
Dua hari kemudian disiang yang mendung gerombolan bangsawan berdatangan ke paviliun selir. Mengundang banyak pasang mata ke arah gerombolan itu. Menimbulkan berbagai macam pertanyaan di kepala penghuni istana. Namun saat gerombolan itu mengarah ke balairung yang terletak di dekat kamar selir agung.
Pertanyaan dibenak mereka langsung bungkam dan berubah menjadi pernyataan bahwa gosip selir agung merebut takhta itu benar. Bukan semata ancaman belaka. Dayang yang berkumpul itu langsung berbisik satu sama lain. Yang terdengar seperti dengung lebah.
Langkah para bangsawan itu terhenti melihat Lian. "Selamat datang para bangsawan yang terhormat. Silakan masuk. Yang mulia selir agung menantikan kedatangan kalian," sambut Lian yang berdiri didepan balairung. Dia membungkukkan badan. Mata para bangsawan itu saling lirik. Lalu tak lama menganggukkan kepala.
"Antarkan kami masuk," ucap salah satu gerombolan bangsawan itu. Kepala Lian mengangguk sopan.
"Silakan ikut saya," ujarnya sesopan mungkin. Dia berjalan lebih dulu yang diikuti para gerombolan bangsawan. Langkah mereka tiba didepan tirai tipis. Tampak dari balik tirai ada bayangan seorang wanita. Tidak jelas terlihat wajahnya karena ditutupi tirai. Membuat para bangsawan itu berpikir keras. "Yang mulia selir agung gerombolan bangsawan memasuki balairung," ucap Lian dari balik tirai.
"Antarkan mereka kemari," titah Li Jihyun.
"Baik yang mulia," jawabnya patuh. Dia menyibak tirai berwarna merah tipis itu. Menatap sekilas ke arah para bangsawan. "Silakan masuk tuan dan nyonya. Yang mulia selir agung sudah menunggu kalian," ucap Lian dengan pandangan tertunduk.
Mereka saling lirik lagi sebelum melangkah masuk. Satu per satu gerombolan itu berada di balik tirai. Mereka membungkuk hormat saat berhadapan dengan Li Jihyun. Gadis yang memakai hanfu berwarna merah itu sudah duduk santai didepan mereka.
"Kalian pasti lelah. Silakan duduk. Aku sudah menyiapkan teh dan beberapa cemilan yang bisa kita nikmati," tawar Li Jihyun sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih kami ucapkan atas kebaikan anda," ucap salah satu gerombolan bangsawan itu sebelum duduk di depan meja yang sudah tersedia. Ada banyak makanan yang terhidang. Terlihat menggiurkan dan lezat. Bangsawan itu saling lirik satu sama lain. Kilatan ketakutan di mata hitam mereka tidak bisa disembunyikan dari pandangan Li Jihyun. Gadis itu tersenyum tipis mengambil cangkir teh.
Mereka pasti curiga dan bertanya tanya mengapa diundang kemari. Apalagi sekarang kaisar sedang tidak ada diistana, batin Li Jihyun menghirup aroma teh. Dia mengembuskan napas pelan. Kepalanya terangkat dan pandangan mengarah ke para bangsawan yang masih takut.
Tak ada satu pun dari mereka menyentuh minuman maupun makanan di meja. "Silakan kalian cicipi makanan dan minuman di meja. Jangan sungkan," tawar Li Jihyun yang disahut senyuman kikuk.
"Terimakasih yang mulia atas jamuannya," ucap salah satu gerombolan bangsawan. Seorang pemuda yang sejak tadi berbicara mewakili gerombolan para bangsawan itu. Li Jihyun menggerakkan tangannya diudara. Tanda menyuruh pemuda itu mencicipi teh terlebih dulu.
Mata pemuda itu melirik kepulan asap dari cangkir teh. Jakunnya terlihat naik turun. "Tenang saja tidak ada racun didalamnya," ujar Li Jihyun sambil tertawa membuat pemuda itu tersenyum kikuk.
Apa terlihat sejelas itu? pikir pemuda itu meraih cangkir teh. Matanya melirik para bangsawan yang justru menatap ke arahnya. Mereka terlihat menunggu sesuatu. Dia menghela napas berat. Jangan bilang mereka menjadikan juru cicip, batin pemuda itu kesal. Dia mendekatkan cangkir teh kebibirnya.
