
Zhang Liu menghela napas. "Saya mengerti perasaan anda," ujar Zhang Liu prihatin.
"Jadi bagaimana dengan daftar nama yang kuminta. Kita tidak bisa terus menerus gagal." Zhang Liu mengeluarkan gulungan kertas dari dalam saku hanfunya.
"Anda bisa membacanya yang mulia," ujar Zhang Liu menyodorkan gulungan kertas ditangannya pada Li Jihyun. Li Jihyun mengambilnya lalu dibuka. Dia membaca deretan kalimat yang tertulis. Senyuman tersungging dibibir.
"Bagus. Kita harus segera menyusun rencana berikutnya," ujar Li Jihyun menggulung kertas. Dia tampak memikirkan sesuatu.
Kriet!
Atensi Zhang Liu beralih ke arah pintu. Muncul Lian membawa nampan berisi dua cangkir teh dan dua piring kecil kesemek kering. Dayang itu berjalan anggun mendekati meja mereka. Dengan cekatan menghidangkan teh dan kesemek kering di atas meja. "Silakan dinikmati yang mulia dan tuan perdana menteri," ujar Lian sopan. Pandangannya tertunduk.
Zhang Liu menganggukkan kepala. Lian pamit terlebih dulu kemudian meninggalkan kamar. "Jadi apa rencana anda yang mulia?" tanya Zhang Liu penasaran.
"Kita harus mengundang mereka ke istana. Bukankah aku harus membangun relasi dengan mereka?" ujar Li Jihyun mengambil cangkir teh. Meniup kepulan asap lalu menyesapnya. Zhang Liu mangut mangut.
Baru kali ini aku bekerjasama dengan yang mulia selir agung, batin Zhang Liu menatapnya kagum. "Tentu saja yang mulia. Itu politik dasar dalam membangun kekuasaan," ujar Zhang Liu.
"Kira kira kapan perang itu akan selesai?" tanya Li Jihyun yang digelengkan Zhang Liu.
"Saya tidak tau pasti yang mulia. Tapi biasanya perang memakan waktu cukup lama. Bisa sebulan atau dua bulan. Tergantung kekuatan musuh yang dihadapi," terang Zhang Liu.
"Berarti waktu kita terbatas," gumam Li Jihyun kecewa. Dia menghela napas berat. Meneguk sedikit teh. "Minumlah teh ini Zhang Liu. Aku sengaja menghidangkannya untukmu," tawar Li Jihyun menyodorkan cangkir teh.
"Terimakasih atas kemurahan hati yang mulia," ujar Zhang Liu sopan. Dia mengambil cangkir teh lantas meneguknya sedikit. Begitu cairan teh mengalir di mulutnya. Matanya berbinar. Rasa teh yang nikmat membuatnya tanpa sadar tersenyum. Dia meneguknya lagi sampai habis tak bersisa.
Li Jihyun tersenyum tipis. Meletakkan cangkir teh dan mengambil kesemek kering. "Bagaimana dengan kesemek kering ini? Apa kamu tidak mau?" tawar Li Jihyun memberikan kesemek kering pada Zhang Liu.
"Te-Terimakasih yang mulia," ucap Zhang Liu menerima kesemek kering yang diberikan Li Jihyun. Pria itu memakan kesemek kering itu. Tapi baru saja lidahnya menyentuh kesemek itu tiba tiba dahinya berkenyit. Dia menatap keheranan Li Jihyun yang terlihat memakannya dengan lahap. Dengan susah payah Zhang Liu menelannya.
Pria itu sampai menggeliat saking tidak enak. Lidahnya terasa pahit. "Yang mulia saya permisi dulu," pamitnya bangkit dari kursi dengan cepat. Bahkan belum sempat Li Jihyun membuka mulut, Zhang Liu sudah pergi terlebih dulu. Meninggalkannya dengan langkah tergesa. Li Jihyun yang sejak tadi memperhatikan tersenyum tipis. Dia mengambil kesemek lagi dan mengunyahnya.
"Lian," panggilnya membuat dayang yang berada didepan pintu segera masuk.
"Iya yang mulia. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lian sopan. Kepalanya tertunduk.
"Bawakan aku racun paling kuat," perintah Li Jihyun mengejutkan Lian. Namun dayang itu mengangguk.
"Baik yang mulia," jawabnya patuh. Dia segera pamit dan pergi keluar menemui tabib istana. Li Jihyun mengembuskan napas kasar. Matanya memperhatikan pemandangan diluar jendela.
