Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 11


“Te-Terimakasih selir Li sudah menolong saya. Saya pasti tidak akan melupakan jasa anda,” ucap dayang itu membungkuk hormat. Yona sedikit bergidik melirik Li Jihyun yang tersenyum.


Li Jihyun menepuk pundak dayang itu lembut. Membuat kepala dayang itu mendongak. Mata mereka saling bertatapan. Senyumannya masih tersungging dibibir. “Siapa namamu?” tanya Li Jihyun ramah. Dayang itu menundukkan pandangan dan menelan ludah susah payah.


“Na-Nama saya Fen,” sahutnya dengan kepala tertunduk.


“Nama yang bagus,” puji Li Jihyun melepaskan sentuhannya dari pundak Fen. Wajah Fen bersemu kemerahan saking malu.


“Te-Terimakasih selir Li.”


“Tidak perlu sungkan begitu. Angkat kepalamu,” ujar Li Jihyun membuat Fen mengangkat kepalanya. Kali ini mata mereka sekali lagi bertatapan. “Kembalilah ke tempatmu. Pasti saat ini majikanmu sedang menunggumu,” ujar Li Jihyun melirik ke arah tembok. Beberapa dayang yang mengintip dari balik tembok berbalik seolah menghindari tatapan Li Jihyun. Mereka saling tatap dengan wajah memucat. Gadis itu kembali menatap ke arah Fen yang masih berdiri di depannya.


“Sa-Saya permisi dulu,” pamit Fen yang diangguki oleh Li Jihyun. Matanya memperhatikan Fen pergi hingga punggungnya tidak terlihat lagi. Li Jihyun berbalik dan tersenyum puas. Satu rencananya berjalan lancar. Kali ini dia tinggal menunggu sambil mengamati hasilnya.


Apa yang direncanakan nona Li Jihyun sampai sesenang itu? Baru kali ini kulihat nona Li Jihyun memperlihatkan ekspresinya, batin Yona memperhatikan punggung Li Jihyun. Mereka terus berjalan menuju kamar Li Jihyun. Langit pun sudah berubah menjadi jingga. Menandakan sebentar lagi malam akan datang.


“Yona persiapan besok kuharap tidak ada kendala,” ujar Li Jihyun yang diangguki Yona sebelum masuk ke kamar.


“Baik nona,” sahut Yona yang membuat Li Jihyun tersenyum puas. Dia membuka pintu dan memasuki kamar. “Selamat malam nona Li Jihyun,” ucap Yona sebelum pintu kamar tertutup rapat. Yona menghela napas berat. Matanya menatap pintu yang sudah lusuh didepannya. Nona pasti sedang lelah. Seharian ini menghadapi berbagai masalah. Saya harap nona selalu dilimpahi kebahagiaan, doa Yona dalam hati dengan tulus. Sekali lagi menghela napas dan berbalik pergi.



Hari yang ditunggu Li Jihyun sudah tiba. Sejak pagi gadis itu sudah didandani oleh dayang yang dikirim istana. Hanfu yang dipakainya terbuat dari sutra dilengkapi perhiasan mewah membuatnya semakin cantik. Semua pejabat yang diundang dari kedua kubu faksi pun turut hadir. Tak ketinggalan selir yang ada di paviliun selir. Makanan lezat terhidang dalam perjamuan. Meski kedua faksi yang berbeda kubu itu saling lempar tatapan sinis. Namun tidak mengurangi suasana meriah dari pesta peresmian posisi selir agung.


Long Jian sudah hadir sejak awal dan duduk di singasana. Matanya menyapu seluruh aula sambil menopang dagu. “Semuanya sudah hadir yang mulia,” ucap Zhang Liu membuat Long Jian tersenyum tipis.


“Dimana gadis itu?”


“Dia sedang bersiap yang mulia. Mungkin sebentar lagi akan tiba disini,” ujar Zhang Liu yang diangguki Long Jian.


