
Jadi sekarang keadaannya sekarat? Baguslah. Semakin cepat dia mati semakin cepat pula aku duduk disingasana. Tapi kematiannya terlalu cepat. Aku tidak bisa menyaksikan dia kesakitan begitu lama, batin Li Jihyun. "Kita lihat saja nanti tuan Zhang. Kita tidak pernah tau nasib orang ke depannya," kata Li Jihyun bangkit dari duduk dan keluar dari ruangan itu.
Zhang Liu terpukau mendengar perkataan Li Jihyun. Jantungnya semakin berdebar cepat. Dia memegangi dada. "A-Aku rasa ini memang cinta," gumamnya lirih. "Yang mulia aku pasti akan mendapatkanmu suatu hari nanti," tekadnya menatap pintu yang tertutup.
...
Sepanjang jalan Lian tampak gelisah. Matanya terus melirik Li Jihyun yang berada didepan. "Lian kita ke kamar yang mulia kaisar dulu," titah Li Jihyun mengejutkan Lian. Gadis itu buru buru menganggukkan kepala.
"Baik yang mulia." Kedua orang itu berbelok ke kiri tempat jalur kamar kaisar. Sepanjang lorong hanya tampak dayang hilir mudik. Setiap berpapasan dayang itu kerap menundukkan kepala hormat. Melihat itu Li Jihyun tersenyum puas. Dengan langkah mantap terus melanjutkan perjalanan. Tak ada lagi tatapan mengejek maupun sinis yang didapatkannya.
Tak terasa mereka tiba di kamar kaisar. Ada dua orang prajurit yang berjaga disana. Sudah sehari semalam Long Jian masih belum sadarkan diri. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Zhang Liu, kasim Bo sedang berusaha mencari obatnya. Tapi masih belum kunjung ketemu. Padahal obat itu ada ditangan Li Jihyun sendiri.
"Kami memberi hormat pada yang mulia selir agung," sapa kedua prajurit itu serempak. Kepala mereka tertunduk hormat.
"Angkat kepala kalian!" titah Li Jihyun yang dipatuhi kedua prajurit itu. Kepala mereka terangkat dan bertatapan dengan Li Jihyun. Meski hanya sebentar kepala mereka kembali tertunduk. "Apakah ada orang didalam selain yang mulia?" tanya Li Jihyun yang diangguki oleh kedua prajurit itu.
"Didalam hanya ada kasim Bo yang mulia selir agung," jawab salah satu prajurit itu.
"Sekarang buka pintunya. Aku harus melihat kondisi yang mulia sekarang," ucap Li Jihyun yang diangguki patuh keduanya. Kedua prajurit itu menepi lalu menggeser pintu.
"Yang mulia selir agung memasuki kamar yang mulia kaisar," teriak kedua prajurit itu lantang. Li Jihyun dan Lian memasuki kamar kaisar. Dahi Lian langsung mengerut saat mencium aroma obat yang pekat. Hidungnya sampai berkedut.
Mereka terus berjalan hingga tiba didepan ranjang Long Jian. Pria itu masih terbaring lemah. Warna kulitnya pun tampak lebih pucat dari sebelumnya. Begitu juga deru napasnya yang semakin melambat. Dalam hati Li Jihyun bersorak kegirangan. Ternyata menyingkirkan Long Jian lebih mudah dari kecoa. Pria itu sekarang tidak berdaya lagi untuk mengganggunya. Tujuannya sudah didepan mata.
"Bagaimana keadaan yang mulia?" tanya Li Jihyun dengan raut sedih. Kasim Bo mengangkat wajahnya sekilas lalu kembali menunduk. Wajah yang kuyu dan pipi tirus memnbuat penampilan pria paruh baya itu tampak menyedihkan. Kantung matanya semakin hitam menebal. Pria itu sama sekali tidak beristirahat dengan tenang selama menjaga Long Jian.
Kasim Bo menarik napas. "Kondisi yang mulia semakin parah. Bahkan obat yang diberikan tabib pun tak berguna lagi," ucap kasim Bo sendu. Mendengar itu sekali lagi hati Li Jihyun bersorak. Balas dendam yang diinginkannya akhirnya tercapai. Jika semudah ini lebih baik dari dulu dilakukannya.