...
Suara pedang beradu terdengar riuh. Diiringi teriakan kesakitan prajurit yang satu per satu tumbang. Sebagian ada yang terluka parah dan meninggal dunia. Tumpukan mayat berserakan di tanah yang berlumuran darah. Burung gagak pun berkoak sambil turun memakan mayat.
"SERANG! JANGAN ADA YANG MUNDUR!" teriak prajurit lawan yang berada diseberang pasukan Long Jian. Pria berzirah perak itu menyeringai. Pedang ditangannya sudah bersiap menyabet siapapun yang mendekat. Dia berada di pasukan depan. Jumlah prajurit lawwan berkurang sedikit. Berbanding terbalik dengan prajurit Long Jian.
Meski sebagian prajurit Long Jian masih terluka parah. "Kalian juga jangan mau kalah. Kita harus menyerang mereka," ujar Long Jian. "Jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan kita," imbuhnya dengan penuh semangat.
Prajurit Long Jian saling lirik. "Benar yang dikatakan yang mulia kaisar. Kita pasti menang," ujar salah satunya penuh percaya diri.
"Iya kita menang jumlah. Jadi tak mungkin kalah," timpal temannya yang diangguki setuju.
Suara derap kuda dan teriakan prajurit lawan mengalihkan atensi mereka. Pasukan lawan berlarian ke arah mereka. Suara teriakannya terdengar lantang. "Siapkan pedang kalian," titah Long Jian yang diangguki patuh prajurit itu. Pedang ditangan itu pun dicondongkan ke depan. "SERANG!" teriak Long Jian begitu pasukan lawan mendekat.
...
"Yang mulia ini racun yang anda minta," kata Lian menyerahkan botol bening berisi cairan berwarna keunguan.
Li Jihyun menggoyangkan botol sambil memperhatikan isinya. Dia tersenyum lebar. Tangannya dengan cekatan membuka tutup botol dan langsung meneguknya tandas. Lian yang menyaksikan terkejut. Dia hendak mencegah tapi terlambat. Cairan itu sudah ditelan Li Jihyun hingga tak bersisa.
Begitu cairan itu meresap ke dalam tubuhnya. Jantung Li Jihyun berdetak kencang. Rasa sakit dan terbakar menyatu dalam tubuhnya. Dia terjatuh dari kursi. Tangannya erat mencengkram dadanya. Napasnya pun terengah engah. Keringat dingin mengucur deras.
"Yang mulia anda baik baik saja?" tanya Lian khawatir. Dayang itu hendak mendekati Li Jihyun. Tapi gadis itu mengangkat tangannya membuat gerakan Lian terhenti.
Li Jihyun mengatur deru napasnya. Jantungnya masih terasa tercabik cabik sampai menyulitkan bernapas. Tenang Li Jihyun, bujuknya dalam hati. Dia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Aku harus bisa mengendalikan racun ini. Kalau tidak aku pasti mati, batinnya.
Detak jantungnya berangsur angsur normal. Napasnya pun tidak terengah engah lagi. Dia menarik napas meski masih terasa sakit. Racun itu sudah meresap dalam aliran darahnya. Senyuman tersungging tipis dibibir pucatnya. "Tidak buruk," gumamnya berusaha berdiri.
Tangannya meraih tepi meja dan bangkit tegak. Matanya menatap Lian yang memucat. Mata dayang itu sampai tak berkedip. "Rahasiakan ini dari orang lain," ujar Li Jihyun meletakkan jemari telunjuknya dibibir.
Lian terkesiap lantas dengan cepat mengangguk. "Iya yang mulia," jawabnya membuat Li Jihyun tersenyum lagi.
"Nah sekarang kamu boleh keluar," usir Li Jihyun mengibaskan tangan diudara. Lian menganggukkan kepala patuh. Walau dalam hatinya masih mengkhawatirkan keadaan Li Jihyun.
"Saya permisi dulu yang mulia," pamitnya membungkukkan badan. Kemudian membalikkan badannya dan pergi. Li Jihyun menatap punggung Lian sampai menghilang di balik pintu. Gadis itu segera duduk di kursinya.
Persiapanku sudah cukup. Tinggal mengundang para bangsawan itu. Sebaiknya aku harus meminum rutin racun untuk berjaga jaga, batin Li Jihyun mengembuskan napas berat.