Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 102


Orang itu langsung berpindah ke tempat lain. Matanya menatap tajam Li Jihyun. Kilatan kebencian dan amarah terpancar dari matanya. Suara giginya terdengar bergemulutuk.


"Gadis ******! Beraninya kamu ikut campur," maki orang itu mengacungkan pedang ke arah Li Jihyun. Sebelah sudut bibirnya terangkat.


"Bukan urusanmu," ujar Li Jihyun merangsek maju. Pedang ditangannya terayun mengincar lengan orang itu. Tapi gerakannya yang gesit membuat serangan itu luput. Li Jihyun berputar mengayunkan sekali lagi pedang ditangan.


Ting!


Kedua pedang itu saling beradu. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Alis mata Li Jihyun terangkat sebelah. "Jadi kamu ketua pasukan bayangan kaisar?" tanya Li Jihyun membuat matanya terbelalak.


Dia mendorong pedang Li Jihyun hingga gadis itu melompat mundur. Napasnya terengah. Cih! Dia sudah tau identitasku. Tapi bagaimana bisa? pikirnya menatap Li Jihyun.


Gadis itu terlihat tenang. "Hei selir tawanan!" panggilnya setengah berteriak. "Kamu pikir bisa mengalahkanku semudah itu? Aku berbeda dengan anak buah yang tak berguna itu," ujarnya yang disahut kekehan Li Jihyun.


"Mulutmu kurang ajar sekali. Beraninya kamu memakiku yang seorang selir agung. Ck! Sepertinya kamu bosan hidup," kata Li Jihyun dengan mata melotot. Namun orang itu tak takut dan tertawa.


"Selir agung? Ck! Berhentilah bermimpi gadis hina. Kamu tidak pantas berada di posisi itu," ujarnya melompat tinggi. Pedang diangkat setinggi kepala.


Li Jihyun mendongak dan mengangkat pedangnya. Pedang orang itu membentur pedang Li Jihyun. Suaranya terdengar ngilu ditelinga. Kaki Li Jihyun terperosok sedikit ke dalam tanah. "Menyerahlah selir tawanan," ujarnya dengan pongah. Terus menekan pedang itu sekuat tenaga.


Kaki Li Jihyun terus terperosok lebih dalam bahkan sebatas bawah lutut. Li Jihyun mengatupkan rahang.


Dia mengayunkan pedang membuat tubuh orang itu terlempar sedikit jauh. Bahunya naik turun dengan napas memburu cepat. Li Jihyun naik ke atas tanah yang lebih tinggi.


Dia mengayunkan pedang sambil terus berlari. Orang itu balas menyerang dan bertahan. Mereka saling jual beli serangan. Tak ada satu pun yang mengalah. Suara pedang yang lantang mengalahkan suara deru napas mereka yang terus menerus bertarung tanpa henti.


Li Jihyun memutar pedangnya dan tepat mengenai mata pedang orang itu. Dia langsung melemparnya setinggi kepala. Melihat pedangnya diambang udara bergegas orang itu hendak meraihnya.


Li Jihyun yang melihat celah langsung memanfaatkan kesempatan. Dia menyabet salah satu kaki orang itu hingga terputus. Orang itu terpekik kaget bahkan belum sempat meraih pedangnya. Dia langsung jatuh ambruk ke tanah. Darah mengucur deras dan berceceran di tanah.


Li Jihyun tersenyum puas. "Dasar gadis sialan! Aku .... ARGH!"


Satu tusukan itu tepat menikam perutnya. Dia menjerit kesakitan sambil terbatuk darah. Matanya nanar menatap Li Jihyun yang menyeringai. "Ah, aku penasaran. Bagaimana perasaan yang mulia kaisar saat tau satu per satu anak buahnya mati ditanganku?" tanya Li Jihyun melirik pria paruh baya didepannya.


"Paman Li gantung mayatnya di alun alun," titah Li Jihyun yang disahut helaan napas kepala sipir.


"Heh? Kamu pikir kaisar akan diam saja? Setelah dia pulang nanti kamu pasti akan langsung mati," ujarnya dengan penuh percaya diri. Li Jihyun mengorek telinganya dengan jemari kelingking. Matanya menatap remeh orang itu.


