menatap ke arah pintu dan berjalan mendekati pintu.
Dia membuka sedikit pintu. Tampak Jing berdiri didepan pintu membawa seduhan obat yang diminta Li Jihyun. "Masuklah," ujar Lien dengan suara pelan. Tak lupa kepalanya celingak celinguk memastikan keadaan sekitar. Melihat tak ada siapapun dia menghela napas lega.
"Tenang saja tidak ada siapapun," ucap Jing saat melewati Lien. Lien menutup pintu rapat kemudian menyusul Jing yang sudah masuk terlebih dulu.
Jing yang melihat Li Jihyun mencambuki Hai Rong yang terkulai lemas terkejut. Dia melirik Lien. Dayang itu malah mengedikkan bahu. Jing menarik napas lalu mendekati Li Jihyun. "Yang mulia ini obat yang anda pinta," ujar Jing menghentikan gerakan Li Jihyun. Gadis itu membalikkan badan.
"Berikan padanya," tunjuknya ke arah Hai Rong yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Jing menatap sekilas Hai Rong sebelum kepalanya mengangguk. Dia berjalan mendekati Hai Rong. Mengambil sumpalan kain dimulutnya. Bibir kering wanita itu mengeluarkan darah. Cambuk itu pasti mengenainya. Bahkan termasuk banyak luka di wajahnya. Wajah Hai Rong tidak semulus dulu. Tak ada lagi kulitnya yang seputih porselen. Justru berlumuran darah sampai mengotori hanfu yang dipakainya.
"Tolong," gumamnya lirih. Jing mengangkat kepala Hai Rong. Rambut wanita itu tergerai berantakan. Matanya sayun menatap Jing. "Tolong aku," pintanya meneteskan air mata.
Jing tak peduli dan menuangkan cairan berisi obat itu pada Hai Rong. Hai Rong hendak memuntahkannya ketika cairan itu masuk ke mulutnya. Jing bergerak cepat menutup mulut Hai Rong dengan tangannya. Matanya menatap tajam Hai Rong. Nyali wanita itu langsung menciut. "Telan," ucapnya datar dan dingin.
"Kerja bagus," ujarnya menatap Hai Rong yang mulai sempoyongan. Mata wanita itu berkunang kunang melihat Li Jihyun. Kepalanya pun terasa berat.
Obat apa yang dimasukkan ke dalam tubuhku? Kenapa aku merasa mengantuk? pikirnya sebelum kegelapan datang menyelimuti. Mat Hai Rong terpejam rapat. Li Jihyun mengayunkan tangannya diudara memastikan obat tabib itu sudah bekerja. Melihat tak ada reaksi Hai Rong, dia tersenyum puas.
Obat dari tabib istana memang tak diragukan, batinnya. Dia menatap ke arah Lien dan Jing. "Kalian bawa dia ke ruang bawah ditanah di paviliun ini. Tapi jangan sampai ketahuan." Kedua orang itu saling lirik lalu menganggukkan kepala. "Lalu satu lagi jika berita ini bocor ke luar. Jangan salahkan aku membunuh kalian," ancam Li Jihyun mendelik tajam.
Lien dan Jing bergidik ngeri. Teringat kembali perintah Long Jian yang memerintahkan mereka untuk melaporkan kegiatan yang dilakukan Li Jihyun. Kedua orang itu mulai meragu. Ditambah dua teman mereka menjadi korban Li Jihyun. Bahkan kedua orang itu tak lolos dari hukuman cambuk sampai tewas. Long Jian yang diharapkan mereka membantu justru mengabaikannya. Kesetiaan pun perlahan goyah.
"Baik yang mulia. Kami akan menjaga rahasia ini dengan baik," ucap Lien yang langsung dilirik Jing. Sorot matanya seolah menyiratkan keheranan.
"Bagus. Itulah yang kuharapkan dari bawahan yang setia," ucap Li Jihyun melirik Jing. Merasa dilirik begitu membuat kepala Jing menunduk takut. Tatapan Li Jihyun terasa menguliti mereka. Dia memilin jemari gelisah. "Sekarang lakukan tugas kalian. Beritahu dayang lain agar tidak membocorkan masalah ini," ucapnya yang diangguki mereka serempak.
Satu per satu kalian akan merasakan penderitaan, batin Li Jihyun menatap Hai Rong yang pingsan.
...
"Long Jian! Long Jian!" suara teriakan memekakkan telinga. Pria yang tengah berbaring itu bergerak gelisah. Keringat dingin terus menetes. Bayangan seorang gadis berusia 9 tahun terus muncul dalam mimpinya. Tapi wujud gadis itu bukan terlihat seperti gadis pada umumnya. Justru terlihat terluka parah.
"Berhentilah mengangguku," pinta Long Jian ditengah tidurnya.
"Long Jian! Long Jian! LONG JIAN!" teriaknya lantang yang langsung membangunkan Long Jian. Pria itu terduduk dengan napas tersengal. Dia menyeka peluh didahi yang terus menetes.
"Sial! Mimpi buruk lagi," gumamnya mengatur deru napasnya. Dia menarik napas. Memejamkan matanya sejenak sambil memijat pelipis. Bayangan gadis kecil itu kembali menari di benaknya. Gadis berusia 9 tahun itu tersenyum lebar ditengah hamparan bunga. Long Jian tersenyum tipis. Aroma bunga yang tercium wangi dan hangatnya cahaya matahari terasa nyata bagi Long Jian.
Namun itu sebentar. Tiba tiba pemandangan yang dilihat Long Jian berubah. Wajah gadis itu pucat dan banyak bekas luka sayatan. "Gara gara kamu aku mati! Gara gara kamu! Aku ... aku takkan memaafkanmu." Long Jian membuka matanya dengan cepat. Napasnya menderu cepat.
Dia memijat pelipis yang mendadak nyeri. Kembali mengatur deru napasnya teratur. Kepalanya menengadah ke langit langit kamar. "Sebenarnya kenapa kamu terus mendatangiku? Pergilah dengan tenang Li Jianzhen," gumam Long Jian menundukkan kepalanya sambil mengusap rambutnya.