Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 9


Yona memiringkan wajah kebingungan. Reaksi Li Jihyun terlihat sangat tenang. Sepertinya hanya dia saja yang heboh sendiri. Lalu perkataan Li Jihyun terdengar janggal ditelinga Yona.


Yona ingin bertanya tapi urung. Dia tak mau membuat majikan yang dilayaninya kesal. Apalagi sekarang masih pagi. “No-Nona rencananya lusa yang mulia kaisar akan mengangkat anda menjadi selir agung,” ujar Yona sedikit gugup. Li Jihyun meletakkan cangkir yang sudah kosong di meja. Dia menghela napas lega. Akhirnya posisi yang ditunggu akan segera tiba. Sebentar lagi dia akan menduduki posisi tertinggi kekaisaran. Selagi belum ada permaisuri maka dialah orang yang mengisi posisi tinggi itu. Tak ada lagi yang berani menatapnya remeh ataupun menindasnya. Tapi sebelum itu dia harus menyingkirkan kandidat permaisuri agar posisinya bertahan lebih lama. Jika semua kandidat tersingkirkan dia bisa menjadi permaisuri dan secara perlahan menguasai kekaisaran, itulah tekad Li Jihyun.


“Yona bersiaplah. Sebentar lagi pasti kita akan banyak kedatangan tamu,” ujar Li Jihyun menopang dagu sambil tersenyum lebar.


“Baik nona,” sahut Yona penuh semangat.


“Sebelum itu Yona carilah dayang lagi yang bisa dipercaya. Aku rasa kita perlu menambah dayang baru,” ucapnya yang diangguki patuh oleh Yona.


Mata Yona berbinar menatap Li Jihyun. Dia sangat bangga bekerja melayani Li Jihyun. Rumor gadis itu pintar bukan semata kebohongan. Gadis itu benar benar sangat pintar. Tidak bahkan lebih pintar dari yang diduga.


Dia bisa mendapatkan posisi itu hanya dalam waktu singkat. Bahkan selir yang sudah tinggal disini bertahun tahun pun tidak akan bisa meraih posisi selir agung yang merupakan posisi istimewa. Biasanya itu diberikan pada selir kesayangan atau selir yang membantu kekaisaran.


“Yang mulia kaisar Long Jian tiba,” teriakan Kasim Bo membuyarkan lamunan Yona. Gadis yang berumur setahun lebih tua dari Li Jihyun sumringah.


“Nona yang mulia kaisar sudah datang,” bisik Yona kegirangan. Li Jihyun beranjak bangkit dari duduk. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi datar. “No-Nona tersenyumlah. Ini hari yang membahagiakan,” bisik Yona lagi tapi digelengkan Li Jihyun.


“Masih terlalu awal bahagia Yona,” ucap Li Jihyun membungkuk hormat yang diikuti Yona saat Long Jian mendekat. Suara derap sepatu terhenti tepat dihadapan mereka. Yona tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Berbeda dengan Li Jihyun yang bersikap tenang.


“Selir Li Jihyun dengarkan titah dariku,” Li Jihyun langsung bersimpuh begitu juga Yona yang berada disisinya. Mereka mendengarkan dengan seksama perkataan Long Jian. “Mulai besok selir Li Jihyun diangkat secara resmi menjadi selir agung,” ucap Long Jian lantang mengejutkan beberapa dayang yang sedang mengintip di balik tembok. Mata Long Jian melirik tajam membuat napas dayang itu tertahan. Sebagian dayang itu sudah melarikan diri menyisakan satu dayang. Wajahnya langsung memucat dan keringat dingin pun bercucuran.


Susah payah dayang itu menelan ludah. Lutut gemetaran saking ketakutan. Dia tak bisa bergerak melarikan diri. Tubuhnya terlanjur lemah. Mengerti arah lirikan Long Jian, Zhang Liu menggerakkan sedikit bola matanya ke arah lirikan Long Jian pada dua prajurit yang mengawal mereka. Prajurit itu mengangguk cepat kemudian berderap maju.


Sementara Kasim Bo hanya menghela napas. Nasib malang menimpa dayang itu yang sudah ketahuan menguping perbincangan mereka. Pasti sebentar lagi dia akan dijatuhi hukuman mati, batin Kasim Bo menatap prihatin dayang yang diseret oleh kedua prajurit. Mata Long Jian yang setajam elang menatapnya.


Dayang itu dilemparkan oleh kedua prajurit itu tepat dihadapan Long Jian. Bergegas dayang itu bersujud ketakutan. “Ma-Maafkan saya yang mulia. Sa-Saya bersalah sudah menguping tadi. Sa-Saya mohon ampuni saya yang mulia,” ujarnya tergagap.


