
Bayangan itu terkikik dan berdiri tepat dihadapan Li Jihyun. Cahaya dari luar jendela membuat keberadaan sosok itu terlihat. Meski tertutupi jubah tapi Li Jihyun segera mengenalinya. Terutama sepasang mata gelap yang selalu merendahkannya.
Dia mengatupkan rahang rapat. Giginya bergemulutuk marah. "Tenanglah Li Jihyun. Aku kemari bukan untuk membunuhmu," ucap sosok itu mengedikkan bahu santai.
"Zhi Shen apa yang terjadi padamu? Apa kamu sudah mati?" tanya Li Jihyun mengacungkan telunjuk ke hadapannya. Tapi pria itu menyeringai lebar. Dia tertawa lagi yang ditelinga Li Jihyun terdengar menyebalkan.
"Apa sekarang kamu mengkhawatirkanku Li Jihyun?" tanya sosok yang dipanggil Zhi Shen. Matanya menatap berbinar Li Jihyun tapi dibalas decakan olehnya.
"Tsk! Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku tak peduli kamu hidup atau mati. Tapi apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu menemuiku?" tanya Li Jihyun dengan nada tinggi. Tapi bukannya takut Zhi Shen justru mendekatinya. Dia berjalan selangkah lebih dekat dengan Li Jihyun.
Gadis itu memasang kuda kuda bersiap melayangkan pukulan. Tapi baru lima langkah Zhi Shen berhenti. Kedua pasang mata itu saling bertatapan dalam kegelapan. Dia mengulurkan tangan tapi ditepis kasar Li Jihyun. "Jangan menyentuhku, brengsek!" maki Li Jihyun membuat Zhi Shen tertawa lagi.
"Kamu sudah berubah banyak Li Jihyun," ucap Zhi Shen menarik napas lalu menatap lekat gadis itu. Ingatan itu kembali berputar dibenaknya. Perlakuan Zhi Shen yang menyiksanya terus tergiang. Tubuh Li Jihyun sedikit gemetar. Dia menggigit bibir bawah. "Apakah sekarang kamu tidak menganggapku lagi?" tanya Zhi Shen dengan suara lembut tapi menusuk ditelinga Li Jihyun.
"Pergilah! Sudah cukup kamu menyiksaku Zhi Shen," tukas Li Jihyun tapi pria itu tak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia menyeringai lebar.
"Jadi ... sekarang kamu sudah berani melawanku?" kata pria itu menaikkan sebelah alisnya. Dia berjalan selangkah lebih dekat. Tapi Li Jihyun tak takut dan sudah siap memukul Zhi Shen. "Tak ada gunanya kamu melawan Li Jihyun. Meski kamu pembunuh yang hebat sekalipun." Li Jihyun terkesiap mendengarnya. Tapi bisikan itu ditepisnya dengan cepat. Dia harus membunuh Zhi Shen.
Begitu Zhi Shen sudah dekat jemarinya bergerak lincah diudara. Menekan titik vital ditubuh Zhi Shen. Tapi gadis itu dibuat terkejut. Tubuh Zhi Shen menembus tangannya. Bahkan terasa hawa dingin yang menyengat dikulit. Mata Li Jihyun terbelalak kaget.
Zhi Shen yang melihat ada celah segera mencakar leher gadis itu. Li Jihyun melompat mundur sambil memegangi lehernya. Dia mendesis marah. "Ini sepertinya cukup," gumam pria itu menyimpan tetesan darah di jemarinya ke dalam sebuah botol kecil. Dia kembali memasukkannya ke dalam saku.
"Zhi Shen berhentilah ikut campur. Aku takkan membiarkanmu lolos kali ini," ujar Li Jihyun merangsek maju. Tapi Zhi Shen menghindar lebih cepat. Pukulan Li Jihyun kali ini mengenai udara kosong. Tapi gadis itu tak tinggal diam. Melihat Zhi Shen didekatnya. Tangannya menarik jubah pria itu membuatnya jatuh terbanting. Botol yang disimpan Zhi Shen berguling jatuh.
