Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 14


“Kenapa aku harus berhenti?” tanya Li Jihyun menancapkan lebih dalam kukunya membuat Xu Diu meringis. Air matanya berlinang jatuh saking menyakitkan. Kuku Li Jihyun menembus kulit Xu Diu tanpa ampun. Darah bercucuran membasahi meja. Semua orang menahan napas melihatnya. Sampai ada yang mual. Sementara gadis itu terkikik melihat wajah Xu Diu yang kesakitan.


Dayang Xu Diu semakin ketakutan. Apalagi melihat wajah Xu Diu membiru. “Sa-Saya mohon lepaskan selir Xu,” pinta dayang itu dengan memelas.


Li Jihyun menguap lebar. Dia menopang dagu sambil menatap malas dayang itu. “Jawab pertanyaanku,” ujar Li Jihyun. “Kalau kamu berhasil menjawabnya. Baru kulepaskan Xu Diu. Cepatlah! Aku sudah bisa merasakan dagingnya menggeliyat dijemariku,” ujar Li Jihyun menyeringai membuat mereka semua bergidik ngeri.


“Yang mulia selir agung Li. Selir Xu bisa mati jika terus dibiarkan. Saya mohon lepaskan selir Xu,” pinta salah satu selir membuat alis mata Li Jihyun terangkat sebelah. Selir lain saling lirik dengan gelisah. Gadis yang semula diejek tawanan perang itu ternyata iblis menakutkan yang senang menyiksa orang. Padahal sebelumnya ada gosip beredar gadis itu sangat baik yang menyelamatkan dayang tak dikenal. Sudah jelas dayang itu melakukan tindakan tidak sopan tapi dimaafkan. Waktu itu bahkan nekat menentang perkataan Long Jian yang bisa dijatuhi hukuman mati.


“Apa peduliku? Kalaupun dia mati bukankah itu bagus? Yang mulia kaisar pasti bosan jika terus bertemu selir menyebalkan seperti Xu Diu,” celetuk Li Jihyun tersenyum membuat mereka seketika terdiam. “Dan kalau kalian tidak mau mati dan digantikan posisinya lebih baik pikirkan cara bertahan hidup lebih lama.”


“Ya-Yang mulia selir agung. Saya mohon lepaskan selir Xu. Saya akan melakukan apapun asal anda melepaskannya,” pinta dayang itu bersujud di lantai dengan tubuh gemetaran. Li Jihyun menghela napas pendek. Dia menancapkan lebih dalam kukunya membuat Xu Diu mengerang. Dayang itu menggigit bibir bawah. “Sa-Saya mohon yang mulia selir agung. Bahkan jika anda menginginkan nyawa saya sekalipun akan saya berikan,” ucapnya tanpa pikir panjang. Li Jihyun tersenyum lebar.


“Yona,” panggil Li Jihyun mengejutkan Yona. Gadis yang sejak tadi menundukkan pandangannya itu mendongak. Dia menatap jeri Xu Diu yang sudah berlumuran darah. Wajahnya sudah membiru dan napas pun tersendat. Racun dikuku Li Jihyun mengalir cepat ke pembuluh darahnya. Tubuhnya sudah mati rasa dan tidak bisa digerakkan. “Yona?” panggil Li Jihyun lagi membuat Yona terkesiap.


“I-Iya yang mulia selir agung,” sahut Yona dengan suara bergetar. Situasi sekarang mencekam dan menakutkan. Suasana minum teh dipagi yang tenang justru berubah jadi ajang pembunuhan.


“Panggil kemari prajurit. Katakan bahwa aku memberikan perintah menjatuhi hukuman cambuk sebanyak 100 kali pada dayang yang sudah melakukan tindakan tidak sopan pada selir agung,” ucap Li Jihyun menatap dayang yang bersimpuh. Sementara Yona dengan cepat pergi memanggilkan prajurit sesuai perintah Li Jihyun.


Se-Seratus kali? Apa aku bisa bertahan selama itu? Ini gila dan menyeramkan, batin dayang itu meremas lantai. Membuat darah merembes dari kukunya. Tidak! Aku harus bertahan demi selir Xu, batinnya lagi dengan penuh percaya diri. Kepalanya sedikit terangkat bertatapan dengan Li Jihyun.


“Kenapa? Apa sekarang kamu protes?” tanya Li Jihyun menaik turunkan alis matanya.


