
Kasim Bo memiringkan wajah kebingungan. Reaksi dayang itu terlihat berlebihan untuk seseorang yang baru mengenalnya. Baru saja Kasim Bo hendak menegurnya. Tiba tiba dayang itu bersuara membuat Kasim Bo seketika terdiam. “Apa anda datang sebagai utusan yang mulia kaisar?”
Kasim Bo mengembuskan napas. “Apakah majikanmu tidak mengajarimu sopan santun? Atau kepala dayang kurang mendidikmu dengan baik?” tanya Kasim Bo dingin. Matanya menatap tajam dayang didepannya. Gadis itu segera menundukkan pandangan. Tubuhnya gemetaran. “Ingat posisimu sebagai dayang disini. Jika kamu bersikap tidak sopan dan didengar oleh majikanmu. Maka akan kupastikan kamu dan majikanmu akan terusir dari istana,” ancamnya membuat tubuh dayang itu semakin gemetaran saking takut.
“Maafkan saya Kasim Bo,” ujar dayang itu membungkuk.
“Katakan padaku siapa majikanmu?” dayang itu bungkam. Dia tak mau jika majikan yang dilayaninya terkena imbas atas perbuatannya yang ceroboh. Cukup sekali majikannya terlibat masalah karena kebodohannya. Gadis itu memilin jemari gelisah. “Katakan! Jangan sampai aku mencambukmu!” bentak Kasim Bo terdengar menggegar di telinga dayang itu. Nyalinya seketika menciut.
“Yona apa yang kamu lakukan disini? Lalu siapa pria impoten didepanmu?” tanya Li Jihyun menyilangkan tangan di atas dada. Matanya yang dingin dan tajam menatap pria didepan Yona. Kepala Yona tertoleh ke belakang. Matanya berkaca kaca bertatapan dengan Li Jihyun. Sementara wajah Kasim Bo memerah. “Yona kemarilah,” pinta Li Jihyun. Ragu Yona menghampiri Li Jihyun. Meski matanya sesekali melirik Kasim Bo yang menahan kemarahan. Jika bukan karena perintah kaisar pasti takkan menerima penghinaan dari selir yang tak diketahui identitasnya. Tapi dia harus mengorek identitas selir yang berani menghinanya Kasim Bo yang sudah jelas pelayan setia kaisar. Selepas itu, dia akan mengadukan pada kaisar dan selir itu pasti takkan lepas dari hukuman berat.
“Apakah anda adalah majikannya?” tanya Kasim Bo menatap mereka bergantian. Tapi Li Jihyun tak merespon dan justru berbalik hendak pergi. Dia memegang tangan Yona dan menariknya pergi. “Tunggu sebentar! Anda adalah selir. Apakah anda memiliki hak untuk mengabaikan seorang Kasim yang melayani yang mulia kaisar?” tanya Kasim Bo dengan intonasi tinggi. Yona yang berada di situasi menegangkan pun gelisah. Gadis itu tak berhenti melirik ke arah mereka secara bergantian. Wajahnya memucat dan khawatir. Lagi dan lagi gara gara kebodohan yang diperbuat, majikannya kembali ikut terlibat.
“Lalu apa peduliku? Lagipula kamu hanyalah bawahan kaisar. Sudah pelayan ternyata juga impoten,” ejek Li Jihyun tersenyum lebar. Yona yang mendengar langsung membuat nyawanya terasa melayang.
“Siapa kamu? Beraninya selir sepertimu menghinaku?” Li Jihyun terkekeh. Dia melirik Kasim Bo dibelakangnya. Pria paruh baya itu sekarang benar benar marah.
“Li Jihyun. Katakan pada bajingan itu ajaran yang diberikan pada bawahannya tak lebih dari ajaran seekor anjing,” kata Li Jihyun dengan suara lantang. Hampir saja Yona pingsan mendengarnya. Tubuhnya seketika limbung. Tamat sudah riwayatnya.
Kasim Bo yang mendengar perkataan Li Jihyun langsung terpukul. Mulutnya menganga lebar. Nama gadis yang tadi diperintahkan Long Jian untuk dicari olehnya. Kini berdiri tepat dihadapannya. Kasim Bo menelan ludah susah payah sampai matanya tak berkedip menatap punggung Li Jihyun yang sudah menjauh.