Kedua pasang mata itu saling lirik. Li Jihyun dan Zhi Shen bergerak cepat meraih botol itu. Li Jihyun melompat terlebih dulu dari Zhi Shen membuat botol itu berpindah dari tangannya. Zhi Shen menggeram dan menghampiri Li Jihyun dengan cepat. Botol ditangannya dibanting kencang membuatnya pecah berserakan bersamaan darah yang berceceran membasahi lantai. Li Jihyun tersenyum puas. "Aku sudah bilang Zhi Shen jangan pernah ikut campur," ujar Li Jihyun. "Aku takkan membiarkan siapapun mengacaukan rencanaku," lanjutnya lagi menatap Zhi Shen yang tampak kesal.
"Kapan aku bisa keluar dari masalah?" gumam Li Jihyun mengacak rambutnya frustasi. Sekarang masalah baru sudah muncul. Bukan hanya masalah Long Jian dan anteknya tapi juga Zhi Shen musuhnya sewaktu dikehidupan sebelumnya. Pria itu pasti takkan melepaskannya dengan mudah. Bahkan dia juga mengambil darahnya untuk mengobati Long Jian. Jadi selama ini dia mengawasiku rupanya? Bagaimana bisa aku tak menyadarinya? Sial! Aku terlalu lemah dan tak pantas menyandang status pembunuh bayaran yang hebat. Ini benar benar menyebalkan, batin Li Jihyun memegangi lehernya yang terluka.
Dia menarik laci dan mengeluarkan saputangan. Lalu meletakkannya di leher yang terluka. Malam terasa panjang bagi Li Jihyun. Setelah membalut luka seadanya, Li Jihyun berbaring di kasur. Otak dan tubuhnya terasa lelah. Dia harus tidur agar besok bisa melanjutkan rencananya. Matanya kembali terpejam rapat.
....
"Apa ada perkembangan keadaan yang mulia?" tanya Li Jihyun memastikan. Zhang Liu yang tengah membaca pun segera berhenti. Kepalanya terangkat dan bertatapan dengan Li Jihyun.
"Masih belum yang mulia. Keadaan yang mulia kaisar semakin parah. Sekarang para pejabat sudah ribut masalah calon kaisar berikutnya," ucap Zhang Liu menutup bukunya. Lalu memberikannya pada Li Jihyun. "Laporan yang anda buat sangat bagus yang mulia. Untuk kedepannya saya serahkan masalah keuangan istana pada anda." Li Jihyun tersenyum lebar. Kini semua yang menyangkut keuangan istana ada ditangannya. Dia bisa kaya dalam semalam.
"Terimakasih atas kepercayaan anda tuan Zhang," ucap Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu. Lian yang sejak tadi menyaksikan matanya sampai tak berkedip. Dalam sekejap satu per satu kekuasaan kekaisaran beralih ke tangan Li Jihyun. Apalagi dengan posisi kaisar yang saat ini kosong.
"Saya rasa anda cocok mengisi posisi calon kaisar. Apalagi yang mulia tidak punya garis keturunan," celetuk Zhang Liu mengejutkan Lian. Dayang itu segera melirik ke arah Li Jihyun. Tapi gadis itu malah tersenyum.
"Posisi itu terlalu besar untuk saya yang masih banyak kekurangan. Kita doakan semoga yang mulia kaisar cepat sadar." Zhang Liu menghela napas kecewa. Posisi itu lebih cocok pada Li Jihyun daripada Long Jian.
"Baiklah. Jika anda mengatakan begitu. Dan mengenai masalah kekuatan militer pihak keluarga Xu setuju. Tapi mereka meminta syarat yang sulit," kata Zhang Liu mengembuskan napas kasar. Setelah bernegosiasi semalam kepala keluarga Xu tidak semudah itu melepaskan Li Jihyun dengan mudah. Kepala keluarga Xu tidak bisa menerima kematian putrinya semudah itu.
"Apa permintaan mereka?" tanya Li Jihyun mencondongkan tubuhnya. Sorot matanya tampak tertarik membuat Zhang Liu dirudung rasa bersalah. Pria berkacamata itu mengusap tengkuknya.
"Saya rasa kita perlu mencari bantuan dari pihak lain. Bagaimanapun bukan keluarga Xu saja yang punya kekuatan militer yang besar," usul Zhang Liu tapi digelengkan Li Jihyun.
"Mereka punya sejarah yang panjang dikekaisaran ini. Kita membutuhkan bantuan mereka saat berperang nanti," ucap Li Jihyun membuat Zhang Liu seketika terdiam.