
Zhang Liu hendak menanyakan kebenaran tentang Li Jihyun. Tentang kehidupan pertamanya yang seorang pembunuh. Apa aku tanyakan saja? Tapi itu adalah rahasia yang mulia selir agung. Sebaiknya aku tutup mulut. Lagipula kertas itu sudah kubakar hangus tak bersisa, batin Zhang Liu.
"Apa ada sesuatu yang mau kamu tanyakan?" tanya Li Jihyun menyadarkan lamunan Zhang Liu. Pria itu segera menggelengkan kepala.
"Bukan hal penting yang mulia."
Kepala Li Jihyun menengadah ke langit malam. Bulan purnama yang bersinar terang tampak condong ke arah barat. Menandakan malam semakin larut. "Aku harus segera kembali," ujar Li Jihyun menurunkan kepalanya menatap Zhang Liu.
"Saya akan menemani yang mulia," tawar Zhang Liu yang digelengkan Li Jihyun.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri," tolak Li Jihyun membuat Zhang Liu sedih. Dia menundukkan pandangan.
"Baiklah. Hati hati dijalan yang mulia," ujar Zhang Liu yang dibalas deheman Li Jihyun. Dia berbalik dan melangkah pergi.
"Sebaiknya kita harus sering bertemu disini. Aku curiga ada mata mata yang mengawasi kita," ujar Li Jihyun sebelum pergi menjauhi Zhang Liu. Sekejap tubuhnya menghilang ditelan kegelapan malam.
Begitu Li Jihyun tak terlihat lagi. Zhang Liu bersiul memanggil seseorang. Seseorang berjubah hitam bersimpuh dibelakangnya. "Ada apa tuan memanggil saya?" tanya orang itu sopan.
"Awasi kepala sipir. Firasatku tidak enak," ujar Zhang Liu yang diangguki orang itu.
"Baik tuan. Saya permisi dulu," pamitnya sebelum melesat pergi meninggalkan Zhang Liu sendirian. Dia membuka kacamatanya dan memijat pelipis yang nyeri.
"Semoga saja masalah hari ini cepat selesai," gumam Zhang Liu membuang napas kasar. Dihirupnya udara malam yang dingin sebelum pergi dari taman belakang.
...
Hari itu Zhang Liu sangat sibuk. Setelah mengurus pekerjaan masalah istana. Dia juga mulai bergerak menyebarkan pengumuman merekrut prajurit istana. Dan itu harus dibawah naungan Li Jihyun bukan Long Jian. Artinya, mereka harus bersumpah setia hanya kepada Li Jihyun.
"Seharusnya saya mengerti saat anda dulu bilang mau merekrut prajurit," ujar Zhang Liu didalam kereta kuda. Rencananya mereka akan melakukan kegiatan amal disalah satu daerah kumuh Qing Long.
Hela napas terdengar. "Itu semua gagal akibat Long Jian yang cepat sadar," ujar Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu. Perkataan Li Jihyun benar. Jika saja kaisar lebih lama bangun pasti pasukan itu sudah terbentuk. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tak ada gunanya menyesali itu semua.
"Sekarang saatnya kita bertindak Zhang. Bagaimana urusan yang lain? Beres?" tanya Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu. Senyuman langsung merekah dibibir Li Jihyun.
"Semua berjalan lancar. Untuk penerimaan prajurit itu sepertinya melebihi dari target. Ada banyak rakyat yang ikut berpartisipasi."
"Baguslah. Sebaiknya kamu cari guru yang pas untuk melatih mereka," ujar Li Jihyun. "Dan kalau bisa diangkat jadi jenderal yang memimpin pasukan," lanjutnya yang diangguki Zhang Liu.
"Tenang saja yang mulia. Saya akan membereskan semuanya," ujarnya dengan penuh percaya diri. "Dan ada berita baik lainnya yang harus saya sampaikan. Bangsawan yang kemarin anda undang akan memberikan anda dukungan sepenuhnya. Bahkan bangsawan yang ikut pun bertambah," lapor Zhang Liu yang dibalas senyuman sumringah dibibir Li Jihyun. Hatinya seketika langsung berbunga.
"Ini kabar baik. Aku pikir mereka takkan setuju bergabung membantuku menjadi kaisar di masa depan."