“Tu-Tunggu sebentar selir Li,” panggil Kasim Bo menyusulnya yang sudah pergi jauh. Li Jihyun terus berjalan mengabaikan Kasim Bo yang terus mengejarnya sambil berterial memanggil namanya. “Ya-Yang mulia kaisar … memanggil anda … ke … aula,” kata Kasim Bo terengah engah. Langkah Li Jihyun berhenti tapi bukan karena perkataan Kasim Bo melainkan dia sudah tiba dikamarnya. Yona yang melihat sangat khawatir. Apalagi selama perjalanan tadi ada banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
Li Jihyun mendorong pintu. Baru saja Li Jihyun melangkahkan kakinya memasuki kamar tiba tiba tangan Li Jihyun dipegang Kasim Bo yang terengah engah. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Li Jihyun dingin. Dia menepis tangan Kasim Bo kasar. “Menjijikkan! Jangan sentuh aku!” ujarnya melanjutkan langkahnya memasuki kamar. Kasim Bo bersujud secara tiba tiba membuat langkah Li Jihyun terhenti. Matanya melirik.
Kasim Bo tidak peduli jika harga dirinya jatuh asal nyawanya selamat. “Maafkan saya sudah bersikap lancang dan tidak sopan pada anda,” ucap Kasim Bo. Namun diabaikan oleh Li Jihyun. Dia berdecak kasar.
“Untuk apa?”
“Lalu kenapa kamu minta maaf padaku? Apa kamu tidak diajari yang mulia kaisar etika?” tanya Li Jihyun menyeringai lebar. Yona yang sejak tadi menyaksikan tidak berhenti ketakutan. Dia tak mau kejadian buruk menimpa pada majikannya yang baik. Walau majikannya bersikap dingin dan datar. Tapi dia peduli pada dayang seperti dirinya. Dia sungguh beruntung bisa melayani Li Jihyun sebagai majikan.
Meski banyak gosip buruk yang menyebar tentangnya sebagai tawanan perang. Yona sedikitpun tak peduli dan tetap setia pada Li Jihyun.
“Ka-Karena saya sudah melakukan kesalahan. Jadi saya minta pada anda untuk tidak melaporkan itu pada yang mulia kaisar. Saya juga memohon pada anda agar segera menghadap beliau ke aula.”
“Aku.Tidak.Mau,” ujar Li Jihyun tegas. Dia menyilangkan tangan didada bersikap angkuh. Saking geram kepala Kasim Bo terangkat untuk bertatapan dengan gadis yang berani bersikap kurang ajar pada dirinya. “Tundukkan kepalamu! Siapa yang menyuruhmu menegakkan kepala?” kepala Kasim Bo yang hendak terangkat kembali tunduk. Dia menggigit bibir bawah.
“Selir Li tolong jangan persulit saya,” pinta Kasim Bo dengan nada memelas. Li Jihyun yang mendengar menguap lebar. “Kasihanilah saya. Jika saya mati, bagaimana dengan keluarga saya didesa?” Li Jihyun mengedikkan bahu.
“Bukan urusanku. Jadi untuk apa aku peduli?” kata Li Jihyun santai. Li Jihyun kembali melanjutkan langkahnya dan hendak memasuki ke kamar.
“Selir Li jika anda mengabulkan permintaan saya. Saya akan melakukan apapun,” langkah Li Jihyun terhenti. Alis matanya naik sebelah. Benar benar menarik. Sepertinya dia lebih takut kematian ketimbang harga dirinya terinjak injak oleh selir rendahan seperti dirinya. Li Jihyun tersenyum. Sebuah ide terbersit di kepalanya.
“Apapun itu?” tanya Li Jihyun memastikan.
“Iya. Apapun akan saya lakukan!” jawab Kasim Bo dengan lantang. Li Jihyun terkikik pelan. Suaranya membuat Yona merinding. Dari raut wajah Li Jihyun pasti akan terjadi sesuatu buruk pada Kasim Bo. Sebenarnya sejak tadi Yona hendak menghentikan perbuatan Li Jihyun. Tapi dia takut saat melihat rahang Li Jihyun mengatup rapat. Terutama urat yang bermunculan pada kulitnya yang seputih batu giok.
“Minta maaf pada dayangku. Namanya Yona,” ujar Li Jihyun santai membuat Yona terperanjat kaget. Wajah Kasim Bo pias. Dia sudah tau jika Li Jihyun tidak akan melepaskannya semudah itu. Sifat Li Jihyun dan Long Jian hampir sama. Pantas saja mereka dipertemukan oleh takdir. “Kenapa? Tidak mau?”
“Ti-Tidak usah nona. Sa-Saya baik baik saja. Anda tidak perlu melakukannya,” pinta Yona dengan gelagapan.
“Siapapun yang menghina orang orangku itu sama saja menghina diriku,” ujar Li Jihyun membuat mata Yona berbinar. Perasaan terharu menyelimuti hati Yona. Tapi tidak berlaku bagi Kasim Bo yang sudah bersujud hampir 15 menit lamanya. “Bagaimana Kasim Bo? Apa kamu tidak mau?” ulang Li Jihyun membuat Kasim Bo menahan amarah yang siap meledak kapanpun.