Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 12


Melihat kaisar berdiri semua tamu undangan langsung terdiam. Tatapan mereka fokus pada kaisar. Long Jian berdehem lalu membuka gulungan kertas. Matanya menyapu sekitar.


“Hari yang dipenuhi kebahagiaan ini aku mengumumkan ...” Long Jian menjeda perkataannya dan merentangkan gulungan kertas. “... mulai hari ini dan seterusnya selir Li Jihyun diangkat menjadi selir agung,” ujar Long Jian dengan suara lantang. Suara sorakan pun terdengar riuh.


“HIDUP YANG MULIA KAISAR LONG JIAN!”


“HIDUP SELIR LI!”


Sorakan itu terdengar membahana diseluruh aula. Terutama dari faksi barat. Semua tamu undangan membungkuk hormat saat Li Jihyun berdiri. Long Jian menyerahkan gulungan kertas pada Zhang Liu. Matanya kini bertatapan dengan Li Jihyun. Gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit. Seorang dayang istana muncul dari belakang sambil membawa nampan yang dilapisi kain berwarna merah keemasan. Dia membawa tusuk sanggul yang dihiasi emas.


Long Jian mengambil tusuk sanggul dan memberikannya pada Li Jihyun. Gadis itu mengulurkan tangan menerima tusuk sanggul itu. Senyuman terus tersungging dibibir. “Apakah kamu bersedia mengabdi setia pada kekaisaran hingga akhir hayat?” tanya Long Jian.


“Dengan segala hormat saya akan melakukannya meski nyawa sekalipun taruhan,” sahut Li Jihyun membuat tamu undangan bersorak.


Gadis itu mengangkat kepalanya membuat mata mereka saling bertatapan. “Berdirilah,” kata Long Jian yang diangguki patuh Li Jihyun. Gadis itu sudah berdiri tegak dan berhadapan dengan Long Jian.


“HIDUP SELIR AGUNG LI JIHYUN!”


“HIDUP SELIR AGUNG LI JIHYUN!”


“HIDUP SELIR AGUNG LI JIHYUN!”


Teriakan lantang dari tamu undangan terutama dari faksi barat terdengar riuh. Long Jian melirik Li Jihyun yang tersenyum anggun. Gadis yang hebat. Dia bisa membuat pendukungnya sebanyak ini. Aku semakin penasaran apa yang akan dilakukannya nanti? Ini sangat menarik, batin Long Jian tersenyum tipis.


Long Jian menggapai tangan Li Jihyun dan digenggam erat. Li Jihyun sedikit kaget tapi buru buru dia tersenyum menutupi ekspresinya barusan. Dia tak mau terlihat tidak nyaman disentuh oleh Long Jian didepan tamu. Sebisa mungkin dia menunjukkan hubungan mereka harmonis. Long Jian menarik tangan Li Jihyun untuk duduk bersama. Li Jihyun terpaksa mengikutinya meskipun dia sangat risih.


Mereka pun duduk bersama dengan posisi bersebelahan. “Silakan nikmati pesta,” ujar Long Jian membuat suasana pesta semakin meriah. Suara alunan musik terdengar merdu mengiringi gerakan anggun penari. Tamu undangan terlihat menikmati pesta. Sebagian menyaksikan penari dan menikmati jamuan makanan yang tersedia. Sepanjang malam acara itu berlangsung lancar tanpa ada masalah.


...


“Yang mulia selir agung Li saya perkenalkan dayang yang akan mulai bekerja untuk kita,” kata Yona membuyarkan lamunan Li Jihyun. Kepalanya tertoleh ke belakang.


“Jadi mereka yang akan bekerja di paviliun selir agung?” tanya Li Jihyun tersenyum tipis. Ada tujuh orang dayang yang berjejer rapi dengan kepala tertunduk.


“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda yang mulia selir agung Li,” sapa mereka sopan. Matanya memperhatikan  hanfu yang dikenakan oleh ketujuh dayang. Sudah pasti dayang yang dikirim kali ini berasal dari dayang istana.


Huh! Jadi dia mengirim mata mata untuk mengawasiku. Menarik, Batin Li Jihyun menopang dagu. Dia tampak memikirkan sesuatu sebelum bicara. Matanya menatap mereka bergantian. Bagaimana jika aku mengikuti permainannya? Sepertinya belakangan ini hidupku terlalu membosankan, batinnya lagi tersenyum. “Baiklah. Kalian boleh memperkenalkan diri terlebih dahulu.”


“Baik yang mulia selir agung Li,” jawab mereka serempak.


