Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 10


“Katakan apa maumu?” tanya Long Jian mengalihkan atensi gerombolan Long Jian tertuju kearahnya. Tapi pedang ditangan Long Jian masih belum berpindah dari leher dayang itu.


“Bisakah anda memindahkan pedang itu dari leher dayang itu?” pinta Li Jihyun. Sebelah sudut bibir Long Jian terangkat. Matanya sekilas menatap dayang yang sudah gemetaran ketakutan.


“Akan kudengarkan perkataanmu dulu. Jika bukan hal penting, aku akan langsung menebas lehernya.”


Li Jihyun menghela napas pelan. Baiklah. Jika dia mau mendengarkan perkataanmu. Artinya ini bukan hal sulit. Tapi orang disebelahnya itu sejak tadi menatap ke arahku. Jadi, dia sedang menilaiku apakah aku berlian atau pasir? Pikir Li Jihyun melirik ke arah Zhang Liu yang fokus menatapnya. Zhang Liu penasaran dengan tindakan Li Jihyun. Gadis yang dirumorkan jenius itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Itulah yang dipikirkan oleh Zhang Liu yang tanpa disadarinya terbaca oleh Li Jihyun. Gadis itu tersenyum tipis sampai tidak terlihat.


Li Jihyun semakin teringat dengan kehidupan sebelumnya. Selama hidup 31 tahun, sudah banyak mempelajari perilaku manusia termasuk gelagat Zhang Liu yang terbaca jelas di matanya. Itulah hal dikuasai semenjak menjadi pembunuh bayaran. Instingnya lebih kuat persis binatang buas.


“Saya pinta anda melepaskan dayang itu,” kata Li Jihyun mengejutkan semua orang terkecuali Long Jian. Pria berwajah tampan itu menaikkan alis matanya sebelah. Yona yang berada disebelahnya hampir pingsan mendengar perkataan Li Jihyun. Dia tak menyangka jika Li Jihyun yang dikenalnya mendadak peduli pada orang. Biasanya gadis itu bersikap acuh. Kecuali saat dia diusik barulah gadis itu akan bereaksi.


“Kenapa aku harus mengabulkannya?” tanya Long Jian tertarik sambil menyilangkan tangan didada. Li Jihyun menarik napas dan diembuskan pelan.


“Apakah diperlukan alasan dalam melakukan sesuatu?” tanya Li Jihyun tersenyum lebar. Long Jian menyeringai membuat napas mereka tertahan. Mereka tau jika saat ini situasi sekarang dalam keadaan buruk. Zhang Liu yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa mencebik. Dia tak menduga jika gadis itu nekat menantang Long Jian yang terkenal dengan temperamen tinggi. Apalagi Cuma menyelamatkan seorang dayang yang bisa menjadi pihak musuh atau kawan. Belum lagi prinsip Long Jian yang takkan mudah memaafkan siapapun kecuali dibayar dengan kematian.


Tindakan gadis itu memang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Ternyata sikapnya yang selama ini diam meski ditangkap sekalipun hanyalah kedok untuk mempersiapkan strategi balas dendam. Zhang Liu tersenyum tipis. Pantas saja Long Jian selalu melepaskannya walau sering bersikap tidak sopan. Ternyata gadis itu selalu melakukan banyak hal mengejutkan. Seandainya dia bisa bertemu lebih awal dengan Li Jihyun. Pasti mereka menjadi teman akrab.


Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Karena gadis itu menyimpan dendam atas kematian keluarganya. Dan Zhang Liu juga mengetahuinya melalui kilatan kebencian dalam irisnya yang hitam legam.


“Jadi kamu tidak memberitahuku? Sombong sekali. Apa karena sekarang statusmu naik sebagai selir agung?” tanya Long Jian angkuh.


“Yang mulia kaisar,” panggil Li Jihyun mantap. Alis mata Long Jian naik sebelah. Matanya tak lepas menatap Li Jihyun yang sudah cukup lama bersimpuh. Dia pikir gadis itu akan memintanya untuk berdiri karena lututnya tampak gemetaran. Tapi dia justru tenang. Tak ada ringisan kesakitan dari wajahnya. “Ini tidak ada hubungannya dengan status saya sebagai selir agung. Saya tidak punya alasan apapun dalam menolong seseorang,” ujar Li Jihyun membuat Long Jian terkekeh.