Suara ringkikan kuda terdengar menandakan mereka sudah sampai. "Yang mulia kita sudah tiba," ujar kusir.
"Iya. Aku akan segera turun," ujar Li Jihyun hendak menyibak kain yang menutupi kereta kuda.
"Yang mulia tunggu sebentar," gerakan Li Jihyun terhenti. Kepalanya tertoleh ke arah Zhang Liu.
"Tentang orang yang anda cari itu saya masih belum menemukan identitasnya lebih jelas. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin menemukannya dalam waktu cepat," ujar Zhang Liu bersungguh sungguh.
Li Jihyun menepuk pundak Zhang Liu. Membuat pria berkacamata itu berjengkit. "Tidak masalah. Kita bisa mencari taunya perlahan lahan. Lalu bagaimana masalah kepala sipir? Apa ketua benar benar membunuhnya?"
"Saya akan menceritakan itu nanti yang mulia. Saya tidak enak mengatakannya disini. Kita tak boleh membuat rakyat menunggu anda terlalu lama," ujar Zhang Liu yang disahut tawa Li Jihyun. Dia menatap lekat Zhang Liu membuat jantungnya berdegup kencang. Zhang Liu menelan ludah.
"Bukankah kamu yang menahanku agar tetap disini?" tanya Li Jihyun membuat Zhang Liu gelagapan.
"Ma-Maafkan saya yang mulia. Saya tidak bermaksud menahan anda. Maafkan saya atas ketidak sopanan saya barusan."
Li Jihyun tertawa terbahak bahak membuat Zhang Liu kebingungan. "Astaga! Aku tidak bermaksud menakutimu. Lupakan masalah itu. Sebaiknya kita harus segera turun," ujar Li Jihyun menyibak tirai dan turun dari kereta kuda.
Tampak prajurit mengerumuni Li Jihyun. "Kalian turunkan karung beras dan beberapa makanan lain. Kita harus segera membagikannya pada rakyat," titah Li Jihyun yang diangguki serempak prajurit.
"Baik yang mulia," sahut mereka serempak dan bergegas menuju gerobak yang menyeret karung beras dan berbagai macam makanan lain. Rakyat yang sejak tadi duduk di tepi jalan pun mendekati Li Jihyun. Sisa prajurit yang tidak ikut menurunkan karung beras mengawal Li Jihyun. Mengibaskan rakyat yang berdiri didekat Li Jihyun.
Pakaian yang kumal dan bau busuk yang menyengat dihidung. Li Jihyun sedikit mundur. Tapi teringat perkataan Zhang Liu membuatnya urung menjauhi mereka. "Kalian jangan dorong mereka. Menjauhlah," perintah Li Jihyun membuat prajurit itu menjauh sedikit. Mereka tidak lagi mendorong rakyat namun tetap menjaga disisi Li Jihyun.
"Tolong kami nona. Kami belum makan selama seminggu," pinta salah satu rakyat berdiri didekat Li Jihyun. Pria renta itu memasang wajah memelas.
"Hei! Cepat bagikan karung beras itu!" perintah Li Jihyun yang diangguki cepat prajurit. Satu per satu beras dibagikan pada rakyat yang tampak mirip pengemis. Mereka berebutan hingga terjadi aksi saling dorong. "BERHENTI!" teriak Li Jihyun menghentikan gerakan mereka.
Li Jihyun menatap bergantian rakyat yang berdesakan. Dia mengembuskan napas kasar. "Aku tidak bermaksud kasar. Tapi sebaiknya kalian mengantri dengan benar. Aku sudah memberikan jatah yang sesuai untuk kalian. Jadi semuanya pasti dapat," ujar Li Jihyun membuat rakyat seketika berbaris rapi.
Mereka mulai berjalan dengan tertib. Li Jihyun menghela napas lega. Dia juga turut membagikan makanan lain seperti sayur maupun ayam. Tak ada lagi suara keributan yang didengar justru pujian yang terus bersenandung.
"Terimakasih nona. Hati anda sangat baik."
"Kami mengucapkan terimakasih nona atas kebaikan anda."
Tanpa sadar Li Jihyun tersenyum. Zhang Liu yang memperhatikan dari jauh ikut tersenyum. Bahkan detak jantungnya kembali berpacu cepat. Apa aku jatuh cinta lagi pada yang mulia selir agung? batinnya gundah.