
Bunga peony? batin Li Jihyun keheranan sambil menatap bunga peony ditangan dayang istana. Matanya tak berkedip memperhatikannya. Baginya pertama kali dia melihat bunga peony secara langsung. Kelopak bunga yang berukuran dua ruas jari dan warna semu kemerahan itu mempercantik bunganya. Selain itu bunga peony melambangkan tanda terima kasih atau kekaguman serta mewakili cinta dan romansa. Jadi sudah pasti tujuan Long Jian datang ke kamarnya murni mengucapkan terimakasih, itulah yang dipikirkan oleh Li Jihyun.
Senyuman tersungging dibibir Long Jian. Tampaknya gadis didepan matanya tertarik pada bunga peony yang dibawa dayang istana.
Long Jian berdehem pelan mengalihkan atensi Li Jihyun. Gadis itu menatap Long Jian datar. Tapi, Long Jian tak peduli dan malah balas menatap Li Jihyun. Keduanya saling melempar tatapan yang sulit diartikan. "Yang mulia dimana saya letakkan bunga ini?" tanya dayang itu dengan kepala masih tertunduk.
"Letakkan saja disini," ujar Long Jian mengetuk meja. Dayang itu mengangguk patuh dan menghampiri meja kedua petinggi istana itu. Dia meletakkan bunga peony dengan hati hati diatas meja. "Bagaimana menurutmu tentang bunga peony?" tanya Long Jian menyeruput teh dicangkir.
"Kenapa anda menanyakan itu pada saya?" tanya Li Jihyun ketus dengan menyilangkan tangan didada. Sikapnya yang tidak sopan mengejutkan dayang didekatnya. Dayang itu meliriknya tajam.
Merasa tatapan tajam dari dayang. Li Jihyun mendongakkan kepalanya. Membuat mata mereka saling bertemu. Buru buru dayang itu segera menundukkan kepala. "Apa dia dayang anda?" tanya Li Jihyun menunjuk ke arah dayang didekat mereka. Alis mata Long Jian naik sebelah. Matanya melirik dayang yang mendadak berkeringat dingin. Selir yang kini berhadapan dengan kaisar tampaknya bukan selir biasa. Selain tindakannya yang tidak sopan pada kaisar. Dia juga bersikap angkuh didepan kaisar. Benar benar diluar nalar, itulah dalam pikiran dayang itu.
"Kenapa kamu menanyakan begitu? Sudah jelas dia berpakaian dayang istana. Kenapa kamu menanyakannya?" tanya Long Jian dengan senyuman lebar. Membuat dayang itu bergidik ngeri. Pria yang dikenal tiran haus darah itu bersikap ramah dan hangat pada selirnya. Apalagi selir itu sedikit pun tidak menunjukkan adanya percikan cinta yang membara diantara mereka. Situasi yang janggal bagi orang asing. Dayang itu menelan ludah susah payah. Dia merasakan ada bahaya yang mengintainya kini.
Li Jihyun membuang napas kasar. Dia menyenderkan punggungnya disandaran kursi. "Tsk! Lalu? Apa urusannya denganku?" tanya Li Jihyun sambil berdecak. Long Jian tertawa pelan membuat dayang itu dilanda ketakutan. Lututnya kini bergetar. Li Jihyun melirik dayang didekat mereka. "Hei kamu!" tegurnya dengan suara lantang. Tangannya masih menyilang diatas dada. Sedikit pun tidak menunjukkan keramahan pada wajahnya.
"I-Iya yang mulia selir agung," sahut dayang itu dengan gemetaran ketakutan.
"Keluar!" usir Li Jihyun mengayunkan tangannya di udara. Dayang itu dengan cepat menganggukkan kepala dan berbalik pergi.
"Sa-Saya permisi dulu," pamitnya dengan tergagap sebelum meninggalkan kamar Li Jihyun. Sekali lagi gadis itu berdecak.
"Seharusnya anda tau makna dari bunga peony. Kenapa anda harus menanyakan itu pada saya?" protes Li Jihyun membuat alis mata Long Jian terangkat. Senyuman tipis mengulas dibibirnya. Sangat tipis sampai Li Jihyun tidak menyadarinya.
"Justru itulah jawaban dari pertanyaanmu sebelumnya," ujar Long Jian membuat dahi Li Jihyun berkenyit. Perkataan Long Jian yang berputar putar membuat Li Jihyun kesal bukan main. Dia mengembuskan napas kasar.
