
Zhang Liu menghela napas. Dia menatap wajah Li Jihyun yang sendu. "Apa tidak ada lagi yang anda ketahui yang mulia?" tanya Zhang Liu yang digelengkan Li Jihyun. Zhang Liu menghela napas lagi. Ekspresi Li Jihyun yang terlihat sedih membuat Zhang Liu urung bertanya lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Yang mulia selir agung saya membawakan teh untuk anda," ucap dayang dari balik pintu.
"Masuklah," sahut Li Jihyun. Tak lama pintu digeser pelan. Muncul Lian membawakan dua gelas teh dan teko. Gadis berpakaian dayang itu dengan anggun meletakkan teko dan gelas diatas meja. Kemudian dengan cekatan menuangkan isi teko ke dalam gelas hingga berisi penuh.
"Selamat menikmati yang mulia selir agung dan tuan Zhang Liu," ucap dayang itu yang diangguki sekilas Zhang Liu. Setelah itu dia pergi meninggalkan Zhang Liu dan Li Jihyun.
"Silakan diminum," tawar Li Jihyun sedikit mendorong gelas teh dekat Zhang Liu. Pria itu memperbaiki kacamatanya dan mengangguk.
"Terimakasih yang mulia," ucapnya tersenyum lalu meneguk teh. Begitu juga Li Jihyun. Kedua orang itu tampak menikmati teh.
"Zhang Liu ada sesuatu yang ingin saya tanyakan," ujar Li Jihyun dengan wajah serius. Matanya menatap lurus Zhang Liu. Tiba tiba Li Jihyun teringat Zhi Shen. Pria yang baru saja ditemuinya itu sangat aneh. Dibilang manusia tubuhnya tembus pandang dan menghilang seperti hantu. Menilik sekarang berada di jaman ini bisa saja itu terjadi. Tapi ada satu hal yang mengganjal di benak Li Jihyun. Apa mungkin Zhi Shen mati dan gentayangan mengikutiku? Tapi kenapa dia tak bereinkarnasi sepertiku? pikir Li Jihyun.
Zhang Liu memiringkan wajah kebingungan. Cukup lama mereka terdiam. Li Jihyun terlihat memikirkan sesuatu. "Apa ada sesuatu yang menganggu anda yang mulia?" tebak Zhang Liu yang hampir diangguki Li Jihyun. Gadis itu buru buru menggelengkan kepala.
"Tidak. Ini bukan sesuatu yang penting. Aku hanya penasaran akan sesuatu," ucap Li Jihyun. Dia menarik napas. "Apakah kamu tau hantu?" tanya Li Jihyun membuat dahi Zhang Liu mengerut.
"Iya yang mulia. Mereka adalah arwah yang tak tenang selama hidup lalu berkeliaran setelah mati. Biasanya mereka suka menganggu orang yang memiliki hubungan dengan mereka. Satu satunya cara agar tidak diganggu adalah mengusir mereka dengan menggunakan pengusiran roh," jawab Zhang Liu. "Apakah anda diganggu oleh hantu?" tanya Zhang Liu penasaran. Dia memperhatikan ekspresi datar Li Jihyun. Tidak biasanya Li Jihyun mempertanyakan sesuatu diluar dari urusan istana.
Aku ingin bertanya lagi. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat, batin Li Jihyun. "Tidak. Aku hanya penasaran saja."
Zhang Liu mangut mangut. Meneguk lagi teh yang tersisa setengah. Apa sesuatu terjadi pada yang mulia selir agung? Aneh sekali yang mulia bertanya tentang hantu, batin Zhang Liu meneguk habis teh. Matanya melirik kamar yang dihuni Li Jihyun. Hanya diisi perabotan mewah dan beberapa dayang yang kini berjaga diluar pintu. Tak ada satu pun penjaga yang mengawal. Berbeda dengan keadaan diistana utama. Padahal posisi Li Jihyun bukan selir biasa melainkan selir agung.
Zhang Liu meletakkan gelas teh. Menuangkan isi teko ke dalam gelas hingga penuh. "Sepertinya tempat anda tidak dijaga oleh prajurit istana," ucap Zhang Liu setelah berdiam cukup lama.
