Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 56


Li Jihyun mengangguk cepat. Dia sudah tak sabar memastikan kondisi Long Jian. "Buka pintunya," titah Li Jihyun yang diangguki serempak oleh kedua prajurit itu.


Kedua prajurit itu membukakan pintu lebar. "Yang mulia selir agung memasuki ruangan," teriak salah satu prajurit terdengar lantang. Li Jihyun melangkah lebih dulu diikuti kasim Bo, Zhang Liu dan Lian.


Langkahnya sedikit melebar. Semakin mendekati ranjang Long Jian, jantungnya terus berpacu cepat. Langkah gadis itu terhenti dan bertatapan dengan Long Jian. "Lama tak bertemu Li Jihyun," sapa Long Jian dari ranjangnya. Dia menyeringai menatap lekat Li Jihyun yang berdiri didekat ranjang.


Tangan Li Jihyun terkepal erat. Tapi gadis itu tersenyum menutupi kemarahan yang membara. "Bagaimana keadaan anda yang mulia?"


"Seperti yang kamu lihat. Hanya tubuhku yang lemas."


"Cepat panggilkan tabib. Kondisi yang mulia harus segera diperiksa," kata Li Jihyun mengalihkan pandangan ke arah dayang dibelakangnya. Bertatapan dengan Long Jian membuatnya risih. Hatinya diselimuti kegelisahan. Posisinya bisa dalam bahaya jika Long Jian tau dia yang meracuninya.


"Ba-Baik yang mulia," sahut dayang itu bergegas pergi.


"Yang mulia tenang saja. Saya sudah memanggilkan tabib untuk memeriksa kondisi anda."


"Tidak perlu secemas itu Li Jihyun. Aku baik baik saja."


"Sudah sepantasnya saya mengkhawatirkan anda. Bagaimana pun anda adalah ayah kekaisaran ini," sahut Li Jihyun dengan kepala tertunduk. "Kesehatan anda adalah prioritas kami," lanjutnya masih pandangan tertunduk. Zhi Shen sialan! Aku terlalu lambat menguasai istana. Sial! Sial! rutuknya dalam hati.


Long Jian mengalihkan atensinya ke arah Zhang Liu. Pria itu membungkuk dibelakang Li Jihyun. "Zhang Liu," panggilnya membuat Zhang Liu tersentak.


"Saya disini yang mulia," jawabnya sopan.


"Apa ada masalah selama aku tidak sadarkan diri?" tanya Long Jian yang digelengkan Zhang Liu.


"Tidak ada yang mulia. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun."


"Baguslah. Aku kira ada masalah selama aku tidak bangun," ucap Long Jian melirik Li Jihyun. Matanya lalu beralih melirik Lian yang berada dibelakang Li Jihyun. Senyuman tipis tersungging dibibir.


"Tabib istana memasuki ruangan." Semua orang yang berada disana menepi. Seorang pria renta muncul dari ambang pintu dan berjalan masuk. Dia menghampiri Long Jian yang masih terbaring.


"Izinkan orangtua ini memeriksa kondisi anda yang mulia," pinta tabib itu yang diangguki Long Jian. Pria renta itu berdehem sejenak sebelum meletakkan jemarinya di pergelangan tangan Long Jian.


Detak nadi Long Jian terasa dikulit keriputnya. Dia mangut mangut lalu menjauhkan jemarinya. Tas hitam yang sejak tadi dibawanya pun dibuka. "Saya juga harus memeriksa darah anda yang mulia," pintanya lagi yang diangguki Long Jian.


Dayang itu berjalan tergesa keluar lalu beberapa menit kemudian membawa lilin yang menyala. Jarum ditangan tabib diletakkan diatas nyala api. Lalu menusuk jemari Long Jian. Long Jian sedikit meringis kesakitan. Darah merembes mengenai ujung jarum itu.


Tabib menatap perubahan pada jarum itu. Tapi tidak ada yang berubah. Warna jarum masih sama seperti sebelumnya. "Suatu keajaiban terjadi kondisi yang mulia sudah membaik. Racun dalam tubuhnya pun sudah hilang," ucap tabib yang disambut hela napas lega. Hanya Zhang Liu dan Li Jihyun yang menunjukkan keterpaksaan. "Biasanya tak ada yang pernah bisa melewati racun ini," lanjut tabib membuat mata Long Jian melirik Li Jihyun. Darah Li Jihyun berdesir hebat. Tapi gadis itu berusaha bersikap tenang.