“Sa-Saya tidak berani yang mulia selir agung. Hukuman yang anda berikan akan saya terima dengan hati lapang,” jawab dayang itu kembali menundukkan kepalanya.


Xu Diu menggerakkan bola matanya melirik dayang yang setia melayaninya sejak datang ke paviliun selir. Air matanya mengalir deras. Semua ini karena kesalahan yang diperbuatnya sendiri hingga orang lain ikut terlibat. Apalagi orang itu adalah orang yang dekat dengannya. Atensi Li Jihyun teralih ke arah Xu Diu.


Dasar iblis sinting! Rutuknya dalam hati. Aku pasti takkan melepaskanmu semudah itu. Aku akan memberitahu ayah atas tindakan yang diperbuatnya. Lihat saja kamu akan mati ditanganku, batinnya dengan mata berkilat penuh amarah. Tapi Li Jihyun tak peduli dan menancapkan lebih dalam kukunya. Bahkan kukunya sudah hampir menembus rongga mulutnya.


Wanita itu ingin menjerit kesakitan. Namun suaranya tidak keluar sama sekali. Racun itu melumpuhkan seluruh pergerakan tubuhnya tanpa disadari. Cuma Li Jihyun yang mengetahuinya. Dia tersenyum tipis melihat tubuh Xu Diu melemah. Tubuhnya juga mulai terasa dingin.


“Selamat pagi yang mulia selir agung,” sapa kedua prajurit serempak. Mereka membungkuk hormat.


“Bawa dayang itu,” titah Li Jihyun sambil mencabut kuku jemarinya dari kulit Xu Diu. Tubuh wanita itu langsung ambruk dilantai. Sontak semua orang langsung heboh. Bahkan kedua prajurit itu langsung menghampirinya hendak menolong. “Jangan mendekat. Biarkan saja,” ujar Li Jihyun santai sambil menjilat sisa darah dijemari tangannya. Semua orang menjerit histeris melihatnya. Bahkan sampai muntah saking jijik.


Kedua prajurit itu menghentikan langkahnya. Mereka hanya menyaksikan tangisan histeris dari dayang itu. Dayang yang setia melayani selir Xu Diu selama 5 tahun. Hubungan keduanya bukanlah sekadar majikan dan anak buah. Melainkan lebih mirip pertemanan yang tanpa disadari keduanya. Tangisan dayang itu terdengar menyayat hati. Dia memeluk tubuh Xu Diu yang terbujur kaku.


“Selir Xu BANGUN! SELIR XU!” pekiknya memecah keheningan.


“Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa dayang itu,” ujar Li Jihyun menunjuk dayang yang masih menangis sambil memeluk tubuh kaku Xu Diu. Gadis itu mengangkat wajahnya. Kilatan kebencian terlihat dimatanya.


“Selir Li Jihyun aku mengutukmu hidup sengasara. Lihat saja suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal,” ucap dayang itu sambil menggeram marah. Gerakan Li Jihyun menjilati jemari tangannya dari bercak darah terhenti. Dia menghela napas. Matanya menatap dayang itu lekat. Sekali lagi menghela napas.


Sementara Yona sudah ketakutan sejak tadi. Dia hendak membujuk Li Jihyun agar tetap tenang. Tapi melihat tidak ada reaksi dari Li Jihyun dia cukup bernapas lega.


Li Jihyun bangkit dari duduknya. Dia menarik pegangan pedang dari salah satu prajurit. Belum sempat mereka mencerna perbuatan yang akan dilakukan Li Jihyun. Tiba tiba Li Jihyun mengayunkan pedang ke arah leher dayang itu. Kepala dayang itu terguling jatuh dilantai membuat sebagian orang pingsan. Bahkan Yona menutup mulutnya saking terpukul. Majikan yang dilayani lebih sadis dibandingkan kaisar yang selama ini diromurkan haus darah.


Wajah Li Jihyun sumringah saat terkena cipratan darah. Dia menjilat sudut bibirnya. Kedua prajurit yang menyaksikan sampai mematung tak percaya. Selir yang dirumorkan baik hati ternyata memiliki sisi sadis yang menakutkan. Sesaat orang mulai meragukan rumor yang beredar.


“Ah, maafkan aku. Aku terlalu senang sampai tidak memperhatikan kondisi sekitar,” ujar Li Jihyun membalikkan badan sambil tersenyum ke arah mereka. Sisa orang yang masih sadar hanya bisa menundukkan pandangan. Tanpa berani bicara sedikit pun.