Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 37


"Yang kamu katakan benar. Aku tak bisa selamanya terus seperti ini," ujar Li Jihyun membuat kedua pria itu bernapas lega. "Yona aku pasti akan membalaskan dendammu. Darahmu akan kupastikan membanjiri kekaisaran," lanjut Li Jihyun meremas genangan darah. "Paman kita siapkan upacara pemakaman," pinta Li Jihyun yang diangguki Gong Jihon. "Paman juga tidak perlu merasa bersalah. Ini semua sudah takdir. Jadi berhentilah bersujud padaku."


Li Jihyun bangkit dari duduk. Dia meletakkan kepala Yona didekat tubuhnya dengan hati hati. Gong Jihon terdiam. Jauh dilubuk hatinya ada rasa bersalah yang teramat dalam. Tapi semua sudah terlambat tak ada gunanya menyesalinya sekarang. "Paman akan membantumu menduduki singasana," ucap Gong Jihon mantap. Dia sudah berdiri tegak dan menepuk pelan pundaknya.


Li Jihyun tersenyum miris. "Paman tidak perlu repot. Aku pasti bisa bertahan dengan baik disana dan merebut semuanya," ujarnya mengepalkan tangan erat. Matanya berkilat penuh amarah. Bayangan wajah Long Jian berputar dikepalanya. Aku pasti akan menghancurkanmu Long Jian! batinnya mengatupkan rahang. Suara gemelutuk gigi terdengar. Tak dipedulikan darah yang terus mengalir dari mulutnya.


...


Langit malam semakin pekat. Angin berembus kencang menerbangkan dedaunan didahan. Sesekali suara gemuruh terdengar. Gerakan Long Jian menulis terhenti. Kepalanya tertoleh ke luar jendela. Pepohonan didekat jendelanya bergoyang kuat. Dia mengembuskan napas kasar.


Tangannya bergerak pelan meraih pedang. Sebuah benda berkilat melesat cepat ke arahnya. Dengan cepat Long Jian menepisnya menjatuhkan benda ke lantai yang ternyata belati. Dia bangkit dari duduk dan berjalan mendekati jendela. Matanya bergerak liar memperhatikan pepohonan yang masih bergoyang. Tampak kilatan disalah satu dahan pohon yang tak jauh dari jendelanya.


Long Jian melompat dari bingkai jendela dan muncul ke dahan pohon. Seseorang berpakaian serba hitam itu terperanjat kaget. Dia tak menduga ketahuan oleh Long Jian. Belum sempat berpikir. Pedang ditangan Long Jian langsung menebas leher orang itu. Kepalanya terguling jatuh ke tanah bersamaan tubuh. Darah menciprat mengotori hanfunya.


Dia pun turun dari dahan pohon lalu bersiul. Dua orang berpakaian serba hitam muncul dibelakangnya. Keduanya bersimpuh hormat dengan pandangan tertunduk. "Bawa mayat ini ke hutan," titahnya yang diangguki kedua orang berpakaian serba hitam itu. Mereka menyeret mayat itu pergi menjauhi Long Jian.


Long Jian mengibaskan pedangnya dari bercak darah yang menempel. Suara gemuruh kembali terdengar. Kepala Long Jian menengadah ke langit. Tetesan hujan jatuh mengenai wajah tampannya. Dia menghela napas berat lalu melangkah kembali ke kamarnya.


...


"Long Jian apa kamu ingin menjadi kaisar?" tanya gadis itu penasaran. Matanya tak berhenti mengerjap menatap Long Jian. Usianya masih sembilan tahun tapi rasa ingin tahunya sangat besar. Sampai membuat Long Jian kecil kesulitan menjawab. Long Jian mengembuskan napas pelan. Kepalanya menengadah ke langit.


Cahaya matahari bersinar terik menyilaukan mata Long Jian. Matanya sedikit menyipit. "Entahlah. Aku ... juga tidak tau," jawabnya mengangkat tangan ke atas. Sinar matahari yang terik sedikit terhalangi. Embusan napas terdengar.


"Apa kamu tidak tertarik menjadi kaisar?" Pandangan Long Jian langsung beralih menatapnya. Lagi dan lagi Long Jian dibuat terkejut melihat perubahan pada wajah gadis itu. Dia sampai terjungkal ke belakang. "Kenapa Long Jian? Kenapa kamu menjauhiku? Apa salahku? Long Jian! LONG JIAN!"