"Syukurlah. Tapi tabib tubuh yang mulia masih lemas. Jadi sepertinya butuh obat untuk membantunya cepat sembuh," ucap Li Jihyun yang langsung mendapat tatapan dari semua orang dikamar itu.


"Saya akan meresepkannya yang mulia selir agung. Kebetulan saya membawa obatnya. Jadi bisa langsung diberikan," ucap tabib mengeluarkan kantong obat.


"Berikan pada dayangku. Aku harus minum obat sekarang," ujar Long Jian menahan gerakan tabib memberikan obat pada Li Jihyun. Tabib itu sedikit kikuk menyodorkan obat pada dayang dibelakangnya. Dayang itu segera pamit ke dapur. Sementara Li Jihyun melemparkan tatapan yang penuh arti.


Dia sudah mencurigaiku rupanya, batin Li Jihyun. Sementara orang disana sudah tenggelam dalam pikirannya masing masing. Kasim Bo yang sejak tadi menyaksikan mulai curiga dengan Li Jihyun. Tapi buru buru ditepis mengingat kondisi Long Jian belum pulih.


"Yang mulia kaisar, yang mulia selir agung saya permisi dulu. Resep obatnya saya berikan pada yang mulia selir agung," ucap tabib menyerahkan secarik kertas pada Li Jihyun. Gadis itu secepat kilat mengambil kertas itu. Membuat Long Jian tak sempat mencegah.


Tabib membungkuk hormat kemudian melangkah pergi. "Anda tenang saja. Selama anda sakit saya yang akan menjaga anda," ucap Li Jihyun tersenyum manis. Tapi dibalas decihan dari Long Jian membuat kepalan ditangan Li Jihyun semakin erat. Bahkan sampai membuat kertas ditangannya remuk.


"Aku sangat menantikannya selirku," sahut Long Jian membuat Li Jihyun jijik. Tapi gadis itu tak menunjukkannya. Dia justru bersikap layaknya ketenangan air.


Tak lama dayang datang memasuki ruangan. Ditangannya ada nampan berisi mangkuk obat. Tercium dari kepulan asap diudara. Langkahnya berhenti di dekat Li Jihyun. Gadis itu dengan cepat mengambil mangkuk obat sebelum Long Jian sempat melarang. Dia duduk ditepi kasur sambil memegangi mangkuk. "Yang mulia harus meminum obatnya supaya cepat sembuh," bujuk Li Jihyun menyendok cairan obat itu.


Lalu menyodorkannya pada Long Jian. Dahi pria itu mengernyit melihat cairan obat disendok yang dipegang Li Jihyun. "Kenapa yang mulia? Apa anda tidak mau minum obatnya?" desak Li Jihyun mengalihkan atensi Long Jian.


"Cicipi obatnya!" titahnya membuat Li Jihyun tersenyum mengejek.


Tebakanku benar. Dia sudah mencurigaiku rupanya, batin Li Jihyun. Dia menghela napas pelan. Matanya menatap sendok ditangan.


Dia pikir aku tertipu? Cih! Hanya tinggal menunggu waktu aku akan mengusirmu dari istana. Persetan dengan kekaisaran yang hancur. Aku tak peduli seberapa jenius dia, batin Long Jian memperhatikan Li Jihyun. Gadis itu sekali lagi menghela napas pelan.


Seru juga mengerjainya, batin Li Jihyun memasukkan kembali sendok ke dalam mangkuk. "Apakah anda sungguh tidak mau minum obatnya? Tubuh anda bisa melemah nantinya," bujuk Li Jihyun membuat raut wajah Long Jian terlipat.


"Berisik! Cepat cicipi sekarang!" ujar Long Jian sedikit mengeraskan suaranya. Li Jihyun menghela napas lagi.


"Baiklah. Jika itu kemauan anda. Tapi jangan salahkan saya jika anda meminum bekas saya," ucap gadis itu menyendok cairan obat itu. Seketika timbul keraguan Long Jian. Disatu sisi dia takut diracuni tapi disisi lain harga dirinya dipertaruhkan. Situasi ini membuatnya dilema.