
"BAI! LIAN!" teriak Li Jihyun lantang hingga suaranya terdengar menggelegar. Dua orang wanita berpakaian dayang memasuki kamar dengan langkah tergesa. Mereka berdiri dibelakang Li Jihyun.
"Bai mengucapkan salam pada yang mulia selir agung," ucap Bai dengan kepala tertunduk.
"Lian mengucapkan salam pada yang mulia selir agung," timpal Lian yang menundukkan kepala. Sama dengan yang dilakukan Bai.
Li Jihyun membalikkan badan. "Kalian bantu aku bersiap," ucapnya yang diangguki serempak keduanya. Begitu kepala keduanya terangkat, mereka dibuat terkejut melihat penampilan Li Jihyun. Hanfu yang dipakainya robek dan wajahnya terdapat lebam. Membuat keduanya menelan ludah susah payah. Alis mata Li Jihyun terangkat. "Apa yang kalian tunggu?" tanya Li Jihyun ketus.
Serempak kedua dayang itu terkesiap. Mereka segera kembali menundukkan pandangan. "Ma-Maafkan kami yang mulia selir agung," ucap mereka serempak. Li Jihyun mencebikkan bibir.
"Sudahlah," ujar Li Jihyun mengayunkan tangan diudara. "Sekarang bantu aku bersiap," lanjutnya yang diangguki keduanya.
"Baik yang mulia selir agung." Kedua dayang itu segera membantu Li Jihyun. Dimulai mandi hingga bersih sampai didandani. Bahkan sampai dipilihkan pakaian yang bagus. Begitu selesai Li Jihyun menatap pantulan dirinya dicermin. Senyuman terulas dibibirnya. Dia kembali menatap kedua dayang itu bergantian. Membuat benak keduanya dipenuhi pertanyaan melihat perilaku Li Jihyun. Gadis itu meletakkan jemari di dagunya sambil memperhatikan kedua dayang itu. Dia tampak memikirkan sesuatu.
"Apa kalian tau dimana selir Hai?" tanya Li Jihyun yang diangguki Bai dan Fahrani. "Kalau begitu temani aku kesana," ucapnya melewati keduanya yang masih berdiri. Mereka saling tatap lalu mengikuti langkah Li Jihyun yang sudah berjalan terlebih dulu.
"Yang mulia silakan ikuti saya," ucap Fahrani melangkah lebih dulu kedepan mendahului langkah Li Jihyun. Li Jihyun menatapnya datar tapi tetap mengikuti langkah Fahrani.
"Apa sebelumnya kamu pernah bekerja di istana?" tanya Li Jihyun membuat langkah Fahrani terhenti sejenak diikuti Li Jihyun dan dayang dibelakangnya. Dia kembali melanjutkan langkahnya lagi menuju belokan.
"Ke sebelah sini yang mulia," ucapnya mengabaikan pertanyaan Li Jihyun sebelumnya. Mereka belok kiri dan bertemu simpang tiga. Kemudian belok kanan lalu berjalan lurus terus hingga tiba di kamar selir Hai. Sebelumnya melewati berbagai kamar selir lainnya yang berjajar rapi. Sehingga Li Jihyun dan selir lain pun bertegur sapa saat berpapasan. Para selir yang bertemu dengan Li Jihyun pun membungkuk hormat.
Li Jihyun tersenyum puas melihat mereka yang dulunya mengejeknya justru bertindak hormat. Bahkan menjaga etika saat berhadapan dengannya. Takut menyinggung wanita itu dan mendapatkan hukuman yang berat. Berita tentang kematian selir Xu dan keberaniannya melawan Long Jian sudah tersebar dengan cepat ke telinga selir lainnya. Apalagi ditambah posisi Li Jihyun lebih tinggi dibandingkan mereka.
"Kita sudah sampai yang mulia selir agung," ucap Fahrani yang berdiri disebelah Li Jihyun. Mereka berhenti tepat didepan sebuah pintu berwarna coklat terang. Gadis itu menaikkan sebelah alis matanya. Menatap jengkel wanita disebelahnya. Dia memutar tubuhnya sehingga mereka bertatapan. Fahrani segera menundukkan pandangannya.
"Apa sebelumnya kamu pernah belajar tata krama di istana?"