"Jika tidak ada lagi yang anda bicarakan. Sebaiknya anda ..." ucapan Li Jihyun tiba tiba terhenti. Kepalanya mendadak nyeri luar biasa. Pandangannya pun berkunang kunang. Dia mengerjapkan mata lalu memijat pelipis.
Senyuman Long Jian melebar. Dia memiringkan wajah melihat Li Jihyun yang limbung. "Obatnya bereaksi lebih cepat dari yang kuduga," gumamnya sumringah memperhatikan Li Jihyun yang menatapnya sayu.
Long Jian menghela napas pelan. Dia meneguk sisa teh yang ada dicangkir sambil mengabaikan kilatan kebencian dari Li Jihyun.
Pandangan Li Jihyun semakin lama memburam. Dia menggigit bibir bawah saking kesal. Bagaimana bisa pembunuh bayaran nomor satu di abad 21 semudah itu lengah? itulah satu pertanyaan yang muncul dibenak Li Jihyun. Gadis itu berusaha mati matian mempertahankan kesadarannya. Tapi seberapa kuat usahanya, obat itu bekerja lebih cepat dan akurat dari yang dia kira. Kini matanya pun terasa berat. Penglihatannya pun semakin pudar hingga menggelap. Dia tertidur pulas hingga kepalanya tidak disadari terkulai membentur meja.
Matanya memperhatikan Li Jihyun yang secara perlahan terkulai lemas lalu pingsan. Dia mencolek lengan Li Jihyun memastikan obatnya bekerja dengan baik.
"Nah, sekarang waktunya pertunjukan menarik," ujarnya menyeringai lebar. Long Jian mengenggam erat batang bunga peony hingga patah. Dia tersenyum sambil menatap Li Jihyun. Bunga yang sudah patah itu dibuang ke sembarang arah.
......................
"Ugh!" lenguh Li Jihyun perlahan membuka kelopak matanya. Long Jian yang sejak tadi memperhatikan Li Jihyun dari seberang tersenyum senang. Begitu mata Li Jihyun terbuka dia kaget bukan kepalang.
Tangan dan kakinya diikat dengan tali di setiap sudut ranjang. Matanya membulat saking terkejut. Gadis itu berontak dengan sekuat tenaga. "LEPASKAN AKU BRENGSEK!" maki Li Jihyun menyadari ada yang tak beres padanya. Dia terus bergerak kesana kemari berusaha meloloskan diri. Hingga menimbulkan suara decitan dari ranjang miliknya.
Long Jian yang duduk di seberang ranjang Li Jihyun bangkit. Suara derap langkah kaki yang mendekat membuat gerakan Li Jihyun terhenti. Napasnya menderu cepat. Matanya nyalang memperhatikan sosok yang mendekati tepi ranjangnya. "BANGSAT! LEPASKAN AKU!" makinya lagi dengan mata melotot.
"Heh? Melepaskanmu? Untuk apa?" tanya Long Jian menaik turunkan alis matanya. Li Jihyun mencebikkan bibirnya. Matanya masih memperhatikan Li Jihyun yang menggeram marah. Ekspresi gadis itu terlihat tidak menunjukkan kepanikan maupun ketakutan. Justru kemarahan yang siap menyembur siapapun. Melihat itu Long Jian semakin tertarik.
Dia beringsut mendekati Li Jihyun. Gadis itu dengan cepat memalingkan wajah. Dia tak sudi berdekatan dengan manusia paling dibencinya. Tapi Long Jian tidak marah. Dia meraih dagu Long Jian dan mengenggamnya dengan erat. Dengan cepat menarik dagu Li Jihyun tepat menghadap wajahnya. Dia menyeringai saat mereka bertatapan.
Tanpa terduga Li Jihyun meludah tepat mengenai wajah Long Jian. Pria itu dengan marah melepaskan kasar cengkramannya. Mengusap air liur yang membasahi wajah tampannya. Li Jihyun tertawa terbahak bahak. Meski rahangnya terasa sakit akibat bekas cengkraman Long Jian yang terlalu kuat.
"Kamu akan menyesal sayang," ancam Long Jian dengan mata berkilat kemarahan.
"Kamu pikir aku takut? Cuih! Jangan mimpi," balas Li Jihyun tak mau kalah.
"Baiklah. Jika itu maumu. Akan kubuat kamu mengingat hukuman yang kuberikan seumur hidupmu," kata Long Jian memiringkan wajah.