“Cuma itu?” tanya Long Jian tak percaya. Dia menatap penuh selidik Li Jihyun. Sangat aneh jika gadis itu menyelamatakan seseorang tanpa alasan. Apalagi sekarang dia berada diistana. Rasanya tidak mungkin manusia secerdas Li Jihyun melakukan sesuatu yang sia sia. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu sampai bersikeras membela dayang yang tidak diketahui majikannya.


“Saya belajar banyak hal dari ayah saya yang merupakan perdana menteri. Ayah saya sering mengatakan jika menolong seseorang itu tidak diperlukan alasan. Karena pada dasarnya semua manusia itu setara,” mendengar itu Long Jian terdiam. Raut wajahnya berubah datar. Zhang Liu melirik perubahan pada wajah Long Jian. Dia menduga pasti Long Jian teringat membunuh ayah Li Jihyun dengan sadis. Pria yang dikenal kebijaksanaan tewas membela kekaisaran terdahulu pada saat perang.


“Jadi itu yang diajarkan ayahmu?” Li Jihyun mengangguk.


“Ayah saya adalah seorang yang berbudi luhur. Jadi setiap hari saya dan saudara saya yang lain belajar tentang kebaikan hidup.”


“Te-Terimakasih yang mulia atas kebaikan anda,” ucap Yona dan dayang itu serempak dengan penuh bersyukur. Tapi Long Jian tak peduli dan terus berjalan. Rahangnya terkatup rapat. Sekarang dia tampak menahan amarah.


Heh! Dia mengingatkanku pada pak tua itu. Pasti dia sengaja, batin Long Jian dengan gigi bergemulutuk. Tangannya terkepal erat hingga kukunya melukai kulit tangannya. Dia meringis kesakitan dan melihat tangannya sudah berlumuran darah.


“Yang mulia saya akan segera memanggilkan tabib. Anda harus segera diobati,” kata Kasim Bo panik. Long Jian mendengkus dan melotot. Nyali Kasim Bo pun langsung menciut. Pandangannya tertunduk saking ketakutan. Zhang Liu menghela napas dan melangkah maju.


“Kasim Bo dan kalian berdua tinggalkan kami,” ucap Zhang Liu yang diangguki serempak Kasim Bo dan kedua prajurit itu. Mereka pun bergegas pergi. “Kasim Bo tunggu sebentar,” tahan Zhang Liu menghentikan langkah Kasim Bo.


“Iya tuan perdana menteri,” sahut Kasim Bo dengan kepala tertunduk hormat.


“Panggilkan nanti tabib di ruang kerja yang mulia.”


“Baik yang mulia,” sahut Kasim Bo bergegas pergi meninggalkan Zhang Liu dan Long Jian. Long Jian berdecak sebal.


“Aku tidak perlu diobati. Aku baik baik saja,” ujar Long Jian berjalan lebih dulu diikuti Zhang Liu.


“Apa kamu kesal dengan selir Li?” tebak Zhang Liu yang disahut decakan dari pria disebelahnya. Sudah diduga suasana hati Long Jian langsung memburuk karena perkataan Li Jihyun yang mengingatkannya pada kejadian sewaktu perang. Pria paruh baya yang diujung maut pun tidak sudi bersekutu dengannya dan memilih mati. Alasannya sederhana karena baginya kaisar seperti Long Jian tidak akan bisa memimpin dengan baik. Dia akan membawa malapetaka bagi kekaisaran.


Itu sebabnya alasan Long Jian tidak membunuh Li Jihyun. Mungkin karena dengan memanfaatkan kejeniusan Li Jihyun. Dia bisa menghindari takdir buruk dan terus memperluas wilayah kekuasaannya.


“Jika dia tidak terlahir jenius. Aku pasti tidak akan menerimanya dengan mudah,” ujar Long Jian masih terus berjalan menuju ke ruang kerjanya.


“Apa anda tidak merasa aneh yang mulia,” celetuk Zhang Liu mengalihkan atensi Long Jian. Alis matanya mengerut.


“Aneh kenapa?”


“Gadis itu tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Meski dia berlutut selama itu tapi wajahnya tampak tenang. Dia seolah sudah terbiasa,” ujar Zhang Liu mengusap dagu. Sebenarnya Long Jian juga berpikiran sama. Gadis itu sedikit pun tidak merasakan sakit. Bahkan saat tangannya terluka dan berdarah pun dia tidak meringis. Bahkan sangat tenang. Padahal gadis itu dididik dengan penuh kasih sayang. Jadi sangat aneh jika dia terbiasa menahan rasa sakit dengan wajah tenang.