Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 101


Zhang Liu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sudahlah. Sia sia aku mengkhawatirkan pak tua itu," ujar Li Jihyun mengembuskan napas kasar. "Jadi bagaimana laporan tentang perempuan misterius bermarga Li itu?" tanya Li Jihyun.


"Saya masih belum menemukan petunjuk apapun yang mulia," jawab Zhang Liu. Dia mengembuskan napas lagi.


"Aku sudah duga tidak semudah itu menemukan orang yang dekat dengan kaisar. Lalu bagaimana dengan Long Jian? Kapan dia akan pulang?"


"Berdasarkan surat yang saya terima terakhir kali yang mulia akan secepatnya pulang. Kemungkinan bulan depan."


"Kapan surat itu kamu terima?"


"Sekitar dua hari yang lalu." Li Jihyun terdiam sejenak sambil mengusap bawah dagunya. Tampak berpikir keras.


"Kita harus bergerak cepat Zhang Liu. Masalah bangsawan yang akan mendukungku sudah lebih dari cukup," ujar Li Jihyun yang diangguki setuju Zhang Liu. "Tinggal perekrutan prajurit yang harusnya diselesaikan dengan cepat," lanjut Li Jihyun.


"Tenang saja yang mulia. Saya sudah mempersiapkannya dengan baik. Bahkan saya sudah merekrut guru yang akan mengajari mereka dengan baik," ujar Zhang Liu membuat Li Jihyun tersenyum puas.


"Bagus. Ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Long Jian," ujar Li Jihyun mendongakkan kepala. Mata hitamnya berbinar menatap bintang di hamparan langit malam. "Tapi kita harus membunuh ketua bayangan itu agar rencana ini berjalan mulus," ujar Li Jihyun mengalihkan atensinya ke arah Zhang Liu.


Wajah Zhang Liu seketika berubah pias. Dia menelan ludah. "Tapi yang mulia itu ..."


"Kamu meragukan kemampuanku?" tanya Li Jihyun menyilangkan tangan diatas dada. Alis matanya naik sebelah.


"Bukan yang mulia. Cuma lawan yang anda hadapi ini lebih kuat dari yang dikira." Li Jihyun tertawa terbahak bahak.


"Hanya karena aku sering dikalahkan kamu menganggapku tidak bisa melakukan apapun. Heh?! Kamu salah Zhang Liu. Aku bisa melakukan apapun bahkan lebih gila dari ini," ujar Li Jihyun menatap lurus Zhang Liu.


Sejak awal yang mulia selir agung memang gila, batin Zhang Liu menundukkan pandangan. "Baiklah. Jika yang mulia menginginkan hal itu terjadi. Saya tidak bisa berkata apapun."


"Aku harus membunuhnya," gumam Li Jihyun.


......................


Perekrutan prajurit berjalan lancar. Meski mengundang banyak tanda tanya bagi penghuni istana. Mereka beranggapan akan terjadi perang di kekaisaran. Tapi tak ada satu pun penghuni istana yang melaporkan pada kaisar yang berada di medan perang. Bahkan dayang yang bekerja dibawah Long Jian pun tak berani melaporkan.


Tindakan Li Jihyun yang membunuh orang yang menghalangi jalannya sudah tersebar. Mereka memutuskan diam ketimbang nyawa melayang. "Aku pikir mereka akan melaporkan pada yang mulia kaisar," celetuk Li Jihyun berdiri diatas balkon sambil menyaksikan pelatihan prajurit.


"Saya rasa mereka takut pada anda," ujar Zhang Liu yang disahut kekehan Li Jihyun.


"Mungkin mereka takut dengan tumpukan tanah di halaman belakang paviliun selir," sahut Li Jihyun santai. Dia meraih gelas teh dan meneguknya dengan anggun. "Sudah lama sekali aku tidak melihat Fen," ujar Li Jihyun meletakkan gelas teh.


"Dia sepertinya masih berduka. Saya dengar dia masih di kediaman Hai," ujar Zhang Liu melirik perubahan di raut wajah Li Jihyun. "Anda tidak perlu kesal begitu. Masih banyak dayang lain yang lebih setia ketimbang Fen," lanjut Zhang Liu mengambil kesemek kering dan mengunyahnya.