“Siapa majikanmu?” tanya Long Jian dingin. Matanya masih menatap tajam membuat nyali dayang itu langsung ciut. Dia semakin ketakutan. Masalah yang dihadapi bertambah runyam. Jika Long Jian tau majikannya maka semuanya akan dibantai dalam sekejap. Dia sudah membuat majikannya sendiri terseret dalam masalah.


Yona yang sejak tadi melamun mengkhawatirkan Li Jihyun yang sudah bersimpuh lama tersentak. Dia sedikit terkejut melihat Li Jihyun sedikit pun tidak kelelahan meski bersimpuh dalam waktu cukup lama. Apalagi mengingat statusnya sebagai bangsawan. “Apa yang anda maksud adalah dayang itu?” tanya Yona memastikan yang diangguki cepat oleh Li Jihyun. Yona mengalihkan atensinya pada dayang yang sekarang ketakutan. Matanya menyipit.


“Saya mengenalnya nona,” sahut Yona berbisik sangat lirih. Dia menoleh sekilas ke arah Long Jian. Tapi gerombolan Yong Jian tidak tertarik melihat ke arah mereka. Pandangan mereka lebih tertuju pada dayang yang sebentar lagi dieksekusi karena lancang menguping percakapan antara kaisar dan selirnya. Tindakan yang tidak sopan pada keluarga kekaisaran akan dijatuhi hukuman. Tapi tergantung dari jenis kesalahan yang dilakukannya.


“Siapa dia?” tanya Li Jihyun mendesaknya. Yona menelan ludah. Sekali lagi dia melirik ke arah dayang itu.


“Dia adalah dayang dari selir Hai Rong,” jawab Yona berbisik pelan ditelinga Li Jihyun. Mata Li Jihyun menatap dayang itu lagi. Senyuman tersungging dibibirnya. Sebuah ide terlintas dibenaknya. Cukup lama suasana hening tercipta. Zhang Liu sudah menebak pasti sebentar lagi Long Jian akan menebas leher dayang itu jika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkanya.


“Tidak mau bicara, heh?” ujar Long Jian jengkel. Dia menatap salah satu prajurit yang mengawal mereka. Tangannya terulur membuat salah satu prajurit itu maju menyerahkan pedangnya. Seolah mengerti keinginan dari Long Jian. Sementara Kasim Bo memejamkan matanya.


Walau sering menyaksikannya tetap saja dia masih merasakan ketakutan. Apalagi sekarang aura pembunuh dari tubuh Long Jian terasa pekat. Membuat Kasim Bo, Zhang Liu maupun kedua prajurit itu tak berani bersuara.


Long Jian mengelus benda pipih dan tajam itu. Dia menatap kilatan yang terpantul dari cahaya matahari yang terik. Long Jian meletakkannya di dekat leher dayang itu. Dayang itu menjadi semakin ketakutan. Jika dia bergerak sedikit maka kepala dan lehernya pasti terpisah. Membayangkannya saja membuat dia bergidik ngeri.


Apakah aku akan mati secepat ini? Batin dayang itu menatap bilah pedang yang tajam dan terasa dingin dikulit. Keringat dingin terus menetes. Yona yang menyaksikan seketika langsung takut. Nyalinya ikut menciut.


Aku harus bersikap baik jika tidak mau berakhir seperti itu, pikirnya.


“Masih tidak mau menjawab?” tanya Long Jian sekali lagi. Kini mata pedang itu semakin dekat. Darah merembes keluar. Dayang itu meringis kesakitan.


“Yang mulia kaisar maaf jika saya lancang,” sebuah suara menghentikan gerakan Long Jian mendekatkan mata pedang itu ke leher dayang itu. Kepalanya tertoleh ke belakang. Tampam Li Jihyun tersenyum lebar.


“Apa sekarang kamu bersikap santai karena posisi kita sebentar lagi setara?” tanya Long Jian sinis. Li Jihyun mengembuskan napas kasar tapi senyuman masih tersungging dibibirnya. Sementara Yona wajahnya sudah memucat sejak Li Jihyun buka suara. Sepertinya sebentar lagi pedang itu akan berpindah ke leher mereka. Tapi Yona sama sekali tidak berani mencegah Li Jihyun.


“Saya tidak berani melakukannya. Justru ada yang mau saya sampaikan pada anda,” ujarnya lembut membuat dahi Long Jian mengerut.