Li Jihyun meletakkan gelas teh menatap Zhang Liu. "Aku juga tidak tau. Padahal aku sudah cukup lama menjadi selir agung," jawab Li Jihyun tersenyum miris. "Sepertinya yang mulia kaisar tidak menyayangiku lagi," ucap Li Jihyun mengembuskan napas kasar. Mendengar itu Zhang Liu langsung mendelik.
Brak!
Sontak Zhang Liu terperanjat kaget. Hampir saja pria berkacamata itu terjatuh dari kursinya. Sontak dia menoleh ke arah pintu. Tampak beberapa dayang tengah ribut dengan seseorang. Matanya menyipit memperhatikan seseorang yang terus berteriak diambang pintu. Wajahnya terlihat tak asing. Matanya terbeliak kaget saat melihat wajah orang itu lebih jelas.
Hai Rong, wanita itu tengah ribut dengan dayang yang berusaha menahan langkahnya memasuki kamar Li Jihyun. "Nona tenanglah! Anda tidak boleh memaksa masuk. Yang mulia selir agung sedang kedatangan tamu," ucap salah satu dayang yang tak lain adalah Lien. Mereka berusaha memegangi Hai Rong yang berontak keras.
"Lepaskan aku! DASAR MANUSIA HINA! BERANINYA KALIAN MENYENTUHKU!" teriaknya mengundang perhatian dayang dari selir lain. Mereka bersembunyi dibalik pilar paviliun. Fen yang berada ditengah keributan hanya terdiam. Sedikit pun tak berani bergerak dari tempatnya. Gadis itu menyaksikan majikannya terus menggila didepan pintu Li Jihyun.
"Saya mohon nona hentikan!" pinta Lien berusaha menarik paksa Hai Rong. Sebagai bayangan kaisar tubuh dayang yang dikirim Long Jian terlatih melakukan pekerjaan berat. Termasuk menyeret paksa Hai Rong yang terus berontak. Kekuatannya kalah dari para dayang yang memeganginya.
Li Jihyun yang sejak tadi menonton tersenyum lebar. Menatap Hai Rong dengan senyuman mengejek. Hai Rong yang melihat wajah Li Jihyun semakin gusar. Dia berteriak kalap sambil tangannya meraih ke arah Li Jihyun duduk dengan santai. Dia meneguk teh digelas.
"Wanita ****** Semua ini gara gara selir rendahan itu! Aku ... aku takkan tinggal diam," ucapnya dengan napas menderu cepat. Gelas yang tersisa sedikit teh itu diletakkan di meja. Ekspresi wajah Li Jihyun tampak menggelap.
Zhang Liu yang berada didekatnya menelan ludah. "Yang mulia sebaiknya anda tidak usah dengarkan perkataannya. Dia pasti menjadi gila sejak posisinya diturunkan."
Li Jihyun bangkit dari kursi mengabaikan perkataan Zhang Liu. "Tuan Zhang Liu sebaiknya anda kembali sekarang," usir Li Jihyun dingin.
Zhang Liu langsung gugup. Jakunnya bergerak naik turun. Dia menatap sekilas Hai Rong yang masih mengamuk lalu kembali menatap Li Jihyun yang masih berdiri. Apa yang mulia selir agung akan membunuhnya lagi? Tapi jika itu terjadi bagaimana nasib yang mulia selir agung? Dia pasti dijatuhi hukuman berat, batin Zhang Liu bimbang. Apa sebaiknya aku disini? batinnya lagi.
"Pergilah Zhang Liu. Apa kamu tidak mendengarku?" Zhang Liu tersentak. Ragu dia bangkit dari duduk dan membungkuk hormat.
"Saya permisi dulu yang mulia," pamitnya dan berjalan melewati kerumunan dayang yang berusaha menghentikan amukan Hai Rong. Wanita itu menatap tajam Zhang Liu.
"Aku pasti melaporkan semuanya pada yang mulia kaisar. Kalian berdua tidak akan selamat," pekiknya menunjuk ke arah Zhang Liu tapi pria itu terus berjalan. Mengabaikan teriakan Hai Rong yang terdengar semakin jauh.
Justru aku mengkhawatirkan nasib Hai Rong, batinnya menghela napas.