
Usai menikmati teh, Gong Jihon pamit pulang. Meski selama perjalanan menuju rumah hatinya kian berkecamuk. Ada keraguan yang terus berbisik dikepala. Antara mengikuti saran Li Jihyun atau menerima hukuman dari Long Jian. Pria renta itu terus menghela napas selama melewati lorong istana.
"Selamat sore menteri pertahanan Gong Jihon," sapa selir Hai Rong membuyarkan lamunan Gong Jihon. Pria renta itu menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat. Bagaimanapun orang yang berada dihadapannya adalah seorang selir dari kaisar. Wajar jika dia menundukkan pandangan.
"Selamat sore selir Hai Rong," sahut Gong Jihon sopan. Hai Rong melirik arah kedatangan Gong Jihon.
"Apa anda baru saja dari ruangan yang mulia selir agung?" tanya Hai Rong yang diangguki Gong Jihon.
"Yang mulia selir agung ada dikamarnya. Anda bisa menemuinya," ucap Gong Jihon.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Hai Rong melewati Gong Jihon yang masih membungkuk.
"Iya selir Hai. Hati hati dijalan," sahut Gong Jihon. Hai Rong terus berjalan dengan anggun menuju ruangan Li Jihyun. Meski kondisi Li Jihyun sudah membaik tapi tabib istana tidak memperbolehkannya untuk beraktifitas seperti biasa. Dia harus berbaring dikasur seharian dengan bosan.
"Nona apakah anda akan menemui yang mulia selir agung?" tanya Fen penasaran. Sejak tadi dia cuma mengikuti langkah Hai Rong tanpa berkomentar sedikit pun. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Tentu saja Fen. Bukankah dia sudah berjasa menolongmu dari cengkraman yang mulia kaisar? Jika bukan karena dia pasti sekarang kamu sudah tidak bernyawa," celetuk Hai Rong. Mereka terus berjalan melewati lorong menuju ruangan Li Jihyun. Suasana lorong yang ramai oleh dayang yang sibuk hilir mudik. Tidak mengalihkan perhatian mereka dari kedatangan Hai Rong. Dayang yang berada disana pun kerap menyapa dengan sopan dan menunduk hormat.
"Yang anda katakan benar. Sebenarnya selir agung sangat baik. Cuma karena gosip miring belakangan ini beredar membuat hati saya goyah," ujar Fen menghela napas berat.
"Aku juga harus mengucapkan terimakasih pada selir agung secara langsung," ujar Hai Rong yang diangguki Fen. Keduanya terus berjalan dan tiba didepan pintu ruangan selir agung.
Dua orang pengawal yang berjaga didepan pintu langsung membungkuk hormat melihat kemunculan Hai Rong. "Salam selir Hai Rong," sapa mereka serempak dengan sopan.
"Angkat kepala kalian," ujar Hai Rong membuat kedua kepala pengawal itu terangkat. "Apakah yang mulia selir agung ada didalam?" tanya Hai Rong yang diangguki salah satu pengawal.
"Yang mulia selir agung ada didalam. Saya akan membukakan pintu untuk anda," ucap salah satu pengawal dengan sopan. "Selir Hai Rong datang berkunjung," teriak salah satu pengawal itu dengan lantang. Keduanya membukakan pintu lebar. Mereka juga membungkuk hormat. "Silakan masuk selir Hai," ucap keduanya serempak.
Hai Rong dan Fen berjalan memasuki ruangan selir agung. Suara ketukan sepatu mereka membuat atensi Li Jihyun beralih. Keduanya saling melempar pandangan. Langkah mereka terhenti tepat dihadapan Li Jihyun. Hai Rong langsung membungkuk hormat begitu juga Fen. "Salam yang mulia selir agung," sapa keduanya serempak. Li Jihyun tersenyum lebar.
Dalam waktu satu hari dia sudah mendapatkan dua kunjungan. Hari ini berbeda dari hari biasanya. Matanya terus memperhatikan Hai Rong dan Fen. "Angkat kepala kalian," titah Li Jihyun. Hai Rong dan Fen mengangkat kepala dengan patuh. "Ada apa kalian datang kemari?" tanya Li Jihyun penasaran. Sejak kedatangan Hai Rong dan dayangnya tidak ada gelagat aneh terlihat. Rasanya kunjungan mereka kesini bukan karena adanya tujuan tertentu. Atau memang ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Melihat itu Li Jihyun tak berhenti tersenyum.