“Dia sudah menemukan sekutu baru,” gumam Long Jian memperhatikan Li Jihyun sejak memasuki aula. Zhang Liu mengikuti arah tatapan Long Jian. Dia tersenyum kagum melihat keberhasilan Li Jihyun menduduki posisi tertinggi. Li Jihyun yang merasa diperhatikan mendongak membuatnya tanpa sengaja bertatapan dengan kedua pria di atas podium.


Long Jian menaikkan sebelah sudut bibirnya membuat Li Jihyun memalingkan wajah. Li Jihyun melanjutkan perjalanannya menuju podium tempat Long Jian duduk. Sebagai selir agung dia akan terus duduk disamping kaisar. Meski tidak suka sekalipun tapi dia harus mengikuti aturan yang ditetapkan.


Sementara Zhang Liu tanpa disadarinya rona kemerahan muncul di wajahnya. Dia bahkan sampai menundukkan pandangan. Detak jantungnya berpacu cepat. Astaga! Kenapa jantungku berdetak cepat? Apa aku sakit? Batinnya menarik napas. Aroma mawar tercium saat gadis itu duduk disebelah Long Jian.


Zhang Liu yang berdiri dibelakang Long Jian gelagapan. Pria berkacamata itu merasakan degup jantungnya kian cepat. Dia sedikit terkejut karena tidak menyadari keberadaan Li Jihyun yang sudah duduk didepannya.


“Bagaimana rasanya duduk diposisi tertinggi?” tanya Long Jian dengan nada mengejek. Matanya melirik Li Jihyun yang tersenyum.


“Apakah sebelumnya yang mulia tidak pernah duduk disingasana?” tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya dan menatapnya sambil tersenyum. Tamu yang melihat pun berbisik bisik yang menimbulkan kesalahpahaman. Jika dilihat dari kejauhan hubungan kedua pasangan itu tampak harmonis. Mereka tidak bisa mendengar suara obrolan Long Jian dan Li Jihyun karena letaknya yang jauh dari para tamu. Wajah Long Jian berubah masam mendengarnya. “Yang mulia sebaiknya anda tersenyum lebar. Saya tidak mau ada gosip buruk tentang anda,” ujar Li Jihyun sambil memegang tangan Long Jian diatas pegangan singasana.


Long Jian ingin menepis tangan Li Jihyun. Tapi melihat tamu yang datang dan terus berbisik membuatnya urung melakukannya. Padahal biasanya dia tak peduli meski banyak gosip buruk yang terdengar dari kalangan bangsawan. Cuma karena perkataan gadis ini dia tak bisa melakukannya seperti biasa. Dia merasa hari ini sangat aneh. Cih! Lagi dan lagi aku terperangkap dalam tipu muslihatnya, rutuk Long Jian dalam hati.


Li Jihyun mengalihkan pandangannya pada tamu undangan. Senyuman dibibirnya seolah tak luntur. Zhang Liu yang melihat senyumannya pun langsung terpana.


“Yang mulia bagaimana jika acaranya kita mulai dengan cepat?” usul Li Jihyun dengan mata berbinar.


“Sepertinya kamu tidak sabar mendapatkan posisi ini,” ledek Long Jian menyeringai lebar. Gadis itu tertawa pelan.


“Tentu saja. Cuma orang bodoh yang tidak paham betapa mudahnya menjadikan posisi tertinggi sebagai taruhan,” sindir Li Jihyun tersenyum mengejek membuat Long Jian berang. Tapi gadis itu sama sekali tidak takut maupun peduli.


Sementara Zhang Liu hanya bisa menahan tawa mendengarnya. Baru pertama kali dia melihat Long Jian kalah telak. Pria tempramental tinggi itu bahkan terdiam seribu bahasa dihadapan Li Jihyun.


“Cih! Kita lihat saja nanti,” ancam Long Jian menahan amarah yang membara. Dia sudah berdiri lebih dulu. Tangannya terulur ke arah Zhang Liu.


Zhang Liu yang sejak tadi bersiap memberikan gulungan kertas. Hari ini adalah pengumuman sekaligus peresmian posisi selir agung pada Li Jihyun. Gadis itu akan menjadi tonggak kekaisaran. Selain memimpin para selir, dia juga akan ikut berkiprah dalam kancah politik.