"Sebelum saya melayani yang mulia selir agung saya banyak belajar dari kepala dayang," jawab Fahrani dengan suara mantap. Li Jihyun mendengus. Matanya beralih mengedarkan sekitar. Ada banyak dayang yang berasal dari berbagai selir tengah hilir mudik. Mereka tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Alis mata Li Jihyun terangkat. Senyuman tersungging dibibir. Sudah jelas para dayang itu mata mata yang dikirim oleh majikan mereka. Tujuannya memantau informasi kedatangan Li Jihyun di paviliun selir dan alasan dia bertemu dengan selir Hai.
Matanya kembali beralih menatap Fahrani. Dia menaikkan kedua lengannya dan disilangkan setinggi dada. "Lalu apa maksudmu bertindak tidak sopan barusan? Apa kamu sudah lupa kalau aku adalah selir agung disini?"
Plak!
Satu tamparan telak mengenai pipi Fahrani. Rasa panas dan nyeri membuatnya seketika terdiam. Tangannya gemetaran memegangi pipinya yang langsung berubah kemerahan. "Apa katamu? Maaf? Apakah kamu meremehkanku sebagai selir agung?" tanya Li Jihyun ketus.
Semua orang yang berada disana berseru kaget. Bahkan dayang yang sejak tadi hilir mudik itu terhenti. Mereka menatap ke arah suara gaduh yang tak lain berasal dari Li Jihyun.
"Ya-Yang mulia anda seharusnya tidak melakukan ini. Bagaimana pun dayang Fahrani adalah dayang pribadi anda sementara," protes Bai membuat kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang. Membuat keduanya saling bertatapan.
"Lantas? Apa masalahnya?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya. Tatapannya yang angkuh dan mengintimidasi membuat Bai langsung menundukkan kepala. Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang sejak tadi memilin jemari dengan gelisah. "Kenapa diam?" tanya Li Jihyun selangkah lebih maju ke hadapan Bai. Tapi dayang itu langsung mundur selangkah. Li Jihyun terus melangkah membuat Bai mundur lagi. Hingga punggung Bai menabrak tembok yang dingin. Kini dia tak bisa pergi kemanapun. "Jawab aku!" bentak Li Jihyun mengagetkan Bai.
"Sa-Saya ..." katanya terbata.
"Yang mulia selir agung tolong jangan libatkan dayang Bai dalam masalah kita. Dia tak ada sangkut pautnya yang mulia selir agung. Pertimbangkan nama baik anda," pinta Fahrani bersimpuh dihadapan Li Jihyun. Apapun terjadi
aku harus mencegahnya menyakiti Bai. Kami harus kembali dalam keadaan hidup, batin Fahrani. Tindakan Fahrani menarik perhatian dayang yang berkerumun. Suara bisikan terdengar mengusik telinga Li Jihyun.
Pandangannya beralih menatap arah kerumunan. Sorot matanya menatap datar dan dingin membuat kerumunan dayang itu menundukkan pandangan. "Hei! Apa yang kalian lakukan disana?" tanya Li Jihyun menatap mereka tajam. Para dayang itu terdiam membuat Li Jihyun berdecih. Pandangannya kembali menatap Bai yang gemetaran. Dia menarik rambut gadis itu kuat hingga kepalanya mendongak. Ringisan kesakitan tampak dari wajahnya.
Fahrani yang menyaksikan terkesiap. "Yang mulia selir agung saya mohon anda lepaskan Bai. Dia tak ada salah apapun," bujuk Fahrani. Li Jihyun menatap ke arahnya sekilas lalu kembali fokus melihat Bai. "Anda bisa terkena masalah dengan yang mulia kaisar."
Tangan Li Jihyun menyentak rambut wanita itu dengan kuat. Matanya pun langsung berkaca kaca saking kesakitan. "Yang mulia lepaskan saya. Saya minta maaf sudah berbuat salah," pintanya dengan suara memelas.
"Berisik!" ucap Li Jihyun melemparkan tubuhnya kasar. Tubuh Bai menabrak tembok dan rambutnya berguguran. Wanita itu terisak merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
"Bai!" seru Fahrani menghampiri Bai. Wanita itu tergeletak lemas. Dia menatap Li Jihyun sambil memeluk tubuh Bai. "Yang mulia apa yang anda lakukan? Bagaimana mungkin anda seorang selir ..."
"Hei kalian! Bawa kedua orang ini ke penjara. Lalu katakan pada ketua sipir untuk menjatuhi hukuman pancung," titahnya menatap kerumunan dayang yang terkejut.