"Maaf jika kedatangan saya menganggu waktu istirahat anda. Tapi saya datang kemari untuk mengucapkan terimakasih atas pertolongan anda tempo hari pada dayang saya. Jika bukan karena kebaikan anda pasti sekarang dayang saya cuma tinggal nama."
"Hai Rong," sahut Hai Rong. Li Jihyun mangut mangut mendengarnya.
"Selir Hai sebagai sesama manusia sudah sepatutnya kita saling tolong menolong. Jadi anda tidak perlu sungkan begitu," kata Li Jihyun menyunggingkan senyuman.
Hai Rong sekali lagi membungkuk hormat. "Terimakasih atas kebaikan hati anda yang mulia selir agung," ucap Hai Rong yang diikuti oleh Fen.
"Sudah kubilang tidak perlu bersikap begitu. Sekarang bagaimana jika kita menikmati teh dulu?" tawar Li Jihyun melirik Yona yang masih berdiri didekat ranjang.
Dayang itu segera tersentak kaget. "Iya selir Hai. Bagaimana jika anda menikmati teh terlebih dulu? Biar saya hidangkan teh terbaik yang kami punya," ucap Yona dengan pandangan tertunduk.
"Tidak perlu sungkan selir Hai. Lagipula ada sesuatu yang mau kubicarakan denganmu."
Hai Rong dan Fen saling lirik. Kepala Fen mengangguk membuat Hai Rong mengalihkan atensinya. "Baiklah. Mana mungkin saya berani menolak tawaran anda," ucap Hai Rong membuat Li Jihyun tersenyum senang.
"Sekarang kalian duduklah," ujarnya dengan suara riang. Kedua orang itu pun duduk dikursi yang tersedia dengan canggung. Baru kali ini selir dan dayang berada dalam posisi semeja. Kini pandangan Li Jihyun beralih menatap Yona. "Yona bawakan teh yang paling nikmat untuk kedua tamu kita," ucap Li Jihyun yang diangguki Yona.
"Baik yang mulia selir agung. Mohon tunggu sebentar," pamit Yona meninggalkan ruangan itu. Dia dengan cepat berjalan tergesa menuju dapur.
"Saya sungguh minta maaf baru hari ini bisa datang," ucap Hai Rong membuka suara.
"Tidak masalah. Saya juga memaklumi jika selir Hai punya kesibukan sendiri," sahut Li Jihyun santai. Dia menatap Hai Rong yang tersenyum tipis.
"Sejak kematian selir Xu, belakangan ini yang mulia kaisar sedang gundah."
Alis mata Li Jihyun naik sebelah. Dia memasang ekspresi pura pura terkejut. Padahal akibat ulahnya sendiri Xu Diu tewas dan membuat dia menerima hukuman dari Long Jian. Tapi gadis itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun diwajahnya. Dia justru tenang dan menyusun rencana membalaskan dendam yang tertunda.
"Sepertinya yang mulia sangat mencintai selir Xu sampai dia sesedih itu," celetuk Li Jihyun menopang dagu. Sementara kedua orang ini saling lirik. Antara percaya atau tidak mengenai rumor yang tersebar diantara dayang dan selir. Mereka bilang penyebab kematian selir Xu Diu adalah Li Jihyun menyiksanya sampai mati. Bahkan termasuk dayang yang setia melayani Xu Diu ikut tewas ditempat. Makanya Long Jian datang langsung ke kamar Li Jihyun. Tak ada berita yang jelas mengenai kejadian di kamar Li Jihyun. Tapi saat mendengar berita Li Jihyun terkapar dikamar. Mereka sudah menebak jika kaisar sendiri yang menghukum gadis pembangkang itu.
Tapi melihat wajah Li Jihyun yang sendu mendengar kematian Xu Diu membuat kedua orang itu dalam kebingungan. Apakah itu semata memang rumor atau ada sesuatu yang terjadi saat itu? batin Hai Rong dengan ragu.