Rahang Li Jihyun mengatup rahang. Terdengar suara gigi bergemulutuk. Seketika Zhang Liu melirik lagi ke arahnya. Wajah Li Jihyun tampak menahan amarah. Yang mulia marah cuma karena dayang? Apa yang mulia sangat menginginkan dayang itu? batin Zhang Liu tak habis pikir. Dia menelan kesemeknya dan membuka suara. "Apa yang mulia tidak mencari tau siapa pembunuh dibalik kematian Hai Rong?"


"Apa kamu sudah menemukannya?"


Senyuman tersungging dibibir Zhang Liu. "Tentu saja yang mulia. Bukankah dia adalah orang yang ingin anda bunuh?" Li Jihyun terkekeh pelan membuat sebagian prajurit baru itu mendongakkkan kepala.


"Jadi dia dibalik semua ini? Ini kesempatan bagus. Kirimkan surat pada kepala keluarga Hai dan katakan bahwa pembunuhnya sudah kita temukan."


"Baik yang mulia," jawab Zhang Liu menundukkan pandangan. "Lalu ada laporan yang menarik yang mulia," lanjutnya membuat alis mata Li Jihyun bertaut. Dia mencondongkan wajahnya dan berbisik lirih ditelinga gadis itu. "Saya sudah menemukannya yang mulia. Malam ini anda bisa segera beraksi," ujar Zhang Liu membuat hatinya langsung bersorak.


Kali ini kamu akan mati ditanganku, batin Li Jihyun sumringah. "Sepertinya kali ini keberuntungan memihak padaku. Katakan dimana lokasinya?"


"Penjara. Dia akan menemui kepala sipir untuk kedua kalinya," ujar Zhang Liu.


"Kalau begitu persiapkan aku pedang. Aku akan kesana malam nanti."


"Baik yang mulia," jawab Zhang Liu membuat Li Jihyun tak berhenti tersenyum. Bayangan Long Jian akan hancur seolah berada didepan mata.


"Kita lihat saja Long Jian seberapa gila aku menghancurkanmu," gumam Li Jihyun meraih gelas teh lantas meneguknya tanpa sisa.


......................


Malam sudah menyapa. Li Jihyun sudah bersiap dengan pedang ditangan. Pedang yang dikirim orang suruhan Zhang Liu. Tak lupa dia mengucir rambutnya yang panjang.


Setelah memadamkan lilin dia segera melompat keluar dari jendela. Li Jihyun melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain. Angin berembus pelan namun tidak membuat Li Jihyun menggigil.


Hingga akhirnya tiba didepan pintu penjara. Li Jihyun melompat turun dan berdiri tegak menatap penjaga yang tertidur. "Ck! Pantas saja penyusup bisa masuk. Ternyata mereka tertidur pulas," gumam Li Jihyun mendekati pintu.


Matanya menyipit saat pintu yang biasanya terkunci rapat kini mudah terbuka. Dia menatap ke arah penjaga yang tertidur. "Jangan jangan ..." gumamnya segera memasuki dengan langkah lebar.


Samar terdengar ditelinganya suara pedang beradu. "Bangsat! Dia bergerak lebih cepat," rutuk Li Jihyun berlari kencang. Satu dua orang yang berada dibalik jeruji besi berteriak minta tolong. Tapi Li Jihyun tak peduli dan terus berlari. Dia harus cepat menyelamatkan pamannya. Meski pria tua itu menyebalkan baginya.


Larinya terhenti didepan belokan tiga. Napasnya memburu cepat. Dia memasang telinganya untuk mendengarkan suara pertarungan lagi.


Ting!


Dari arah kiri terdengar suara pedang beradu. Bergegas Li Jihyun berlari kencang. Dia mengeluarkan pedang dari sabuknya. Larinya semakin dekat tepat didepan punggung orang itu. Mata kepala sipir itu seketika terbelalak melihat Li Jihyun.


Orang yang melihat tatapan Li Jihyun segera menolehkan kepala ke belakang. Terkejut saat melihat seseorang yang tak terduga.


Pedang ditangan Li Jihyun melayang tepat mengenai punggung orang itu. Tak pelak pakaian yang dipakainya robek dan darah pun mengucur.