Aroma teh yang wangi membuat pemuda itu tanpa sadar tersenyum. Dia meneguknya sedikit. Begitu cairan teh itu didalam mulutnya. Sontak mata pemuda itu berbinar. Tubuhnya seolah melayang merasakan kenikmatan teh. Rasa teh yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata membuat pemuda itu sekali lagi tanpa sadar menghabiskannya.
"Enak. Tidak. Ini sangat enak. Sampai aku tidak bisa jelaskan bagaimana kelezatan pada teh ini," ujar pemuda itu membuat para bangsawan langsung beralih menatap cangkir teh mereka.
Li Jihyun tertawa pelan. "Tentu saja. Aku mendapatkan teh itu dari luar negeri. Di negeri yang sangat jauh," ujar Li Jihyun membuat mereka mangut mangut. "Nah kalian jangan sungkan. Silakan dinikmati. Teh dan cemilan hari ini kuhidangkan untuk kalian semua," ujar Li Jihyun membuat para bangsawan itu mulai berani meneguk teh yang terhidang di meja. Ditambah pemuda yang mewakili mereka tidak mengalami keanehan.
Bahkan dia sekarang mencomot kue kering yang dihidangkan Li Jihyun. Terlihat wajahnya menikmati kue itu.
Reaksi bangsawan itu sama seperti pemuda itu. Rasa teh yang nikmat membuat mereka tak berhenti memuji Li Jihyun. Gadis itu terlihat menikmatinya hingga makanan dan minuman yang terhidang sudah habis.
Gerombolan para bangsawan itu terlihat kekenyangan. Mereka mengucapkan banyak terimakasih atas hidangan Li Jihyun. "Maaf yang mulia selir agung jika saya bertanya dengan lancang," ucap pemuda itu lagi begitu hidangan sudah habis.
Pemuda itu melirik gerombolan bangsawan yang lain. Mereka sedikit menganggukkan kepala membuat pemuda itu menarik napasnya. "Saya Lu Tiong mewakili gerombolan ingin bertanya maksud anda mengundang kami kemari?" tanya pemuda yang bernama Lu Tiong.
Li Jihyun tersenyum tipis. Dia menggeser posisi duduknya yang semula bersandar kini condong ke depan. Gadis itu menopang dagunya. "Apakah kalian akan mendukungku jika menjadi kaisar?" tanya Li Jihyun langsung ke inti yang mengejutkan semua gerombolan bangsawan. Mereka berseru heboh mendengarnya.
"Apa maksud yang mulia selir agung ingin menggulingkan takhta yang mulia kaisar?" tanya Lu Tiong memastikan. Sejujurnya dia takut gadis didepan mereka menganggukkan kepala.
"Apa kamu meragukanku menjadi kaisar?" tanya Li Jihyun membuat Lu Tiong terdiam. Gadis itu menatapnya lekat menunggu jawaban Lu Tiong.
"Yang mulia selir agung maaf jika menyela. Tapi bagaimana bisa seorang perempuan menjadi kaisar? Langit akan murka jika yang mulia nekat jadi kaisar," sela wanita renta yang duduk disudut balairung.
Atensi Li Jihyun beralih ke arahnya. Tapi wanita renta itu tidak takut. Meski pandangannya tertunduk tapi keberanian yang dimilikinya terasa berkobar.
"Aku tidak peduli asal bisa menjadi kaisar. Sekarang pilihlah antara mendukungku menjadi kaisar atau Long Jian?" tanya Li Jihyun menimbulkan keributan. Satu dua gerombolan itu mulai mengaitkan dengan gosip yang terdengar heboh di istana.
Posisi kaisar terancam dibuat oleh Li Jihyun. Gosip itu bahkan merembet ke telinga Long Jian. Tapi pria itu tak peduli dan membiarkannya saja. Menganggap bukan bahaya besar. Lagipula mana ada kaisar wanita? Rata rata posisi itu diberikan untuk pria. Itulah yang ada di dalam pikiran Long Jian.
Wanita renta itu bangkit terlebih dulu membuat semua mata kearahnya. Begitu juga Li Jihyun. "Maafkan saya yang mulia. Saya menolak mendukung anda," tolaknya membalikkan badan.
"Kamu akan menyesal sudah menolakku," ucap Li Jihyun yang diabaikan wanita itu. Wanita renta itu hendak menyibak tirai. Tapi tiba tiba sebuah benda tajam menembus leher wanita itu membuat kepalanya jatuh terguling. Darah terciprat keluar menimbulkan suara kehebohan lagi.