Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 63


Langkah Long Jian semakin dipercepat begitu melihat pintu kamar Li Jihyun dari kejauhan. Kasim Bo serta dayang dibelakang kesulitan mengikuti langkah Long Jian. Langkah Long Jian terhenti tepat didepan pintu kamar Li Jihyun. Begitu juga kasim Bo dan dayang yang mengikuti dibelakangnya.


Napas mereka terengah engah. Peluh pun bercucuran membasahi dahi. Malam itu langit semakin gelap. Arakan awan hitam pekat bergerak ditiup mengikuti arah angin. Kepala Long Jian celingak celinguk. Tak ada siapapun disana. Sepi hanya desiran angin yang terdengar. Tak ada pengawal yang berjaga maupun dayang. Padahal dia sudah mengirim dayang dari istananya. Walau dayang itu mata mata yang dikirimnya.


"Dimana dayang selir agung? Lalu kemana perginya pengawal yang harusnya menjaga selir agung?" tanya Long Jian menatap tajam ke arah kasim agung juga bawahan yang mengikutinya. Kepala mereka tertunduk dalam. Melihat tak ada yang bersuara membuat Long Jian menggeram. "Apa selama ini tak ada pengawal yang menjaga selir agung?" tanya Long Jian lagi.


"Maafkan saya jika lancang yang mulia. Tapi memang selama ini tak ada pengawal yang anda tugaskan untuk menjaga yang mulia selir agung," jawab kasim Bo membuat wajah Long Jian merah padam. Pria itu maju selangkah. Firasat kasim Bo buruk. Dia hendak mundur tapi lututnya tidak bisa digerakkan. Justru gemetaran.


"Apa tadi katamu?" tanya pria itu dengan intonasi tinggi. Semua orang yang mendengar itu langsung disergap ketakutan. Kepala mereka semakin menunduk.


Kasim Bo gemetaran ketakutan. Jakunnya naik turun. Dia menelan ludah susah payah. Mendadak lidahnya kelu menyulitkannya menjawab pertanyaan Long Jian. Keringat dingin terus mengucur deras.


Buk!


Satu pukulan telak mengenai kepala kasim Bo. Pria paruh baya itu terhuyung jatuh. Hingga hampir membentur lantai. Pria paruh baya itu berusaha berdiri dan kembali dalam posisi membungkuk.


Buk!


Satu pukulan lagi mengenai wajah kasim Bo. Kali ini terjatuh menghantam lantai. Kepalanya yang terbentuk lantai mengeluarkan darah. Semua orang yang menyaksikan mengalihkan pandangan. Mereka tidak bisa membantu kasim Bo atau nyawa mereka akan melayang.


Kasim Bo tidak bisa berdiri lagi. Pandangannya berkunang kunang dengan rasa nyeri dikepala. Berulang kali dia mengerjapkan matanya. Dia menatap Long Jian yang masih berdiri didepannya. "Kasim Bo sekali lagi kamu mengkritikku. Jangan salahkan nyawamu melayang," ancam Long Jian menatap dingin. Dengan susah payah kasim Bo mengangguk.


Pandangan Long Jian beralih menatap ke arah dayang dan pengawal yang mengikutinya. Mereka tersentak kaget merasakan tatapan dingin Long Jian. "Katakan kedatanganku pada selir agung," titahnya yang diangguki patuh serempak dayang dan pengawal.


Ragu dayang itu mendekati pintu. Kepala dayang itu terus tertunduk melewati Long Jian yang berdiri didepan kasim Bo. Kasim Bo masih terduduk. Dia kesulitan berdiri. Kakinya terasa lemas ditambah pandangannya berkunang kunang. Tapi pria itu hanya memandanginya tanpa sedikit pun berniat menolong.


Dayang itu menarik napas. "Yang mulia kaisar memasuki ruangan," teriaknya lantang. Long Jian membalikkan badan mengabaikan kasim Bo dibelakangnya. Dia berjalan lebih dekat ke arah pintu kamar Li Jihyun. Dayang yang didepan pintu segera menepi. Dia berdiri dengan mantap sanbil menunggu pintu kamar Li Jihyun dibuka.


Satu detik, dua detik, tiga detik hingga kelima menit. Pintu kamar itu tak terbuka sedikit pun. Long Jian mulai jengkel. Dayang dan pengawal dibelakangnya saling lirik satu sama lain. Sementara dayang didekat Long Jian mulai tidak tenang. Firasatnya buruk.