"Berisik! Mau mati aja pun banyak bicara," ujar Li Jihyun mencabut pedangnya dan menusuk tepat jantung orang itu. Dalam sekejap dia langsung mengembuskan napas terakhir.


"Paman tidak mau mengatakan apapun?" tanya Li Jihyun menatap kepala sipir yang masih berdiri ditempatnya.


"Memangnya apa yang harus kukatakan padamu? Nyawaku baru saja terancam cuma karena kita memiliki ikatan darah," ujarnya memasukkan pedang ditangan ke dalam sarung.


...


Tiga hari kemudian disiang hari yang cerah. Li Jihyun sedang duduk santai di teras paviliun. Dia terlihat menikmati secangkir teh hangat. "Yang mulia selir agung," panggil Zhang Liu dengan langkah tergopoh.


Kepala Li Jihyun tertoleh ke arahnya. Dia meletakkan cangkir teh diatas meja. Matanya melirik Ceng yang berdiri dibelakang. "Ceng tinggalkan kami," titah Li Jihyun yang diangguki cepat Ceng.


Dayang itu segera pergi sambil melirik Zhang Liu dan Li Jihyun. Mereka terlihat sangat dekat. Sepertinya gosip itu memang benar, batin Ceng sebelum pergi menjauh dari teras.


"Ada apa tuan Zhang?" tanya Li Jihyun penasaran. Zhang Liu menarik napas. Mengatur deru napasnya yang cepat. Peluh sebesar biji jagung membasahi dahi.


"Apa anda yang membunuh ..." jeda Zhang Liu melirik ke arah kiri dan kanan. Takut ada yang mendengarkan mereka bicara.


"Maksudmu orang itu? Aku sudah membunuhnya," ujar Li Jihyun enteng. Mata Zhang Liu terbelalak kaget. "Tapi sayang sekali aku tak berhasil mendapat informasi apapun darinya. Dia terlalu banyak mengoceh," lanjut Li Jihyun enteng meraih cangkir teh dan meneguknya.


Zhang Liu menelan ludah. "Anda serius?"


"Memang wajahku terlihat bercanda," ketus Li Jihyun yang digelengkan Zhang Liu. Dia meraup wajah kasar sambil mengembuskan napas kasar.


"Saya tidak menduga anda melakukannya sendirian."


Li Jihyun meneguk lagi tehnya hingga tak bersisa. Dia menghela napas pendek. Meletakkan cangkir teh di atas meja. "Lalu ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Li Jihyun menatapnya lekat.


Zhang Liu menghela napas lagi. Kali ini terdengar berat. "Saya mendapat surat dari kaisar bahwa dia akan segera pulang ke istana."


Li Jihyun mengepalkan tangan. "Jadi dia sudah pulang. Kapan dia akan sampai?"


"Kira kira besok yang mulia."


"Persiapkan semuanya besok. Kita harus menggulingkan Long Jian dari singasana."


"Baik yang mulia," sahut Zhang Liu membungkuk hormat.


"Kita akhirnya bisa bertemu Long Jian," gumam Li Jihyun menyugar rambutnya hingga tergerai berantakan.


....


Matahari bersinar terang membangunkan rakyat kekaisaran Qing Long. Semuanya beraktifitas seperti biasa. Sesuai perkiraan Zhang Liu semalam rombongan Long Jian pulang dari medan perang. Sepertinya pria berbaju zirah itu memenangkan pertempuran. Li Jihyun yang mengamati dari kejauhan tersenyum tipis. "Jangan biarkan mereka masuk," titah Li Jihyun yang diangguki prajurit.


Dia menatap gerombolan prajurit yang berjumlah sangat banyak. "Kalian bersiaplah. Kita akan langsung menyerangnya," ujarnya yang diangguki jenderal yang baru diangkat Li Jihyun.


Rombongan Long Jian berderap maju menuju istana. Rakyat yang melihat dari kejauhan langsung berlari pontang panting. Bersembunyi didalam rumah sambil mengintip dari kisi jendela. Long Jian dikenal tiran yang takkan segan membunuh siapapun yang dianggap sebagai penghalang.