Tapi dia terlalu naif dan menganggap dirinya masih sehebat dulu. Namun sekarang berbeda. Dia tak mau terlalu bertele tele dalam menyelesaikan masalah. Setelah kaisar tiada dia berencana menyingkirkan orang terdekat kaisar. Walau itu tak mudah. Tugas pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan Hai Rong. Bagaimanapun wanita itu sudah berani mengkhianatinya.
"Apakah racunnya masih belum ketemu? Mungkin saja tabib bisa mengobatinya jika racunnya bisa ditemukan," usul Li Jihyun yang digelengkan kasim Bo. Rasanya dia sudah tak sanggup lagi merahasiakan keadaan Long Jian. Lagipula sudah banyak orang tau mengenai keadaan Long Jian. Jadi tak ada gunanya terus disembunyikan, begitulah pikir kasim Bo.
Tapi kasim Bo tidak terlalu cemas mengingat tugas itu diserahkan pada Zhang Liu. Jadi pasti pria itu lebih berpikir logis dan tidak termakan hasutan Li Jihyun. Tapi semua perkiraan itu salah. Justru Zhang Liu mengajak kerjasama untuk merombak politik diistana.
"Aku harap pelakunya segera ketemu. Bagaimanapun yang mulia adalah ayah dari kekaisaran. Dia harus tetap hidup."
Kasim Bo menatap tak berkedip. Rasanya sangat aneh jika musuh dari Long Jian mengatakan hal baik. Tapi dia segera menepis pikiran buruk di benak. "Terimakasih atas kebaikan anda."
"Ah ... matahari sudah hampir tenggelam. Sebentar lagi malam akan datang. Aku permisi dulu kasim Bo. Tolong jaga yang mulia sampai kondisi nya membaik," pamit Li Jihyun tersenyum yang diangguki kasim Bo.
"Tentu saja yang mulia."
Li Jihyun membalikkan badan dan keluar dari kamar kaisar. Sebentar lagi kamu akan mati Long Jian, batinnya sambil terus berjalan menuju kamar.
...
Brak!
Li Jihyun terperanjat kaget. Gadis itu segera bangun dari tidurnya. Dia duduk sambil matanya bergerak liar memeriksa sekitar. Kamar yang gelap membuatnya kesulitan melihat. Hanya cahaya temaram dari luar yang menyeruak masuk dari jendela yang terbuka lebar. Angin berembus kencang mengibarkan gorden. Dia duduk dalam waktu lama sambil memperhatikan sekitar. Sepertinya itu angin, batin Li Jihyun bernapas lega.
Dengan langkah hati hati turun dari kasur dan berjalan mendekati jendela. Tapi baru saja tangan gadis itu meraih gagang jendela. Dia segera berbalik dan menepis benda tajam berkilau yang tadi ke arahnya.
Trang!
Ada seseorang dikamarnya dan berniat membunuhnya. Matanya sekali lagi bergerak liar. Dia harus mencari orang itu dengan cepat sebelum nyawanya melayang. Apakah dia suruhan dari yang mulia kaisar? pikir Li Jihyun memasang kuda kuda.
Tangannya sudah mengepal erat. Mendadak sekelebat bayangan muncul didepannya. Gadis itu menepi sedikit dan hendak balas menyerang dengan meninjunya. Tapi bayangan itu secepat kilat berpindah membuat tinjunya mengenai udara kosong. Bahkan sampai membuat Li Jihyun tak berkedip. Bagaimana bisa dia secepat itu.? Dia seperti hantu, batinnya lagi. "Hei! Siapapun kamu cepat keluar! Jangan bersembunyi seperti pengecut!" teriak Li Jihyun bergema dikamar.
Tak lama suara tawa terdengar mengejutkan Li Jihyun. Bulu kuduknya sampai meremang. "Kenapa pucat begitu? Bukankah ini pertemuan lama yang paling kamu nantikan?" bisik bayangan itu didekat telinga Li Jihyun. Gadis itu buru buru menepisnya.