Long Jian kecil menutup telinganya. Teriakannya terdengar melengking hingga memekkan telinga. Sampai suaranya terdengar berdengung. Matanya tak berkedip melihat gadis itu. Wajah gadis itu memucat dan darah terus keluar dari kepalanya. Bau anyir tercium pekat. Wajahnya hancur dengan banyak luka sayatan. Bahkan dipunggungnya pun ada banyak panah yang menancap. Membuat penampilan gadis kecil itu semakin menyeramkan.


Gadis itu berjalan mendekatinya dengan langkah tertatih. Setiap kali gadis itu berjalan ada banyak darah yang berceceran. Long Jian menelan ludah susah payah. "Long Jian jadilah kaisar. Jadilah kaisar untukku," ucapnya menyentuh wajah Long Jian. Tangannya sedingin es membuat Long Jian bergidik ngeri. "Kamu mendengarku, kan?" lanjutnya sambil mengelus pipinya yang seputih batu giok. Long Jian hendak beringsut mundur tapi tubuhnya susah digerakkan. Matanya melirik takut kuku gadis itu. Kukunya yang hitam dan panjang terasa tajam saat menyentuh kulit Long Jian. Dia menelan ludah susah payah.


Blar!


Suara petir membangunkan Long Jian dari tidur. Peluh membasahi sekujur tubuh. Napasnya menderu cepat dan jantung pun berdegup kencang. Dia mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajah. Sial! Ternyata mimpi buruk, rutuknya dalam hati dan kembali memejamkan mata. Sementara itu, tanpa disadarinya ada seseorang yang terus mengintainya. Orang itu bersembunyi di atas atap kamarnya. Dia mengintip dari celah atap yang sedikit bolong. Tapi tak ada yang menyadari keberadaannya meski itu bayangan kaisar sekalipun. Dia menyeringai lebar.


"Sepertinya ini akan menjadi pertunjukan menarik," gumamnya mengusap pipi. Matanya menatap bayangan kaisar yang tengah berjaga disegala tempat. Dia tertawa pelan lalu pergi menjauh.


Keesokan pagi istana kembali heboh. Bukan karena rumor kematian Yona tapi dua orang bayangan kaisar. Dan orang yang membunuhnya adalah Long Jian. Semua itu terjadi karena kelalaian mereka menjaga Long Jian dari musuh. Kasim Bo sampai memejamkan mata menyaksikan kepala kedua orang itu terguling ke lantai.


"Sial! Apa mereka tidak bisa bekerja dengan becus?" rutuk Zhang Liu bergumam. Dia menatap Long Jian yang menginjak kepala salah satu mayat. Darah mengotori lantai istana. Selain itu, tercium bau anyir yang menguar.


Kepala kasim Bo tertoleh ke arahnya. Dia bergeser mendekati Zhang Liu. "Hari ini suasana hati yang mulia sedang memburuk," bisik kasim Bo yang disahut helaan napas Zhang Liu. Dia berdecik pelan.


"Padahal ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," ujarnya menatap Long Jian yang tengah memainkan kepala mayat itu. Dia dengan santai menggunakan kakinya menggulingkan kepala mayat itu. Kasim Bo yang sejak tadi menyaksikan merinding takut.


"Zhang Liu," panggil Long Jian mengejutkan kedua pria yang berdiri tak jauh darinya. Mereka menatap serempak ke arah Long Jian. Tapi saat bertatapan dengan Long Jian kepala keduanya tertunduk. "Apakah ada kabar dari selirku?" tanya Long Jian mengibaskan pedangnya dari sisa darah. Dia mengusap pipi yang terkena darah.


"Yang mulia selir agung akan segera datang kemari," jawab Zhang Liu. Sebelah sudut bibir Long Jian terangkat.


"Panggil dia keruanganku nanti," titahnya yang diangguki Zhang Liu. Long Jian berbalik dan melangkah pergi. Kasim Bo segera mengikutinya dengan cepat. "Kita akan segera bertemu lagi, Li Jihyun," gumamnya terus berjalan.


...


"Yang mulia selir agung anda diperintahkan menghadap yang mulia kaisar," kepala Li Jihyun tertoleh. Zhang Liu yang tak sengaja bertatapan dengan Li Jihyun segera menundukkan pandangan.


"Ada apa yang mulia mencariku?" tanya Li Jihyun ketus. Matanya mendelik tajam.