"Teriak lebih lantang lagi," bentak Long Jian membuat dayang itu ketakutan. Kepalanya kian tertunduk semakin dalam. Dia mengembuskan napas kasar. Menatap geram pintu didepannya.


Long Jian disebelahnya mendelik tajam. "Beraninya kamu berteriak didekatku?!" wajah dayang itu berubah pucat. Pupil matanya bergetar dan lidahnya menjadi kelu sekadar bicara.


Wajah Long Jian terlihat sangar. Wajah pria itu memerah saking marah. Pertama dia kesal karena Li Jihyun tak membukakan pintu, kedua kasim Bo berani mengkritiknya didepan khalayak ramai dan ketiga dayang didekatnya berteriak didekat telinganya. Membuat Long Jian semakin marah.


Dayang itu langsung bersimpuh dengan ketakutan. "Ma-Maafkan saya yang mulia. Saya yang salah sudah bersikap tidak sopan didepan anda. Sa-Saya mohon maafkan saya," pintanya dengan suara bergetar.


Kepala Long Jian beralih menatap salah satu pengawal yang berdiri didepan. Dia berjalan mendekati pengawal itu membuat pengawal itu ketakutan. Tak dipungkiri wajahnya juga ikut memucat. Langkah Long Jian berhenti tepat didepannya. Dia menarik pedang dari sarung pengawal itu. Membuat pengawal itu terkejut.


Bilah pedang yang berkilat dan tajam itu memantulkan bayangan Long Jian. Dia tersenyum membuat semua orang dilanda ketakutan. Matanya mengarah ke dayang itu.


"Ya-Yang mulia tolong ampuni saya. Sa-Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi." Dia berjalan mendekati dayang itu. Mata dayang itu terbelalak melihat pedang yang dibawa Long Jian semakin mendekatinya. Dia berhenti tepat didepan dayang itu."Ya-Yang mulia saya mohon," pintanya lagi dengan suara memelas. Berharap belas kasih dari pria yang dipanggil kaisar oleh semua orang.


Jleb!


Tanpa banyak bicara pria itu menusuk punggung dayang itu. Tepat menembus jantungnya. Mata dayang itu semakin terbelalak merasa sakit. Darah mengalir deras keluar dari tubuhnya. Pandangan dayang itu nanar menatap darah yang membanjiri lantai tempatnya bersimpuh. Kepalanya terangkat menatap wajah kepuasan Long Jian. Dia bahkan tersenyum senang melihat raut kesakitan dayang itu.


"Ya-Yang mulia ..." panggil dayang itu terbata. Long Jian menarik pedang itu kasar membuat tubuh dayang itu terjatuh diatas genangan darahnya sendiri. Matanya masih terbuka dengan pandangan redup. Sementara mereka yang mengikuti Long Jian semakin ketakutan setelah melihat kematian salah satu rekannya.


Sebelah sudut bibirnya terangkat. Pedang yang tajam itu mulai mencabik cabik tubuh dayang itu yang tak berdaya. "To-Tolong," pintanya disela sakit. Tapi Long Jian tidak peduli dan terus melakukannya sampai tubuh dayang itu tercacah. Senyuman semakin lebar dibibirnya.


Pakaian mewah yang dipakainya kotor terkena darah. Dia tersenyum puas mengamati tubuh dayang itu yang berceceran didepan pintu Li Jihyun. Mereka yang menyaksikan kematian rekannya menahan mual. Mereka takut bersuara atau bisa berurusan dengan malaikat maut.


"Kalian!" panggil Long Jian menyentakkan mereka dari lamunan. "Bawa kasim Bo ke penjara lalu tubuh dayang ini ..."


Kriet!


Pintu mendadak terbuka menjeda perkataan Long Jian. Pria itu menatap gadis yang berdiri dibalik pintu. Cuma kepalanya yang menyembul keluar. "Ya-Yang mulia?" panggil Li Jihyun dengan wajah bertanya tanya. Pertama dia sedikit terkejut melihat potongan mayat tak beraturan didepan pintu. Kedua kasim Bo yang pingsan dan ketiga semua perbuatan ini berhubungan dengan Long Jian. Padahal dari yang dia dengar pria itu tengah proses penyembuhan. Dasar pria gila! Ingat Li Jihyun sekarang tugasmu membalaskan dendam akan dimulai, batin Li Jihyun.


"Tsk! Akhirnya kamu keluar juga," ucap Long Jian menatap sinis Li Jihyun.