“Biar saya yang lebih dulu memperkenalkan diri. Nama saya Fahrani,” ujar dayang bernama Fahrani yang berada diujung barisan. Li Jihyun mangut mangut mendengarkan.


“Saya Bai.”


“Saya Jiali.”


“Saya Ceng.”


“Saya Lian.”


“Saya Lien,” timpal dayang terakhir yang berdiri disebelah Lian. Dahi Li Jihyun mengerut kebingungan. Nama kedua dayang itu terdengar seperti bunyi yang sama.


“Mereka saudara kembar yang mulia selir agung Li,” celetuk Yona melihat kebingungan di wajah Li Jihyun. Li Jihyun ber oh pelan dan menatap mereka bergantian. Meski kembar tapi wajah mereka tidak terlihat mirip. Dikehidupan sebelumnya kasus seperti itu sering terjadi. Tidak semua anak kembar lahir dengan kemiripan identik. Cuma orangtua yang beruntung bisa melahirkan anak kembar identik.


“Untuk masalah pekerjaan kalian bisa tanyakan pada Yona. Dia akan memberitahukan pekerjaan apa yang harus dilakukan.”


“Baik yang mulia selir agung Li,” sahut mereka serempak.


“Sekarang kalian keluarlah. Yona urus mereka terlebih dahulu.”


“Baik nyonya,” sahut Yona. “Kalian silakan ikut saya. Yang mulia selir Li kami permisi dulu,” pamit Yona yang diangguki Li Jihyun. Yona dan ketujuh dayang itu mengikutinya keluar dari ruang kerja tempat Li Jihyun sering menghabiskan waktu.


Sudah tiga hari dia menduduki posisi selir agung. Selama itu pula tidak ada yang mencari masalah dengannya. Tak ada lagi yang mengucilkan karena posisinya lebih tinggi dari mereka. Kebanyakan dayang bahkan membungkuk hormat padanya. Begitu juga selir yang ada dipaviliun selir. Pandangan mereka selalu tertunduk ketika berhadapan dengan Li Jihyun. Semua orang sekarang menghormatinya. Tak ada lagi yang berani menyinggungnya.


Li Jihyun menatap keramaian dari jendela. Beberapa selir dan dayang hilir mudik. Sejauh mata memandang dia bisa melihat paviliun selir yang tak jauh dari tempatnya tinggal. Suasana sekitar paviliun tidak pernah sepi kecuali malam. Mata Li Jihyun menangkap perkumpulan selir yang duduk santai menikmati teh. Mereka terlihat mengobrol di taman yang tak jauh dari paviliun. Senyuman tersungging dibibir.


Dia pun bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Yona yang sedang dilorong menyapa Li Jihyun dengan sopan. Tak lupa membungkuk hormat. “Salam yang mulia selir agung Li anda mau kemana? Apakah perlu saya temani?” tanya Yona dengan sopan.


“Kebetulan kamu disini. Temani aku jalan jalan dulu,” ujar Li Jihyun yang diangguki patuh Yona.


“Baik yang mulia selir agung Li,” sahutnya mengikuti langkah Li Jihyun keluar dari paviliun. Dia berjalan dengan anggun menuju taman. Senandung riang mengalun dari bibir mungilnya begitu melihat gerombolan selir dari kejauhan. Langkahnya berhenti tepat di depan perkumpulan selir itu.


“Selamat pagi semuanya,” sapa Li Jihyun mengalihkan pandangan selir yang sedang berkumpul. Sontak selir dan dayang yang berada disitu membungkuk hormat.


“Selamat pagi yang mulia selir agung Li,” sahut mereka serempak. Li Jihyun tersenyum lebar.


“Angkat kepala kalian,” mereka saling lirik lalu mengangkat kepalanya. Mata Li Jihyun menyapu sekitar mencari seseorang. Tapi orang yang dicarinya tidak terlihat. Sepertinya Hai Rong tidak bergabung dalam perkumpulan mereka. “Apa aku boleh bergabung bersama kalian?” tanya Li Jihyun ramah.


“Te-Tentu saja. Silakan yang mulia selir agung Li,” ucap salah satu selir menepi. Memberikan ruang untuk Li Jihyun duduk. Li Jihyun pun duduk pada kursi yang disediakan. “Dayang ambilkan kursi baru lagi.”


Tak lama dayang datang membawakan kursi dan menaruhnya tak jauh dari Li Jihyun. “Kalian duduklah,” ujar Li Jihyun menggerakkam tangannya ke bawah. Mereka saling lirik lagi sebelum duduk di kursi.